Satu, dua, tiga… Detik menjelma, menit menjelma, jam menjelma hingga tahun menjelma. Entah berapa rangkap lagi, berapa jelma lagi yang harus dilalui dengan sayat-sayat luka. Si tinggi, si tampan, si jelek, si alim, si biasa hingga si luar biasa. Sekali lagi, entah berapa si lagi yang akan sekedar kuberi senyum manis, bukan hati. Aku hanya sedang dilema, hati? Hati siapa yang akan kuberi ? Hati yang tersayat ini? Untuknya cintanya ? Ah, tak adil kurasa. Jadi, sekali lagi maaf, dan maaf lebih baik begitu kurasa.

Satu, dua, tiga. Ah, ini undangan keberapa yang kuterima ? Bahagia, alah tak dapat kupungkiri ada rasa sesak yang masuk lewat tiap huruf yang kubaca diundangan tadi. Aku benci momen ini !

Hei sudah tidur ya? Selamat malam sayang. Kalimat abstrak yang kutatap setiap pagi di layar handphone. Dan kini aku merindukan kalimat itu, kalimat yang sudah hampir tiga ratus delapan puluh lima hari, tak kubaca tak kutemui. Minggu pagi, pagi ini aneh. ya, aneh! Ada rindu yang mungkin sudah tak terbendung, kulewati setiap jalan yang dulu kita lalui, entah ku pelankan speed boat ini, ku hirup perlahan udara pagi ini, dengan harap ada kamu di sini. Berhenti sejenak, ya ku berhenti tepat di tempat itu, tak perlu kujelaskan bukan? Amang-amang ketoprak itu menanyakanmu padaku? Jawabku? aku tersenyum seakan-akan ada sesuatu yang menggumpal dikerongkongan, tak dapat ku bicara walau sepatah.

Sosial media..

Wanita patah hati lebih jago stalk dari pada seorang FBI sekalipun. Tiap jarum di jam itu berputar tak pernah kulewati tanpa melihatmu, sering aku curi-curi alasan agar bertemu atau sekedar tahu kabarmu.

Advertisement

November..

Wajah baru menghiasi sosial mediamu..

Yes, you can.

Ya, kamu mampu melupakan. Kamu mampu menghapus, kamu mampu… Selamat… Menggali "lagi" , mengubur "lagi" . Satu mimpi yang kini benar benar tak akan terwujud, kugali dan kubenamkan impi itu. Aku, pergi.