Hai, sobat-sobatku yang bandel, nakal, tapi bikin kangen!

Di sela-sela waktu yang dihajar rutinitas, tiba-tiba saja aku berpikir tentang kalian. Mungkin ini yang namanya rindu pada kawan lama. Mungkin juga, kalau aku bisa bertemu dan berkumpul saat ini juga, segala penat dan lelah bekerja akan hancur sejadi-jadinya. Semuanya akan melebur oleh gelak tawa kalian.

Apalagi waktu telah menunjukkan bulan Ramadhan, bahkan Idul Fitri sudah tinggal menghitung hari. Namun undangan atau inisiatif berbuka bersama tak juga tiba. Maklum saja karena kita semua berpencar ke seluruh sudut negeri demi mencari sesuap nasi. Aku paham kalau kalian sama seperti aku, sama-sama dihajar kesibukan. Tapi sungguh, aku tak sabar kembali pulang ke peraduan dan berjabat tangan dengan kalian sewaktu berlebaran.

Waktu kecil dulu, kalian adalah sosok-sosok yang kukenal bandel minta ampun. Tak terhitung banyaknya gara-gara karena ulah kalian.

Apakah kalian ingat fragmen-fragmen masa lalu kita? Kita pernah memanjat pohon jambu tetangga. Setelah berhasil memetik beberapa yang ranum, kita lari tunggang langgang karena si pemilik pohon keluar dan marah-marah. Atau salah satu dari kita ada yang jahil dan membuat yang lainnya menangis. Lantas yang menangis akan mengadu pada orang tua dan berharap si pelakunya dihukum atau dimarahi.

Itu hanya secuplik dari banyaknya ulah nakal yang kita perbuat. Kalau boleh didaftar, kitalah jago-jagonya anak nakal. Gara-gara yang kita buat sudah tak terhitung lagi. Bahkan kita semua menjadi ternama di penjuru kampung sebagai geng bandel.

Kini, aku dan kalian telah berubah jadi sekumpulan manusia dewasa. Ulah badung pun digantikan dengan sejumlah prestasi.

Advertisement

Menginjak usia dewasa, barangkali otak kita sudah sedikit lebih beres. Kalau memang layak disebut, barangkali kita juga sudah tobat. Tidak ada lagi kenakalan semacam mencuri buah di pohon tetangga. Tidak ada lagi saling mengadu pada orang tua karena yang lainnya berbuat nakal atau mengolok-olok.

Ada yang sudah jadi tampan dan jadi idola di sekolah. Ada pula yang gemar mengoleksi piala dan trophy dari bidang yang diminati. Ada juga yang berbakat menjadi pemimpin hingga politisi. Yang jempol berniaga lewat wirausaha pun ada. Kalau sudah seperti ini, aku sangat mengamini perkataan orang yang mengatakan "Anak yang masa kecilnya bandel, biasanya berjiwa kreatif dan calon orang sukses." Amin.

Kawanku yang paling tercinta, jangan lupakan kenangan kita ya! Jika usia senja nanti, kita akan berkumpul dan mentertawakan kekonyolan-kekonyolan masa muda.

Sekarang, kita sudah memiliki jalan masing-masing untuk meraih masa depan. Bisa dibilang, beberapa dari kalian bahkan sudah lulus memantaskan diri. Tapi apapun itu, aku bersyukur pernah menghabiskan waktu kecil bersama kalian. Masa kecilku adalah masa-masa paling sempurna dan bahagia. Aku pun tak menyesal pernah menjadi badung bersama kalian.

Kawanku, temanku, sobatku, sahabatku, apapun itu namanya…

Aku harap kalian jangan melupakan kenangan ini sampai tua nanti, ya? Berjanjilah padaku bahwa memori indah ini akan selalu tersimpan dalam ingatan. Karena saat usia kita sudah sangat senja, kita akan kembali berkumpul bersama. Kita akan memperbincangkan kebodohan kita di masa lalu. Bagaimana kita juga berkonflik menjelang masa remaja. Lantas kita akan menganggapnya konyol dan turut mentertawakannya hingga perut kita terkocok.

Sampai jumpa saat jabat tangan Lebaran di kampung halaman nanti.