Judul yang tertulis di atas mungkin terdengar agak vulgar. Padahal sebenarnya saya hanya ingin beropini secara logis dan realistis. Terutama berkaitan dengan konsep diri atau gambar diri yang semakin lama semakin terbentuk karena pengaruh media. Bahwa seorang wanita yang cantik itu berkulit putih, langsing, tinggi dan….ditambah lagi ketiaknya juga harus bersih (putih/cerah).

Penggiringan pendapat mengenai standar kecantikan wanita bukan hanya melalui iklan, tetapi juga lewat film-film yang umumnya dibintangi aktris dengan standar demikian (kecuali mungkin masalah ketiaknya).

Pada iklan yang mempromosikan produk kecantikan wanita, digambarkan beberapa bintang iklan, yang secara fisik kelihatan menarik, tampak kecewa ketika menyadari bahwa ketiaknya tidak putih bersih. Ia kelihatan minder. Padahal saya (dan mungkin beberapa pria lainnya akan berpikiran sama) tidak akan mempermasalahkan hal tersebut bila si wanita menjadi pasangan saya.

Apakah sedemikian pentingnya penilaian fisik terhadap seseorang ? Menurut saya bisa ya, bisa juga tidak. Untuk ukuran tubuh, tentunya akan lebih baik bila mengikuti ukuran ideal dari sisi kesehatan, seperti tidak memiliki berat berlebih, karena kelebihan berat badan umumnya terkait dengan timbulnya penyakit-penyakit yang tidak diharapkan.

Sisanya menurut saya lebih menyangkut pada menjaga kebersihan tubuh. Mengenai warna kulit, sebenarnya ini masalah bawaan lahir kan? Justru malah aneh bila kulit yang tidak putih harus diputihkan. Biayanya sangat mahal, dan terlihat aneh. Saya bisa membedakan mana yang memang putih alami dan yang polesan. Yang polesan biasanya memang agak aneh, putihnya terlalu putih seperti dicat.

Advertisement

Kembali kepada judul, bila sampai warna ketiak dijadikan ukuran dalam menilai konsep diri , saya rasa itu sudah agak kelewatan. Orang yang menilai orang lain atau diri sendiri dari warna ketiak, pastinya memiliki masalah dalam rasa percaya diri, atau sesuatu yang lain menyangkut kesehatan jiwanya. Ketiak sudah diposisikan Sang Pencipta berada di tempat yang agak tertutup.

Di sana, juga terdapat jaringan penghasil keringat yang cukup banyak. Secara alami warnanya bisa berbeda dengan warna kulit secara keseluruhan.

Menyangkut posisinya yang agak tertutup, menurut saya , wanita tidak perlu terlalu khawatir dengan warna ketiaknya. Karena saya yakin sebagian besar laki-laki tidak akan terlalu memperhatikan bagian tubuh tersebut. Ketiak bisa dijadikan prioritas entah yang ke berapa. Tidak pernah ada dalam sejarah perjalanan hidup saya, ada wanita yang diputuskan atau diceraikan hanya karena masalah ketiak.

Juga tidak ada wanita yang diterima atau dicintai karena faktor ketiaknya. Saat laki-laki berkomentar mengenai gebetannya , mereka tidak pernah memberikan pendapat mengenai ketiak pujaan hatinya.

Kalau tidak percaya silahkan diuji kebenarannya. Ketika seorang laki-laki atau perempuan menonton film tertentu, entah apapun filmnya, tanyakan komentar mereka mengenai para aktor atau aktris yang ada di film. Pasti tidak ada yang mengomentari ketiak si pemain film (kecuali bila ada sesuatu yang kurang wajar disana menurut standar keetisan).

Saat menonton Mission Impossible terbaru, yang dikomentari pasti aksi Tom Cruise, yang walaupun sudah berumur tetapi masih bisa beradegan laga. Begitu juga saat menonton film yang dibintangi Nikita Mirzani, pasti yang dikomentari hal lain di luar masalah ketiak.

Intinya penampilan fisik bisa jadi mengambil porsi yang penting dalam hidup kita. Tetapi bila sampai hal-hal yang kurang prioritas (ketiak, warna kuku, bentuk alis) menjadikan seorang wanita kurang percaya diri, saya rasa ini menjadi hal yang kurang tepat dan patut diberi pencerahan (jiwanya, bukan ketiaknya). Dan melalui tulisan ini saya berharap pencerahan tersebut bisa didapatkan.

Dan benarkah inner beauty itu sudah tidak berlaku?

Dari sudut pandang saya, sebenarnya hal tersebut masih berlaku. Namun seringkali orang yang menganggap fisiknya kurang menarik memilih untuk bersikap minder dan rendah diri, yang jelas-jelas akan menutup inner beautynya.

Sikap rendah diri bisa tergambar dari ekspresi jutek (karena menganggap semua orang melihat dirinya jelek, padahal tidak demikian) atau sebaliknya over acting (berusaha menarik perhatian dengan cara yang salah sebagai bentuk kompensasi sesuatu yang dianggapnya kurang).

Ingat, tidak akan pernah ada manusia yang sempurna. Dalam hal ini, seorang teman saya pernah memberi kata-kata yang menarik

seganteng-gantengnya David Beckham kentutnya pasti bau

Pepatah ini bisa diganti menjadi Secantik-cantiknya ……..(isi dengan nama aktris perempuan) kentutnya pasti bau.

Sebagai penutup, tanpa mengurangi rasa hormat, tidak ada maksud dari tulisan ini untuk menjatuhkan pasaran produk pemutih (pencerah) atau pembersih ketiak. Sekali lagi tulisan ini hanya mencoba untuk mengingatkan mengenai konsep diri yang sehat dan tidak menelan mentah-mentah anggapan yang dibentuk oleh iklan atau film.

* sebagai catatan , tulisan ini tidak hanya berlaku untuk wanita, bisa juga untuk laki-laki yang merasa rendah diri karena ketiaknya tidak berwarna cerah.