Jiwa seorang pangeran

Sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu, meskipun ketika itu aku masih sangat muda, namun aku masih ingat. Kami adalah keluarga kecil yang tinggal disebuah rumah kontrakkan sederhana dipinggiran kota bersama ayah, ibu, aku, dan adikku laki-laki.

Keadaan ekonomi yang buruk disaat itu membuat ayah dan ibu sama-sama bekerja keras demi mencukupi kebutuhan keluarga, meskipun begitu kami sekeluarga merasa cukup bahagia. Suatu hari ayah pulang membawa sebuah buku, dia bilang, sambil tertawa kecil dihapusnya coretan-coretan didinding dan kursi dengan kain basah, dia membuatku berjanji tidak akan mengotori dinding lagi, aku mengerti maksudnya, tak berkedip kupandangi lembar demi lembar buku itu yang tak lain adalah buku gambar.

Ada gambar istana megah, dilembar lainnya kutemukan barisan tentara dipadang rumput, raja dan ratu dengan mahkota dan jubah mewahnya, kemudian cukup lama kutatap sesosok pemuda gagah, yang kuyakini pasti seorang pangeran. Segera kuwarnai setiap sudutnya sebagus-bagusnya, meskipun saat ini aku bukanlah pelukis, tapi waktu itu mewarnai sudah jadi kegemaranku. Beberapa lama kemudian, setelah makan malam bersama dirumah, kuperlihatkan pada ayah hasil karyaku, setiap lembarnya sudah kuwarnai, ayah mengamati sekilas lembar demi lembar, kuberanikan diriku meminta buku yg baru, tapi ayah malah diam tak bergeming, kemudian dia menunjuk ke gambar pangeran itu dan berkata inilah kamu.

Aku mulai kebingungan, aku seorang pangeran? Lanjutnya lagi menunjuk gambar istana megah itu dan berkata ini rumah kita. Tentu saja aku menolak, aku bukan seorang pangeran, dan ayah bukan raja, kita tidak tinggal diistana, jawabku spontan, tapi hanya membuat ayah tersenyum. Tak lama ibu menghampiri kami dan ikut tersenyum, dia bilang aku dan adikku adalah pangeran. Lalu dimana mahkota ayah dan ibu? Aku tak pernah punya seekor kuda putih yang gagah dan sebilah pedang mengkilat kataku.

Advertisement

Anehnya mereka malah terus tertawa tingkahku. Ditutupnya buku itu lalu ayah menggendong adik kepangkuannya, dengan santai dia mulai menjelaskan, bahwa rumah ini adalah istana kita, ayah dan ibu adalah raja dan ratu meski tanpa mahkota dan jubah sutra yang mewah. Aku terdiam meski tak mengerti sama sekali maksudnya. Lalu lanjutnya, seorang pangeran bukanlah seorang anak laki-laki yang lahir dari keturunan raja, bukan dia yang memiliki paras tampan nan memikat hati setiap gadis dipelosok negri, bukan dia yang mengepalai ribuan pasukan jubah besi, bukan Juga dia yang selalu menunggangi kuda putihnya dengan gagah.

Tidak seperti yang kamu lihat di buku itu. Jadi buku itu bohong? Sanggahku cepat "Tidak, tidak ada yang salah dibuku ini, suatu saat nanti kamu pasti mengerti kata-kata ayah." Lalu, seorang pangeran itu seperti apa ayah?

Apa anak seorang pengemis bisa disebut pangeran? "Begini, seorang ratu hanya melahirkan tubuh dengan status penerus kerajaan, tapi tidak melahirkan hati dan jiwa seorang pangeran yang sesungguhnya" "Tidak penting apa pandangan orang lain, seorang pangeran adalah dia yang melayani sesama tanpa mengenal perbedaan, dia yang selalu menjaga menjaga sikap, tata krama, dan prilaku." Dan yang terpenting, "Seorang laki-laki pantas disebut pangeran adalah karena dia menghormati ayah dan ibunya sendiri bagaikan seorang raja dan ratu, dan dia yang tau bagaimana caranya menghormati, bersikap, dan memperlakukan perempuan yang dicintainya bagaikan seorang tuan putri!" Bagiku kini jelas, kehormatan tidak semata-mata datang karena harta benda, tapi sederhana karena memiliki tanggung jawab dan rasa kemanusiaan.

Status bukanlah yang terutama, namun kedewasaan bersikap dan mencintai dengan tanggung jawab penuh. Saat ini ayah sudah tiada, tapi kata-kata itu seperti baru saja kudengar kembali. Meski butuh waktu yang lama, akhirnya aku mengerti kata-kata ayah sepenuhnya.