Selepas adzan maghrib berkumandang, semilir angin berhembus, menyapa setiap apa yang menghadangnya. Setelah shalat, aku duduk di bibir jendela kamar sembari menerawang kerlip bintang, aku tersenyum terkenang pak Aki (sebutan kakek dalam bahasa sunda), waktu masih ada. Semua celotehnya selalu berhasil membuatku tertawa, kagum dan bangga. Bagaimana tidak, pak Aki selalu banyak tau tentang apapun yang aku tanyakan. Namun semua itu tak lantas membuatku heran, karena dia memang sangat cerdas. Pak Aki pernah bertutur bahwa dia pernah menjadi anggota Seinendan, yaitu pasukan militer yang dibentuk tanggal 9 maret 1943. Anggotanya terdiri dari para pemuda yang berumur antara 14-22 tahun. Dan di setiap aku bertanya,

"Ki aki teh lahirnya tanggal baraha, bulan baraha, taun baraha? (Ke, kakek lahirnya tanggal berapa, bulan berapa, tahun berapa)?" Dia selalu menjawab "Pokonamah pas jaman walanda we. (Pokoknya, pas zaman Belanda aja) "

Hahaha, tertawa geli kerap kali mendengar jawaban Aki.

Kasian Aki, dia nggak pernah tau kapan dia ulang tahun. Namun baginya, aku yakin semua itu tidaklah teramat penting. Yang dia tau, hanya harus selalu menjadi manusia yg beriman pada Empu-Nya. Menjelang isya, keramaian mulai ditunjukan seiring pekik nyaring anak-anak yang berlomba hendak ke masjid untuk mengaji. Beberapa menit kemudian, suara anak-anak mengaji mulai membahana di telinga.

Tapi aku masih betah mengingat sosok idolaku. Aku tersenyum kembali kala mengingat pak Aki yang hanya tamatan madrasah saja bisa menguasai bahasa Jepang dan Belanda. Sedangkan aku, sampai kini hampir lepas status mahasiswi-pun, bahasa inggris-ku masih saja belepotan. Juaranya lagi, pak Aki hampir bisa semua jenis alat musik. Keren kan?

Advertisement

Pa Aki juga pernah berkisah tentang bagaimana pertama kali dia mengenal Ema (sebutan nenek dalam bahasa Sunda).

"Aki mah jeung ema teu pernah bobogohan (Kakek sama Nenek nggak pernah pacaran) "

Aki Buyut papanya Ema itu guru ngaji, dan Aki adalah muridnya. Suatu hari, setelah selesai mengaji pa Aki bilang bahwa dia mau nikahin Ema, tapi Aki buyut marah sembari berkata..

"Nikah? Ngaji ge can bener, khatam heula Al-Qur'an tilukali, ngke hagae nikah! (Nikah? Ngaji saja belum benar, khatamkan dulu Al-Qur'an tigakali, baru boleh menikah!)"

Darisana, pa Aki bertekad lebih giat lagi mengaji sampai khatam Al-Qur'an tiga kali, baru kemudian akan datang lagi menagih janji Aki buyut. Selang beberapa bulan, akhirnya pa Aki mengantongi izin untuk menikahi ema. Dari pa Aki aku banyak belajar, bahwa sebenarnya, hidup itu adalah tentang pengalaman.

Kalau anak zaman sekarang, bagaimana bisa tanpa sekolah dan atau les privat kita dapat menguasai bahasa asing, namun dengan pengalaman, pa Aki bisa. Aku juga belajar tentang bagaimana kekuatan kita untuk bosa konsisten terhadap apa yang kita inginkan.

Dulu, pa Aki ingin menikahi Ema, namun Aki buyut memberi syarat yang tak kalah hebat, namun dengan tekad kuat, fokus dan konsisten, akhirnya pa Aki bisa mencapai apa yang ia hajatkan. Sesudah shalat isya dan sebelum tidur aku berdoa, semoga pa Aki, Ema dan Papa ditempatkan di tempat yang paling mulia yang Alloh SWT siapkan, semoga cinta dan kasih sayang kalian, menjadikan kalian bertemu lagi di jannah-Nya. Dan kelak, jemputlah ananda dan Mama. Salam cinta dari ananda yang selalu merindukan kalian. #Simbahkukeren