Ini adalah logika sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk bisa sampai ke otak kita jika tidak ada yang mengemukakannya. Saya mendapatkan kutipan ini dari seorang Guru yang sangat saya hormati, Ust. Nuzul Zikri (semoga Allah senantiasa memberkahi ilmu dan kebijaksanaan beliau. Amin):

Gimana mungkin kita berharap kesetiaan kepada teman yang tidak setia dengan Penciptanya? ~ Ust. Nuzul Zikri, 2015

Secara lengkap, begini isi tulisan Ust. Nuzul:

SIAPA YANG QUALIFIED JADI SAHABAT?

"Cerdas, berakhlak mulia, shalih dan tidak fasiq, bukan pengikut hawa nafsu serta tidak punya ambisi dunia"

Itu kata Imam Ibnu Quddamah (mukhtashar minhajus salikin 127) soal kriteria sahabat yang layak menemani hari-hari kita.

(Makna tidak punya ambisi dunia adalah zuhud. Yaitu dunia tidak ia masukan ke dalam hatinya walaupun bisa jadi merupakan hardworker dalam bekerja atau orang terkaya di dunia)

Temen silakan banyak, tapi sahabat pintar-pintarlah memilih.

Karena kepercayaan kita akan diberikan kepada mereka. Ada nilai trust, integritas dan kesetiaan dalam persahabatan.

Cermatlah pilih sahabat, karena gimana mungkin kita berharap kesetiaan kepada teman yang tidak setia dengan Penciptanya?!

Kita sudah sangat beruntung diberi kesempatn untuk memilih sahabat. Dibebaskan untuk dengan lapang menentukan siapa yang layak menjadi yang paling dekat dengan kita. Menjadi bagian dari cerita hidup kita, menjadi sumber antusiasme hidup, menjadi sandaran dalam setiap gundah, serta menjadi tujuan berbagi senyum dan tawa. Saya ingin melanjutkan logika di atas. Mengemasnya dalam kemasan masa kini.

Tuhan adalah pemilik segala Maha. Setia kepadaNya bersifat mutlak, sama sekali tidak dapat diperdebatkan.

Advertisement

Dalam bahasa Arab, Makhuk, diartikan sebagai apapun selain Tuhan. Artinya, untuk setia kepada yang menciptakan adalah hal yang legit. Tidak dapat diganggugugat. Kesetiaan kepada Tuhan dalam hal ini dikejawantahkan dalam prinsip taqwa. Yaitu dengan sepenuh hati menjalankan semua perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Saya pribadi sih merasa kata setia tidak tepat untuk menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan. arena justru, untuk senantiasa menghamba kepadaNya adalah kebutuhan setiap makhluk. Melebihi ungkapan rasa syukur atas semua nikmat yang telah IA limpahkan setiap hari. Sepanjang hidup yang kita sama-sama jalani. Apa kita masih mau menawar-nawar untuk abai dengan ajaranNya?

Kita adalah bagaimana teman terdekat kita.

Banyak sekali frasa yang menuliskan hal serupa Mulai dari "kita adalah apa yang kita pakai", "apa yang kita makan", "apa yang kita katakan" dan sebagai-bagainya. Tapi yanng satu ini, kita adalah bagaimana teman terdekat kita, adalah yang bisa dipertanggunngjawabkan. Karena berdasar Sabda Nabi.

Ungkapan ini juga sejalan dengan logika manusia. Semakin sering kita bergaul dengan tipe orang tertentu, semakin besar juga potensi kita untuk semakin serupa dengan sifat dasar mereka. Begini cara berpikirnya. Mereka yang berada di lingkaran paling dalam di kehidupan kita, adalah mereka yang punya kemungkinan paling besar untuk memenngaruhi keputusan apapun yang kita ambil dalam hidup. Pada akhirnya, kita pun akan menyerupai watak, kebiasaan, dan gaya hidup sahabat terdekat kita. Untuk itu, cermatkan memilih sahabat. Pilih yang tidak membuat perih.

Sahabat yang setia artinya mereka yang berani mengingatkan. Bukan sekadar menjadi pendukung. Apalagi yang hanya ada saat makan-makan.

Yang dimaksud setia di sini adalah yang tidak pernah jengah mengajak kepada kebaikan. Yang tidak pernah pamrih mengingatkan untuk jauh dari kemaksiatan. Dengan begitu logika ini jelas-jelas tidak terbantahkan. Saya yakin semuanya setuju, bahwa mereka yang mengajak kepada kejelekan adalah mereka yan tidak layak diberi label sahabat. Karena saabat sesungguhnya akan memberikan masukan paling ideal untuk kita. Menjadi pendukung untuk setiap keputusan yang kita ambil, dan tanpa ragu berdiri tegap untuk mencegah kita melakukan hal-hal keji.

Tuhan Yang Maha Segala saja berani ia ingkari. Apalagi kita yang lemah begini?

Saya akan sangat kagum kepada mereka yang berani menduakan Tuhan. Rasanya tidak mungkin kalau mereka tidak tahu kalau Tuhan adalah pemilih Segala Maha. Jadi ada dua kemungkinan, pertama, mereka merasa lebih punya kuasa dibanding Tuhan, atau kedua, mereka sudah tidak lagi percaya kebaradaan Tuhan. Yang tentu saja keduanya adalah hal yang luar biasa keliru. Kalau sudah demikian, adalah bijak untuk menjaga diri dari mereka yang seperti itu. Bukan dengan alasan personal, melainkan atas dasar kesahajaan sebagai seorang makhluk yang tidak ada kuasa apapun dibanding Tuhan.