“Minggu besok kemana nih,,? Kesini sudah, kesana sudah, kesitu juga sudah..” lalu galau

Jangan bilang kamu belum pernah mendengar temanmu atau orang-orang disekitarmu mengatakan hal itu. Atau malah justeru dirimu sendiri yang acap kali mengatakannya. Tiada hari Minggu yang terlewat tanpa jalan-jalan. “Nge-Trip”, katanya. Lalu, ketika akhirnya terpaksa menghabiskan hari libur di rumah karena orang tua tidak memberikan uang saku, tidak ada teman, atau cuaca buruk, dalam hati akan mendongkol setengah mati. Menghabiskan waktu di rumah benar-benar tidak ada keren-kerennya sama sekali menurutmu.

Keren?

Nah, ini dia yang aneh dari para traveller kekinian. Jadi travelling itu hanya demi terihat keren?  Maka tak heran kalau esensi dari travelling adalah dokumentasi yang berupa foto-foto dan video. Kadang kita kehilangan kesempatan untuk menikmati syahdunya deburan ombak dan lembutnya terpaan angin.

Kita sering melewatkan banyak informasi berharga hanya karena satu hal yang mungkin penting tapi entah seberapa kadar pentingnya, yakni dokumentasi. Tidak ada dokumentasi dari ”Nge-Trip” yang dilakukan ibarat sayur yang tanpa garam. Hambar… Setelah itu pasti tahu kan kemana ending dari dokumentasi tersebut? Mereka akan nangkring di facebook, Instagram, twitter, snapchat, atau sekedar menjadi Display Picture WA atau BBM.

Advertisement

Wahai anak muda produktif,,

Tidak ada yang salah dengan postingan-potingan tersebut. Media sosial memang memiliki andil yang besar dalam mempopulerkan suatu obyek wisata. Barangkali postinganmu turut berkontribusi dalam perkembangan pariwisata di suatu daerah. Meskipun kamu tidak dibayar, meskipun kamu tidak terlalu dikenal, meskipun harus berkorban banyak hal demi bisa travelling setiap akhir pekan. Tapi yang sedikit disayangkan disini adalah, apakah harus setiap akhir pekan? Apakah seimbang pengorbananmu demi tarvelling dengan manfaat yang didapatkan?

Ini bukan tulisan nyinyir seorang insan kurang piknik. Ini hanyalah sebuah opini tentang betapa berharganya waktu. Saya yakin tidak semua orang akan menjadi Host acara Trip seperti Nadine Chandrawinata, David JS, atau Marshal Sastra. Tidak semua orang akan menjadi  'travel blogger' seperti Duo ransel dan A border that Breaks. Mungkin kelak Ada yang akan seperti Wiliam Tanuwijaya, Ipho Santoso, Andrea Hirata, Tere Liye atau Merry Riana. Rasanya tidak mungkin jika dulunya mereka piknik tiap akhir pekan.

Intinya, jangan latah jadi traveller. Kenalilah dirimu. Dunia kini semakin dipenuhi dengan orang-orang hebat, dan kamu harus jadi salah satunya. Jadilah hebat dengan bakatmu. Tanyakan pada dirimu apakah benar bakatmu ada disana. Jika memang bukan, temukan bakatmu. Berbicara soal bakat, tentu ia jauh berbeda dengan mukjizat. Ia tak secara tiba-tiba ada padamu tanpa dicari dan diasah.

Hal tersebut tidak serta merta membuat travelling menjadi buruk bagimu. Bukan demikian. Travellinglah secukupnya. Poles bakatmu sekeras-kerasnya.