Mudah sekali rasanya ketika mulut kita mengucapkan kata sabar pada diri sendiri juga orang lain. Saat cobaan berat menghampiri, semua orang terdekat pun serempak memberi saran untuk bersabar. Dan mungkin juga, pada titik tertentu, kita sampai pada ambang batas kesabaranmu untuk mendengar celoteh orang yang menyarankanmu untuk bersabar – kita pun muak dengan kata “sabar”.

Saat ini kita terbiasa dengan sesuatu hal yang serba cepat, hingga kadang bersabar jadi sebuah hal yang tak masuk akal.

Hidup di zaman seperti ini, setiap hari kita harus dihadapkan dengan segala sesuatu yang serba cepat. Melakukan segala sesuatu secepat mungkin, kalau perlu yang instan. Semua ingin cepat mendapatkan hasil (yang baik).

Belajar cepat, harapannya supaya bisa cepat pintar. Bekerja secepat mungkin, supaya bisa cepat kaya. Betapa perubahan kehidupan sosial bisa mengubah cara pola pikir kita. Apa yang ada dalam mindset kita saat ini adalah semua harus secepat-cepatnya.

Dengan situasi seperti ini, tak ayal jika kita lupa dengan salah satu sifat baik yang sudah dianugerahkan oleh sang Maha Kuasa, yaitu bersabar. Kita bahkan merasa aneh, dan menganggap bahwa bersabar adalah sesuatu hal yang tak logis.

Manusia dianugerahi dua hal yang berseberangan, “hawa nafsu” dan “kesabaran”. Bersabar adalah hal terpuji yang sudah sepatutnya untuk kita pelihara.

A: Muka lo asem banget sih? Kenapa? Cerita dong!

B: Gue kena musibah bro.. Gue baru aja di PHK dari perusahaan

A: Astaga, kok bisa? Sabar bro.. nanti lo pasti dapet yang lebih baik kok

B: (Dalam hati) Sabar… sabar aja terus.. Ngomong sih gampang. Gue yang ngejalanin, berat tau!

Advertisement

Saat kita sedang tertimpa masalah atau musibah, mungkin kita pernah berpikiran seperti dalam percakapan di atas. Rasa emosi tak terelakkan lagi, yang ada kita malah marah-marah nggak jelas. Menyalahkan semua orang di sekitar, bahkan menyalahkan keadaan. Jangan untuk bersabar, diajak ngobrol baik-baik saja sudah tak bisa lagi.

Wajar memang, sebagai manusia biasa kadang kita tak kuasa untuk menahan amarah. Pada dasarnya manusia memang dianugerahi dua sifat yang saling berseberangan, yaitu “Hawa Nafsu” dan “Kesabaran”. Karena itulah, kenapa kita harus senantiasa menjaga kesabaran dalam diri.

Tak salah bila orangtua, kakak, atau sahabat kita selalu menasihati kita untuk tetap bersabar, karena satu-satunya jawaban memanglah bersabar. Karena dengan bersabar, kita bisa meredam emosi kita dan bisa berpikir lebih bijaksana.

Sabar itu bukan omong kosong, yang omong kosong adalah kita sendiri yang punya banyak ambisi tapi tak punya cukup banyak stok kesabaran untuk meraih apa yang kita inginkan.

Kita mungkin sering bertanya-tanya, sampai kapan harus sabar menunggu? Sampai kapan ini akan indah pada waktunya? Sampai kapan kesabaran ini bisa berbuah hasil? Pertanyaan itu terus terngiang hingga akhirnya kita menyerah untuk bersabar dan berusaha – putus asa.

“He that can have patience can have what he will.” Benjamin Franklin

Seperti quotes dari Benjamin Franklin di atas, “Ia yang memiliki kesabaran dapat memiliki apa yang dia inginkan. Bersabar artinya kita menahan diri, menunggu, dan belajar untuk mendapatkan sesuatu hal yang lebih baik dalam hidup.

Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang sukses? Bersabar. Selama ini yang kita lihat dari kesuksesan mereka adalah kerja keras dan bakat. Kebanyakan dari kita memilih untuk tidak melihat usaha mereka untuk “bersabar”.

Mereka bisa sukses, jadi orang terkaya di dunia, karena mereka sabar. Sabar harus mengalami kegagalan hingga 5x, sabar menghadapi penolakan berkali-kali, dan sabar saat dirinya terpaksa harus dipecat dari tempat kerjanya dulu.

Namun seringkali kita hanya menyimpulkan kesuksesan mereka sebagai kerja keras. Kita pun salah menafsirkan, bahwa kita harus bekerja keras! Tapi kita melupakan satu hal, ternyata selain bekerja keras, kita juga harus bersabar.

Bersabar itu susah, tapi hasilnya memang indah. Jangan menyerah untuk bersabar pada diri sendiri.

Apa sih korelasi antara sabar dan indah? Bila diibaratkan, itu seperti kita mendaki sebuah gunung. Pernahkah kamu mendaki gunung? Apa yang menjadi tujuanmu dalam pendakian gunung? Puncaknya? Pemandangannya yang indah? Sunrise-nya?

Untuk mendapatkannya, apa yang harus kamu lakukan? Selama perjalanan menuju puncak, kamu harus sabar mendaki jalanan yang terjal, melawan udara dingin yang menusuk tulang sumsum, medan berliku yang cukup berat hingga berjam-jam bahkan berhari-hari. Di tengah perjalanan, mungkin kamu cedera, kecapekan, hingga menggigil kedinginan.

Tapi setelah kamu berhasil melewati semua rintangan itu dengan sabar, puncak sudah tepat di pelupuk matamu. Pemandangan lukisan alam yang menakjubkan dan fenomena terbitnya sang surya dari balik bebukitan bisa kamu saksikan sekaligus dengan mata telanjangmu sendiri.

Setelah bersabar dengan segala macam cobaan dan rintangan, pasti kesabaranmu akan berbuah hasil. Apa yang selama ini kamu mimpikan dan inginkan, dengan sendirinya akan dating pada genggaman tanganmu.

Sabar itu memuakkan dan gak gampang memang. Kita semua tahu, nasihat untuk bersabar itu klise. Tapi bagaimanapun juga, kesabaranlah yang pada akhirnya akan menuntunmu ke jalan untuk menuju sesuatu yang indah dalam hidupmu. Ternyata, untuk mendapatkan sesuatu hal yang indah, selain bekerja keras, kita hanya butuh untuk bersabar.