JOGJAMU, RINDUKU, DAN KISAH KITA #IniPlesirku

Sesuatu yang berkesan tidaklah tercipta tanpa danya perjuangan dan pengorbanan. Karena hal yang paling utama adalah prosesnya dan hasil hanyalah pemanis dalam kisah.

Yogyakarta yang sering kita sebut Jogja. Kota Istimewa yang mempunyai daya magnet yang kuat untuk dirindukan. Tugu Jogja, Malioboro, Alun-alun Kidul, angkringan, dan banyak sekali yang dirindukan dari Istimewanya Jogja. Yang paling utama dirundukan ya hati yang kutitipkan pada seseorang disana. Sebelum lebih lanjut lagi, ini adalah kisah perjalananku menebus kerinduan di Istimewanya Jogja.

Ini perjalanan yang sudah direncanakan sejak satu bulan sebelumnya. Dan bukan karena menghemat biaya tidak naik pesawat, namun hanya ingin ada cerita sebelum rindu itu terbayar. Perjalanan kurang lebih dua hari tiga malam dengan menggunakan bus, itu pun harus berkeras meyakinkan kekhawatiran orang tua. Karena awalnya mau backpackeran, tapi keinginan ditolak dengan alasan aku berangkat sendirian.

Perjalanan menggunakan bus pun tetap ada cerita seru, kesal, bosan, nekat, dan terkadang rasa ingin cepat-cepat sampai pun ada. Dari dipindahkan ke bus lain, sudah masuk jam makan tapi belum berhenti di rumah makan, sampai menunggu bus pengganti yang rusak hingga setengah harian. Tapi itulah yang bakal jadi cerita sebelum tujuan utama terkisahkan.

Advertisement

Angin dingin pagi hari menyambut kedatanganku di Jogja, dan kamu pun menyambut dengan penuh kerinduan. Setelah istirahat sejenak, langsung bergegas menuju rumahmu. Kamu dulu yang mengendarai motornya, maklumlah masih asing sama lalu lintas di Jogja. Sesampainya dirumahmu, berkenalan sama orang tuamu dan cerita-cerita sembari menunggu kamu siap-siap untuk kuliah. Setelah itu berangkat mencari alamat kost sepupuku. Tanya sana sini akhirnya ketemu juga dan kamu langsung berangkat ke kampus. Sore harinya baru jalan-jalan, makan, terus pulang ke kost lagi.

Keesokan harinya aktivitasnya masih sama, tapi sorenya main ke Tebing Parangndog nikmatin sunset. Tebing Parangndog salah satu destinasi untuk menikmati matahari terbenam yang letaknya di dekat pantai Parangtritis, Bantul Yogyakarta. Lumayan ramai yang menikmati matahari terbenam disini, namun tetap berkesan karena jingganya senja menghiasi langit kala itu. Setelah langit mulai gelap, kita mulai bergegas cari tempat makan dan pulang.

Datang ke kost merupakan aktivitasmu tiap pagi sebelum berangkat ke kampus. Dan pagi itu mulai ada rencana untuk mendaki gunung Prau. Gunung Prau dengan ketinggian 2565 mdpl yang terletak di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo. Tapi kamu kuliah dulu pagi sama siang harinya. Sehabis kamu pulang kuliah, kamu jemput aku di kost dan menyiapkan semua perlengkapan untuk mendaki. Mulai dari peralatan camp hingga logistik yang sudah kita beli sebelumnya. Karena terlalu santai menyiapkannya, ternyata kita kesorean berangkatnya dan hasilnya tengah malam baru sampai di pos pendakiannya karena sempat nyasar. Setelah registrasi pendaftaran pendakian barulah mulai mendaki. Jarak dari pos pendakian hingga ke Camping Ground sekitar 2 jam dengan berjalan normal. Pukul 03.30 WIB dini hari baru sampai Camping Ground, kemudian langsung mendirikan tenda ditengah terpaan angin dan suhu yang dingin. Setelah itu mulai bergegas masuk ke tenda dan istirahat.

