Jangan jatuhkan gelas yang telah retak, tapi simpanlah dan cari perekatnya.

Kalimat itu saya tujukan dalam menyikapi “Rupiah yang anjlok” atau “penggusuran warga Kampung Pulo” yang rame akhir-akhir ini. Ikut prihatin. Tapi juga realitas yang bisa diterima akal sehat siapapun. Retak, karena di situ ada ruang buat kita untuk menyalahkan pemimpin atau pejabat, mengapa bisa terjadi?

Kalo mau jujur, semua tindakan pasti ada konsekuensinya. Jangankan pemimpin atau pejabat, setiap manusia seperti kita juga punya konsekuensi atas apa yang kita pilih, atas apa yang kita jalani hari ini?

Tentu, kita tidak sedang ingin mencari kesalahan orang per orang. Tentu, kita juga tidak sedang ingin memperkeruh keadaan. Menghujat, berkomentar negatif padahal kita tidak tahu banyak. Atau apapun namanya, yang bisa membuat “keadaan” makin jelek.

Saya percaya, setiap orang pasti punya niat baik, iktikad baik. Lalu, bertindak dan mengerjakan niat baik itu. Saya juga percaya, tiap kurang atau salahnya orang harus bisa “ditambal” oleh orang lain. Karena tiap kita tidak ada yang sempurna. Masalahnya, agak susah mencari orang yang mau “menambal” salahnya orang lain. Atau sulit mencari “perekat” dari retak sebuah gelas.

Advertisement

Lalu, untuk apa kita mencari “ruang salah” dari anjloknya Rupiah. Untuk apa kita berkomentar jelek tentang penggusuran warga Kampung Pulo?

Kalo kita bertugas mencari kesalahan orang lain, lalu siapa yang paling bener?

Tentu kita akan jawab, pikiran kita yang bener. Komentar kita yang bener. Pokoknya, semua yang bener dari kita, yang salah dari orang lain. Alhamdulillah kalo begitu. Mari kita doakan saja. Agar yang punya pikiran, yang komentar merasa bener bisa masuk surga. Insya Allah.

Kalo boleh jujur nih, apa sih yang jadi persoalan?

Bagi saya, soal utamanya karena kita takut atas bayangan masa lalu. Di masa lalu, anjloknya Rupiah bisa “membangkrutkan” ekonomi siapapun. Di masa lalu, penggusuran selalu berakhir duka. Takut karena masa lalu. Bayangan masa lalu telah bikin kita kecewa.

Sungguh, berpegang pada masa lalu menjadikan kita sulit berbuat. Masa lalu bikin kita terbatas. Dan masa lalu, semua yang udah terjadi, gak bakal abis-abis kalo dibahas. Gak bisa ngapa-ngapain.

Ngomongin masa lalu, pasti ada sedih ada senang. Masa lalu yang sedih, bikin siapapun pemiliknya jadi trauma, takut. Masa lalu yang senang, terlalu mudah juga dilupakan. Orang akan lebih mengingat masa lalu yang pahit ketimbang masa lalu yang menyenangkan. Itu wajar kok, manusiawi banget.

Cuma, itu bukan berarti kita boleh menghidupkan masa lalu. Bukan berarti kita harus dibayangi masa lalu.

Jujur lagi, hari ini bahkan esok.

Berapa banyak orang yang tetap hidup di bawah bayangan masa lalu? Pikiran dan otaknya masih ada di masa lalu. Cuma fisiknya doang ada di zaman sekarang. Pucing gak sih…..

Ada yang gak mau pacaran, karena trauma ama masa lalu. Takut dikecewain.

Ada yang gak mau berteman lagi, akibat masa lalu. Takut dibohongin lagi.

Ada yang gak mau move on, karena masa lalu. Takut gagal lagi.

Ada juga yang gak mau berbuat baik, katanya dari dulu dikecewain. Belum bisa hilang rasa sakitnya. Sakitnya tuh di sini, katanya. (sambil nunjuk pantat hahaha…)

Hahahaha, izinkan saya ketawa dulu ya. Kasihan banget, mereka yang terbuai masa lalu. Gagal dan gak bisa move on. Lalu, berpegang pada kalimat-kalimat indah yang jadi prinsip hidupnya kini:

– Aku hanya ingin menjadi "Kita" yang dulu.

– Kamu yang sekarang bukan lagi menjadi kamu yang dulu kukenal.

– Hilangkah janji bersamaku? Terjatuh jauh di dalam manisnya kenangan. Aku bangkit dari luka. Biar kuhapus janjimu dengan isak tangis.

– Aku tak akan pernah bisa lari dari kenangan dan semua perasaan yang masih ada dan masih kusimpan sampai saat ini.

Maaf, pengen ketawa lagi ya. Hahahaha, itu semua omong kosong. Emang, siapa yang mau hidup di masa lalu? Hahahaha, sungguh banyak orang hidup di bawah bayangan masa lalu.

Emang sih, gak banyak orang yang bisa menyikapi masa lalu. Tapi fakta, dia hidup di masa sekarang. Akhirnya, gak sempat bertindak untuk masa depan. Terus, mau sampai kapan mikirin masa lalu. Trauma, takut, nyesel, kapok, sakit hati dan akhirnya gak bisa berbuat apa-apa. Sempit banget sih hidup. Boro-boro nyiapin kematian, yang dipikir dan dibahas aja soal masa lalu. Kata orang sekarang, gagal move on.

