Ngopi bagi sebagian orang merupakan ritual khusus yang wajib dijalankan, mungkin sama wajibnya dengan shalat lima waktu. Banyak orang yang setiap menyambut pagi harus ditemani dengan secangkir kopi. Di malam harinya, pekat kopi juga menjadi pesaing terberat pekat malamnya.

Dengan takaran tertentu, kopi sangat diperlukan bagi tubuh manusia dengan kafein yang dikandungnya. Begitu juga jiwa manusia, saat menikmati secangkir kopi, menunggunya berangsur dingin dari yang semula panas, menyeruputnya sedikit demi sedikit, membiarkanya sebelum kembali meneguknya dengan sesekali mengirup aroma yang ditimbulkan olehnya. Secara tidak sadar proses panjang menikmati secangkir kopi akan membentuk kesadaran jiwa yang berbeda pada seorang manusia.

Bagi kalangan mahasiswa menikmati secangkir kopi bisa jadi masuk 3 SKS dalam satu semesternya. Kenapa begitu? Tugas menumpuk, agenda segudang, tidur tanpa aturan. Banyak yang mengatakan saat malam adalah waktu ideal untuk istirahat. Tapi apakah mungkin jika tugas menumpuk di atas meja, pengetahuan menghampar belum terserap, pemikiran betebaran menanti untuk dikaji. Maka saat malam mahasiswa dapat mengangsur melunasi kewajibannya tersebut.

Maka, saat itulah teman itu datang, ia bernama kopi. Kehadiranya akan menemani sekaligus menyemangati, untuk melupakan dan mungkin menghapus kata “tidur” dari ingatan mahasiswa.

Saat di pagi hari, sementara istirahat belum juga didapat, yang orang mengatakan idealnya delapan jam sehari. Maka apakah yang paling menarik dari semua yang dipajang di etalase kantin kampus, selain secangkir kopi dengan asap tipis mengepul diatasnya. Tegas hitam pekatnya akan menyalurkan semangat pagi bagi penikmatnya, panasnya yang terteguk akan menjalarkan cinta dengan mesra.

Advertisement

Lalu lihatlah dalam proses menyeduhnya, dengan air panas yang langsung turun dari tungku, diaduk perlahan dengan diselingi suara sentuhan sendok pada gelas kemudian dibiarkannya mengendap, baru bisa kita mencicipinya.

Filosofi penyajian kopi ini sebenarnya sangat relevan dengan keseharian mahasiswa. Panasnya keilmuan, pemikiran, pandangan merupakan konsumsi yang tidak bisa dihindari dalam dunia mahasiswa, kemudian antara pemikiran satu dengan yang lain, gagasan satu dengan yang lain, ilmu satu dengan ilmu yang lain diramu menjadi satu dalam sebuah kajian. Perlahan tunggu endapanya, disaring saripati ilmunya, dengan proses seperti itulah mahasiswa terlahir menjadi pemikir yang dewasa.

Begitulah seharusnya seorang mahasiswa belajar, seperti kopi.