Walaupun lelah diperjalan dan dipendakian, kita tetap bangun pagi untuk menikmati matahari terbit. Setelah itu menyiapkan makan untuk sarapan, dan setelah sarapan ngantukpun kembali datang. Tak bisa dipungkiri, memang kita baru 2 jam memejamkan mata. Tidur lagi sampai siang kemudian masak untuk makan siang dan akhirnya sore hari baru beranjak untuk turun dan pulang lagi ke Jogja. Saat mengendarai motorpun rasa kantuk masih melanda, tak jarang tiap kali berhenti sejenak menghilangkan kantuk. Sesampainya di Jogja langsung ke kost dan kamu langsung pulang ke rumah. Walaupun terasa lelah, namun ini seru dan mengesankan.

Keesokan harinya aktivitasmu tetap sama. Jemput aku di kost dan jalan-jalan ke Kalibiru, Kulon Progo Yogyakarta. Tempat wisata alam ini indah dan mengasikkan. Duduk bercerita menikmati suasana keindahan dari perbukitan. Malam harinya berangkat ke pantai Siung sama teman-temanmu. Salah satu pantai yang ada di kecamatan Tepus Gunungkidul Yogyakarta. Menikmati malam minggu yang cerah di bawah gemerlap bintang, di atas pasir, riuh cengkrama ombak, dan kebetulan lagi ada reggae party. Seperti tak kenal lelah hingga akhirnya kita dan teman-temanmu tertidur beralaskan pasir, beratapkan langit, dan diselimuti angin dingin. Tak terasa matahari pagi memaksa untuk menyambutnya. Bergegas cari tempat makan untuk sarapan dan jalan lagi ke pantai Nglambor. Pantai Nglambor tak jauh dari pantai Siung, sekitar 15 menit dari pantai Siung. Di masih menahan diri untuk bermain air, cukup menikmati lautan dari atas tebing karang yang ada di pantai Nglambor. Terik matahari memaksa untuk mencari tempat untuk berteduh dari sengatannya. Santai dulu menunggu sore untuk jalan lagi ke pantai Wediombo. Pantai yang terdapat lagunanya yang seperti kolam renang alami. Sore harinya mulai beranjak ke pantai Wediombo. Di sini baru menyegarkan diri berenang di lagunanya pantai Wediombo. Setelah itu baru pulang lagi ke Jogja dan antar aku ke kost sebelum kamu pulang ke rumah.

Setelah kemarin jalan-jalan ke pantai, sore hari ini jalan-jalannya bertemakan sejarah tepatnya candi. Bukan Borobudur ataupun Prambanan, tapi candi Ijo. Candi yang terletak di kecamatan Sleman Yogyakarta. Niatnya mau menikmati sunset, akan tetapi langit tak mengizinkan karena mendung. Kemudian cari tempat makan malam dan nongkrong di Cafe sambil menimati alunan live music yang diiringi oleh gerimis. Setelah mulai reda baru bergegas pulang ke kost.

Hari ini terakhir kita jalan-jalan, karena besok aku sudah mau pulang lagi ke Palembang. Jalan-jalan kali ini di pusat kota saja sekalian beli oleh-oleh. Setelah seharian jalan-jalan di pusat belanja daerah Malioboro, langsung pulang ke kost untuk siap-siap pulang ke Pelambang besok.

Rasa berat sekali karena sudah terlalu nyaman dengan suasana Jogja dan yang jelas sudah sangat nyaman bersama. Namun tanggung jawab dan perjuanganku masih tertinggal di Palembang. Mau tidak mau, suka tidak suka harus pulang. Berdamai dengan jarak guna hari depan menikmati bersama suasana Jogja. Istimewa Jogjamu sama halnya istimewa dirimu yang selalu damai dihati. Jogjamu Istimewa, rinduku hanyalah sebuah ungkapan isi hati yang tak ada penawarnya kecuali bicara, menatap, atau bahkan memeluk dan kisah kita akan menjadi pelengkap kebersamaan kita. #IniPlesirku