Hari itu, tepatnya pada saat jam makan siang aku melihatmu di kantin. Tampaknya kamu sedang sibuk mengerjakan tugas akhir aku berharap kamu tidak ingin cepat merampungkannya. Mengapa? Itu berarti kamu tidak akan lagi datang ke kampus dan aku akan kehilangan dua bola mata yang meneduhkan penuh wibawa itu. Maaf.

Nafsu untuk melahap suapan demi suapan menu makan siangku sungguh menggebu. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa amat lapar dan penuh semangat melahapnya. Sesekali ku lirik wajah tampanmu, hai pemilik dua bola mata yang meneduhkan. Hari ini tepat tiga meter di depanku, meja nomor tiga setelah meja yang kutempati bersama ketiga temanku.

Aku bisa memandangmu lama sekali, memerhatikan gerakan tanganmu, tundukan kepala yang mengisyaratkan kesungguhanmu dan tahi lalat kecil di dagumu namun dengan jelas aku dapat melihatnya. Aku mengakui, mataku sedikit pun tak ingin melewatkan gerak gerikmu. Aku tahu kau pun sempat melihatku siang itu. Ya! Aku yakin!

Lama aku menyimpan rasa kagum terhadapmu, entahlah sekilas kamu tampak biasa saja. Dengan postur tubuh yang tinggi, tidak kurus, hidung mancung dan warna kulit kuning langsat. Sesekali kau menyibakkan rambutmu yang sengaja kau panjangkan, meskipun model rambutmu bukanlah model terkini seperti kebanyakan cowok lainnya. Tapi aku tetap menyukaimu. Tidak hanya dua bola matamu yang menjadi pemuas rasa kagumku terhadapmu, gigi gingsulmu membuat jutaan neutron dalam otakku sekilas melemah. Aih…! aku ingin mengenalmu lebih dekat.

Berkali-kali aku stalking Instagrammu. Padahal sebenarnya aku tahu isi Instagrammu lebih banyak karyamu daripada foto pribadi atau foto kebersamaan dengan sahabatmu. Aku rela menunggu malam tiba agar aku bisa menikmati video karyamu di Youtube tanpa menunggu loading yang lama. Sebuah pengakuan dariku, aku mengagumimu !

Advertisement

Entahlah sejak saat itu aku lebih menyukai siang, dan betah berlama-lama duduk di kursi kantin padahal makanan dan minumanku sudah habis tak tersisa, tebak mengapa. Semata melihatmu dengan sangat leluasa meskipun dari jarak yang tidak dekat. Senyummu menjadi suntikan semangat yang begitu berarti dengan lesung pipit di pipi kirimu. Aih….! Seandainya siang itu aku bisa makan siang bersamamu.

Sosok sederhana dan ketenanganmu ternyata mampu mencuri perhatianku, setelah setahun lebih kiranya aku menutup hati. Ya, setahun yang lalu setelah orang yang amat ku kasihi pergi meninggalkanku.

Terimakasih karena sosok sederhanamu yang secara tidak langsung menjadi penyemangatku, semoga goresan luka yang dibuat amat sempurna ini akan sembuh seperti sedia kala seperti sebelum aku mengenalinya. Untukmu pemilik nama dengan dua huruf awal yang sama denganku. FA!