Ada masa dimana kita perlu rehat sejenak dari hiruk pikuk, mengajak diri masuk dalam hening. Merenungi hal-hal yang telah berlalu, bukan untuk menyesali tapi melihat diri lebih dalam. Bukankah sejarah adalah bagian penting untuk melihat diri kita. Memori-memori seperti jejak langkah kaki di pasir pantai, ada yang terhapus oleh ombak dan ada yang tetap tertinggal. Yang tertinggal dan membekas kuat adalah jejak langkah kaki yang terbenam cukup dalam di pasir sehingga ia tak mudah terhapus dari ombak yang menjilat bibir pantai.

Apa yang telah kita lakukan dalam hidup hampir sama dengan jejak itu, ada yang bisa kita dan orang lain ingat dan ada yang tidak. Bersyukurlah kita yang meninggalkan jejak baik dan dapat diingat oleh diri dan orang lain. Bukankah jejak yang terbenam cukup dalam akan sulit terhapus meski dihantam ombak yang dikirim oleh gelombang berarus tinggi.

Sepanjang hidup kita, ada banyak hal yang ingin kita capai dan itu membuat kita sibuk. Ditambah hubungan yang harus kita jaga dengan baik. Tak ayal segalanya sering menghimpit dan menjadi beban hidup. Di titik berat seperti itu, kita menemukan satu hal penting. Kita kadang terlalu sibuk dan melupakan diri sendiri, terlalu mengikuti keinginan dan lama-kelamaan semakin rakus. Bukankah kita berasal dari hal yang suci, butuh untuk kita selalu kembali pada fitrah kita. Sebelum hidup berakhir, persahabatan yang harus kita bina dengan baik adalah persahabatan dengan diri kita sendiri.