Pesona indahnya alam selalu membawa kesan mendalam di setiap kalbu-kalbu penjelajahnya. Antusiasme para pendaki gunung baik yang sudah malang melintang ataupun yang baru belajar menjejakkan kakinya, seolah tak pernah surut. Surga-surga tersembunyi kini tak lagi malu-malu menampakkan pancaran keindahan raganya.

‘Fitur komplit’ yang dimiliki oleh sebagian besar penjelajah tak dipungkiri ikut mendukung penampakan keindahan tersebut. Tak mau kalah dengan wisata alam yang sudah memasyarakat, yang selalu dibanjiri pelancong ketika musim liburan tiba. Kini kecantikan alam yang tersembunyi pun tak lagi sepenuhnya bersembunyi. Saat ini mereka ikut ‘tebar pesona’ dengan mengeksiskan diri kepada dunia melalui situs-situs jejaring sosial.

Gunung, pantai, danau, gua, situs sejarah dan lain sebagainya merekalah yang di jadikan pelarian oleh para pencari kesenangan, yang penat dalam menjalani rutinitas. Tak dipungkiri alam selalu menjanjikan sejuta khasiat bagi para pesakit, sejuta inspirasi bagi para pujangga, sejuta ketenangan bagi mereka yang lelah, dan sejuta rasa syukur bagi setiap insan, karena disanalah mereka merasakan kebesaran Tuhan.

Mencari surga tentu bukan perkara semudah membalikkan telapak tangan. Pidi baiq (penulis) pun pernah menulis dalam salah satu tweetnya : “Bahkan untuk masuk surga pun kita harus mati dulu”.

Jika bisa menganalogikan hal tersebut dalam pencarian surga ‘kecil’ yang masih ‘malu’ menampakkan dirinya, tidak berlebihan rasanya jika para penjelajah harus bersusah payah dulu sebelum sampai ke tempat dimana mereka berada. Beratnya beban carrier di punggung, susahnya medan perjalanan, belum lagi harus merelakan putus kontak dengan orang-orang tercinta karena hilangnya sinyal komunikasi, seolah terbayar dengan penampakkan kesempurnaan ciptaan Tuhan itu.

Advertisement

Alam membayar keletihanmu melalui pesona dan sumber daya yang mereka miliki. Layaknya seorang sahabat yang selalu mengerti apa yang kamu butuhkan, mungkin tak salah menamainya persahabatan. Persahabatan yang terjalin secara alami karena diikat langsung oleh Sang Pemilik keduanya. Sahabat yang dikirimkan langsung oleh Tuhan itu memiliki bentangan tangan seluas samudra, yang siap memeluk erat para pengunjungnya.

Sahabat itu memiliki bahu selebar jajaran bukit-bukit yang seolah siap menjadi sandaran untuk keluhan para pencarinya. Dibuktikan oleh waktu bahwa alam adalah sahabat yang tak pernah ingkar janji. Kodrat diciptakannya mereka untuk selalu melayani manusia di tunaikan dengan ikhlas. Bentuk pelayanan alam kepada manusia tak hanya dengan sumber dayanya yang merupakan sarana bagi manusia, tetapi juga memori-memori kebahagiaan yang tak habis-habis untuk diceritakan ketika menjamahnya.

Sebaliknya Sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna apa yang telah kamu berikan untuk alam itu sendiri? Alam tak pernah meminta balasan atas apa yang mereka berikan. Manusia hanya harus bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan alam ini.

Bagaimana bentuk syukur itu sendiri? Tentu saja dengan menjaga alam ini dengan sebaik-baiknya. Walau tidak bisa dipukul rata, sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan manusia sendirilah yang menyebabkan kerusakan pada alam.

Sampah yang tertinggal di gunung dan di pantai, penangkapan ikan dengan menggunakan bom, atau penggundulan hutan yang menyebabkan kekeringan dimana-mana sudah jamak kita dengar, hingga mungkin membuat telinga kita terbiasa. Bisa jadi hal itu yang menginspirasi Erick Weiner membuat quote yang dikutip kembali oleh Afifah Afra (Penulis) dalam postingan Facebooknya

“Ketika Pohon Terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, ketika ikan terakhir ditangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang”

Manusia yang memiliki yang memiliki akal tertinggi dibanding makhluk hidup lainnya dituntut untuk menjadi bijak dalam mengolah dan menikmati kekayaan alam Bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk diri kita sendiri. Agar warisan kita kelak tak hanya berupa cerita dan gambar. Agar ‘tradisi’ menjelajahi surga-surga tersembunyi bisa diteruskan oleh anak cucu kita. Hingga semakin banyak ‘sahabat’ baru yang ditemukan dan dikenalkan keseluruh pelosok dunia. Dan juga agar indahnya surya yang terbenam tetap bisa kita syukuri bersama-sama.

Sudah banyak kisah para pejuang kelestarian alam sukses dalam menjalankan misinya. Adalah Mbah Sadiman yang perlu waktu 19 tahun untuk membuat lingkungannya menjadi hijau dan tidak kekeringan lagi. Pahlawan penghijauan asal Wonogiri itu terus menerus menanam pohon beringin sebagai pohon pengikat air ketika menyadari warga desa dan ternaknya mengalami kesulitan air bersih dan lahan pertanian yang terus kering.

Bukan hal singkat dan mudah tentunya, karena Ia sendiri yang harus turun tangan dalam menanam dan merawat pohon-pohon tersebut. Kini buah dari perjuangan beliau tak hanya dinikmati oleh dirinya sendiri tetapi lebih dari satu kampung yang menikmati limpahan air bersih, tak ada lagi ancaman kekeringan jika kemarau tiba. Itu baru oleh satu orang, bagaimana kalau separuh dari manusia didunia juga melakukan upaya seperti yang dilakukan oleh Mbah Sadiman? Pasti menimbulkan manfaat yang besar bukan?

Mungkin kita tak bisa seperkasa Mbah Sadiman, tetapi momentum 22 April yang diperingati sebagai hari bumi. Bisa menjadi langkah awal kita untuk berpartisipasi menjaga alam, menjaga sahabat kita, menjaga sesama ciptaan Tuhan.

Banyak cara menjaga alam. Walaupun sederhana tetapi quote terkenal dari Baltimore Grotto dan sudah sangat familiar dikalangan para penjejajah terutama penjejah Gua

“Take nothing but pictures. Leave nothing but footprints. Kill nothing but time“ bisa di jadikan acuan bagaimana menjaga alam dengan cara yang sangat sederhana dan semua orang pasti bisa melakukannya. Biarkan jejak kaki itu tertinggal, dan biarkan arus ombak sendiri yang menghapusnya.