Asal tahu aja sahabat, gak ada gunanya hidup dalam mimpi buruk masa lalu, dibayang-bayangi masa lalu. Emangnya kita bisa mengembalikan air sungai ke hulunya lagi? Gak bakal bisa. Ahhh sudahlah, masa lalu biar aja jadi pelajaran. Gak perlu juga takut pada masa depan. Kita hanya perlu membuktikan setiap rencana menjadi langkah nyata yang lebih baik. Orang bijak bilang, Masa lalu itu cuma sejarah, masa depan adalah misteri, dan hari ini adalah berkah”. Keren ya…

Rupiah anjlok, penggusuran warga Kampung Pulo adalah realitas. Gak perlu takut atau trauma. Masa lalu juga gak akan kembali lagi. Songsong aja masa depan yang masih jadi misteri, biarkan semuanya bergerak dan berjalan. Gak usah dibayangi ketakutan masa lalu. Karena masa lalu hanya bikin kamu:

1. Sulit move on, karena bikin gak bisa menerima realitas. Masa lalu bikin orang sulit menjalani hidup yang baru.

2. Membandingkan-bandingkan, karena bikin yang ada hari ini dicari-cari kesalahannya. Untuk bilang, lebih baik yang lalu.

3. Tergoda, karena bikin pikiran jadi sempit seolah bisa kembali ke masa lalu padahal kamu hidup di masa kini.

4. Gak nyaman, karena bikin gak produktif dan gak bisa menerima perubahan yang terjadi dalam hidup.

STOP mikirin masa lalu. Hari ini bukan untuk menyesalinya, bukan untuk menghujatnya. Masa lalu, gak ada manfaatnya. Percaya gak? Gak, lha iyalah, kalo percaya ama Tuhan aja. Jangan ama orang.

Kasihan banget sama orang yang kerjanya mikirin masa lalu. Terus dia berdoa:

“Ya Allah, andai aku bisa memutar waktu, aku akan kembali pada waktu di mana aku merasakan keindahan di waktu lalu”.

Itu mah bukan doa, tapi khayalan. Kalo bisa, kita semua juga pengen balik lagi ke masa kecil. Biar bisa main kayak dulu. Atau umurnya jadi panjang lagi hehehe. Hebat ya masa lalu. Pantesin, banyak orang yang sudah tua tapi ingin tampil tampak lebih muda. Biar kerutan wajahnya gak terlihat, bisa jadi itu akibat ingin seperti masa lalu.

Terus emang kenapa dengan masa lalu?

Ya gak kenapa-kenapa. Pikirin aja sendiri. Kita termasuk orang yang pengen hidup di masa lalu atau tidak. Atau kita menjadi orang yang senang mengungkit-ungkit masa lalu atau tidak. Yang jelas, masa lalu tidak pernah kembali. Dan gak akan bermanfaat bagi masa sekarang kalo kita tidak mampu menyikapinya. Semua kita kan pasti punya masa lalu, tapi tidak semua bisa menyikapi masa lalu itu. Kerenn kan ….

Asal tau aja, hasil riset University of Granada menyimpulkan, orang-orang yang seringkali menyesali dan mengenang kejadian masa lalu terbukti lebih mudah terserang penyakit dan memiliki kualitas kesehatan yang buruk. Mereka yang sedih dan masih menyimpan dendam di masa lalu juga rentan terhadap sakit. Punya persepsi buruk dan berpikiran negatif terhadap masa lalu, cenderung menjadikan orangnya pesimis dalam melihat masa kini. Seremmm juga ya… orang masa lalu bisa dibilang orang penyakitan dong hehehe.

Sudahlah STOP mengungkit masa lalu. Biarkan masa lalu hilang tak terlihat kembali. Relakan masa lalu lepas tak tersentuh lagi. Bunuh masa lalu agar tak hidup kembali.

Lagian, apa pentingnya sih masa lalu?

Ya itu gak penting. Karena orang yang mengungkit masa lalu, bisa jadi terselip di dalam hatinya untuk menebar kebencian, membangun permusuhan, selalu menyalahkan tanpa punya jalan keluar. Makanya kalo boleh usul, asyik juga kalo ada Undang-Undang yang bisa “memenjarakan” orang-orang yang hobi mengungkit masa lalu. Biar tau rasa…

Sekali lagi, STOP hidup dalam bayangan masa lalu. Allah selalu mengatakan, “Itu adalah umat yang lalu” setiap kali usai menerangkan kondisi suatu kaum. Lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, mengendurkan semangat, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga.

Ingat, ketika suatu perkara habis, maka selesai pula urusannya. Dan tak ada gunanya kembali ke masa lalu.

Sungguh, orang masa lalu tak ubahnya seperti orang yang menumbuk tepung. Atau orang yang menggergaji serbuk kayu. Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah sedikitpun menoleh ke belakang. Kata sabda alam, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan.

Maka, jangan hidup dibayangin masa lalu. SAVE masa depan, STOP masa lalu. Jangan cari kesalahan orang lain, temukanlah kebaikannya.