Banyak orang berprinsip “Biarkan HIDUP seperti air yang mengalir”. Itu, prinsip yang belum tentu tepat. Justru menjadi priinsip dan ungkapan yang “tidak punya energi”. Terlalu pasrah dan menafikkan ikhtiar. Mengapa tidak tepat? Hidup adalah anugerah Allah SWT dan setiap kita memiliki potensi untuk “mengarahkan” hidup ke arah yang lebih baik, agar maslahat dunia lalu akhirat.

Membiarkan hidup bak “air mengalir” terlalu pasrah. Air mengalir ke tempat yang rendah. Pasrah, tak mau berbuat apa-apa. Air yang mengalir juga terlalu senang “dihalangi” bebatuan berkali-kali, tak mampu mengambil hikmah. Agak sulit untuk maju bila hidup bak air mengalir. Just follower, bukan creator. Kurang punya ambisi. Hanya sekedar hidup, tanpa rencana yang jelas, bahkan arahnya gak bida diduga. Iya gak?

“Hidup seperti air yang mengalir” sering dijadikan dalih untuk menyerah terhadap keadaan. Merasa sudah berbuat banyak padahal belum otimal. Kesulitan dianggap tak ada obatnya. Terlena pada kesusahan sesaat. Selalu gelisah pada masalah. Bahkan merasa tidak mungkin mengerjakan dua tiga pekerjaan dalam satu waktu. Akhirnya, keadaan dianggap jadi biang kerok.

Kita sering bilang “gak punya waktu buat nulis; gak punya laptop susah; ada acara lain, jadi gak bisa datang; saya ikut aja apa yang diputuskan, dan semacamnya”. Kita punya banyak aktivitas, tapi di saat yang sama sering menyalahkan keadaan itu.

“Hidup seperti air mengalir”, tak lain hanya mengajarkan kita untuk melakukan pembenaran terhadap keadaan kita sendiri. Dan akhirnya, “kalah sebelum bertanding”. Tak punya obsesi, tak punya visi ke depan.

Advertisement

Jadi, jangan lagi kita “hidup seperti air mengalir”. Hiduplah dengan visi dan obsesi karena ia menjadi “bunga” hidup kita. Hidap butuh sikap, butuh tekad. Selagi di jalan yang sudah benar, hadapi setiap masalah. Lalu, gunakan kreativitas kita untuk memacu dan menyesuaikan sikap dan tindakan kita. Sesuatu yang baik dan positif dalam hidup kita adalah kita yang menciptakannya, bukan mengikuti apa yang ada.

Jika perlu, kita ubah saja “air yang mengalir ke arah yang lebih tinggi atau kita lawan arus air itu”. Bukankah jalan hidup kita dapat kita kendalikan sendiri, itulah ikhtiar. Ingat, kita tidak bisa mengubah takdir dari-Nya, tapi kita bisa mengubah nasib kita. Untuk mengalirkan air ke tempat yang lebih tinggi atau melawan arus air, kita butuh energi dan motivasi yang lebih kuat dari sekarang.

Hari-hari ini, banyak orang menyalahkan keadaan. Mudah galau dan meratapi keadaan. Lebih senang berkeluh-kesah. Tinggalkan saja keadaan yang tidak produktif semacam itu. masih banyak urusan dan lakon yang bisa kita perbuat. Katanya "hidup tak selebar daun kelor". Tak usah terpengaruh oleh hal yang negatif, tidak produktif.

Hari ini, bahkan esok kita lebih butuh sikap dan tujuan yang jelas. Bersikap tegas atas hal yang kita alami. Bersikap untuk hari depan kita. Mau ke mana kita? Maka, kita butuh energi yang kuta, jauh lebih besar dari "air mengalir". Karena kita punya potensi yang luar biasa dari Allah SWT. Tinggal kita, mampu atau tidak mengoptimalkannya.

Energi yang kita miliki adalah kekuatan. Motivasi kita yang besar pasti menjadikan kita pribadi yang kuat. Itu semua modal yang ada pada diri kita. Tanpa perlu pengaruh dari orang lain. Agar kita bisa lebih baik di hari ini, juga esok. Bahkan lebih dari itu, energi dan motivasi besar kita juga dapat menggerakkan kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Jika begitu, insya Allah makin berkah dan makin maslahat.

Maka sekarang, katakanlah “kita tak ingin membiarkan hidup seperti air yang mengalir”, tapi “kita akan mengubah arus air ke tempat yang seharusnya ia mengalir”. Kita yang mengkreasikan air itu menjadi indah dan bermakna. Kita juga yang harus memilih dan mengendalikannya …. Bergerak dan berbuatlah agar "air tidak mengalir seperti yang ia mau, tapi kita yang mengarahkan ke mana ia harus mengalir?" Siap laksanakan !! #JanganHidupSepertiAirMengalir