Sukses masih menjadi hal yang sangat favorit untuk dibicarakan. Bukan tanpa sebab. Sukses sendiri memiliki tempat di hati dan pikiran setiap manusia karena kita, selalu ingin meraih apa yang belum kita miliki. Hidup enak seperti yang kita inginkan, bisa jalan-jalan keluar negeri, punya tabungan miliaran rupiah, dan harapan-harapan lain yang belum terwujud. Sebenarnya kita semua tahu sukses tidaklah datang dalam satu malam, hanya saja banyak dari kita yang masih terjebak dalam angan-angan yang salah.

Dalam dunia profesional, dunia pekerjaan, telah jelas jika kita ingin mahir dalam satu hal, setidaknya kita meluangkan waktu yang lebih banyak dari kegiatan kita yang lain. Jika dalam buku non-fiksi karya Malcolm Gladwell yang berjudul Outliers dijelaskah bahwa untuk menjadi seorang yang ahli, dibutuhkan waktu setidaknya 10.000 jam latihan. Tentu 10.000 jam ini bukanlah dilakukan tanpa henti. Tapi angka hasil akumulasi latihan kita setiap hari. Benarkah demikian?

Walau hasil observasi Malcolm sendiri cukup usang (ketinggalan zaman), namun teori yang dikemukakannya tidak dapat dibantah dengan mudah. Sudah sering kita lihat, seorang anak yang lahir dari keluarga musisi, akan lebih cepat menjadi musisi dibandingkan saat sang anak mengambil pilihan profesi yang lain. Kita menyebutkan bakat. Hanya saja, bakat tidaklah cukup. Tidak selalu anak musisi akan mengikuti jejak orangtuanya. Sehingga latihan hingga mencapai 10.000 jam itu adalah bukti siapapun yang ingin berhasil dan ahli dalam satu bidang tertentu, dapat melakukannya.

Kita coba dengan perhitungan matematika sederhana ya. Seandainya kita punya waktu berlatih secara serius 2 jam perhari dari hari senin hingga hari jumat. Butuh berapa lama untuk sampai 10.000 jam?

2 (jam) x 5 (hari) x 4 (minggu) = 40 jam.

Advertisement

Jika 10.000 dibagi dengan 40 jam, kita dapati 250 hari. Tidak sampai satu tahun kita setidaknya mampu menjadi ahli disatu bidang. Lantas mengapa kita masih saja merasa tidak/belum sukses? Padahal dipastikan kita telah melampaui batas minimal yang telah dijelaskan oleh Malcolm.

Kurangnya Keinginan yang Sungguh-sungguh

Ternyata, observasi dan teori Malcolm saja masih kurang menjawab apa yang kita gelisahkan. Lalu kita beranjak pada sosok Matt Cutts. Bisa kalian lihat foto diatas, Matt Cutts adalah seorang teknisi yang bekerja di Google yang merasa dirinya bosan dengan kegiatannya sebagai seorang teknisi. Lalu mencoba untuk memiliki kebiasaan baru diluar dari aktifitasnya sebagai seorang teknisi.

Singkat kata, Matt memiliki cara sederhana untuk menciptakan kebiasaan baru yang bisa menjadi salah satu jalan meraih kesuksesan. Dari pengalamannya, Matt mencoba untuk menulis sebuah karangan fiksi berupa novel dalam waktu 30 hari. Ya, Matt melakukannya dan berhasil. Tapi tentu novel Matt tidaklah sebanding dengan novel sekelas J.K. Rowling. Dari kedua orang yang berbeda, Matt dan Malcolm, kita bisa mencoba menggabungkan pengalaman mereka menjadi satu kesimpulan yang bisa kita praktekkan. Yaitu, cobalah untuk sukses di 30 hari pertamamu, lalu lanjutkan kembali di 30 hari yang kedua. Kita hanya kurang yakin dan kurang bersungguh-sungguh.

Semua Orang Punya Cobaannya Masing-masing

Jika dari Matt dan Malcolm saja sudah bisa membuktikan bahwa seseorang mampu mahir dan sukses di bidang yang dipilihnya, kenapa kita masih terus mencari alasan untuk menolak melakukannya? Setiap orang memiliki masalahnya sendiri. Bagi Matt mungkin masalahnya adalah dia harus terus fokus menjadi teknisi dan bukan menjadi novelis. Sehingga 30 hari memulai kebiasaan barunya cukuplah sampai disitu.

Cukupkan mengeluh dan mulailah kembali membangkitkan semangat untuk terus mencoba. Bahkan musisi, penulis, arsitek, dokter, guru, dan segala macam profesi jika telah mencapai suksesnya, harus terus mempertahankannya atau meningkatkannya lagi dari sebelumnya. Kita tidak pernah tahu pengalaman orang lain hingga mereka sampai ditempatnya sekarang ini, tapi kita juga tidak punya waktu untuk memikirkannya. Pikirkanlah lagi sebelum memilih untuk berhenti mencoba.

Jalani Saja, Santai atau Tidak, Jangan Sampai Berhenti

Berlanjut seperti poin kedua. Saat kita telah sadar untuk tidak berhenti mencoba, jangan pikirkan lagi untuk berhenti. Ya, kita mungkin beristirahat, sabtu minggu memikirkan dan melakukan hal lain. Tapi kita mulai lagi di hari senin. Santai saja. Dalam teori Malcolm banyak kekurangan seperti ada saja orang yang belum mencapai 10.000 jamnya sudah menemukan suksesnya. Atau malah sebaliknya ada orang yang sudah lebih dari 10.000 jam tapi tetap saja suksesnya tidak teraih.

Baik teraih atau tidak suksesmu, jika kamu tidak berhenti maka kamu telah menjadi mahir. Ada pepatah mengatakan, jika harapanmu tidak sampai ke bintang, mungkin saja sudah sampai di awan, hanya saja tidak kamu sadari. Untuk itu, jalani dengan serius, jalani dengan santai, nikmati setiap cobaan dalam latihanmu, maka kamu sudah siap untuk tidak menyesali apa yang kamu perbuat di masa depan. 10.000 jam bisa jadi satu tahun yang harus kamu maksimalkan agar kamu paham bahwa kamu bisa menjadi seperti apa yang kamu inginkan.