Belakangan ini teman-teman saya mengeluh lantaran jumlah SKS yang diambilnya sedikit. Mereka kesal lantaran tidak dapat mencontreng mata kuliah semester di atasnya. Alhasil, mereka hanya merengek tidak karuan. Persis bayi yang seharian tidak diasupi Asi. Ada-ada saja ulah mereka, mengutuki kakak tingkat yang mengambil mata kuliah serupa adalah salah satunya. Alasanya, karena mata kuliah itu seharusnya menjadi jatahnya.

Tadi pagi, di seberang meja kantin tempat saya makan siang, mahasiswa berkacamata terlihat galau. Rupanya dia masih menyesalkan mata kuliah yang lupa dia contreng. Padahal minggu ini adalah minggu pertama kuliah. Ternyata badai galau contreng-mencontreng ini belum berakhir.

Saya merasa heran melihat sekeliling saya belakangan ini. Mengapa orang berlomba-lomba mengambil mata kuliah yang bukan seharusnya jatah mereka? Mengapa memilih terburu-buru, bukankah mata kuliah yang ditawaran merupakan jadwal yang harus kita terima? Ternyata, sifat rakus dan tidak puas diri manusia tidak hanya pada uang, tetapi juga dalam jumlah SKS. Astagfirullah!

Dewasa ini, jika boleh saya simpulkan, mahasiswa seperti kejar-kejaran satu sama lain. Semua berlomba-lomba untuk lulus cepat. Mereka lupa, tujuan kuliah bukan semata-mata demi satu lembar izasah, melainkan untuk ‘mengenyangkan’ otak dan skill.

Jika sudah begini, saya langsung membayangkan para mahasiswa adalah para pembalap MotoGP yang sedang saling tikung satu sama lain. Tikung kiri-salip kanan. Ejek kanan-ejek kiri. Mirip sirkuit.

Advertisement

Jika merunut ke belakang, apa yang terjadi pada diri mahasiswa saat ini tidak terlepas dari batasan maksimal kuliah lima tahun. Aturan ini, sadar atau tidak, telah mempengaruhi pikiran alam bawah sadar mahasiswa. Mahasiswa didoktrin untuk lulus secepat mungkin dan menjadi kacung di suatu perusahaan. Persis seperti yang dicita-citakan para bapak-bapak di kampus itu.