Kita sadar bahwa kita memang sudah lama berhubungan. Kedekatan kita pun bukan lagi sekedar perilaku anak pacaran, namun sebagai seseorang yang akan mendampingi hidup dimasa depan. Banyak hal yang sudah kita lewati bersama-sama. Hampir dua tahun kita rasakan suka duka bersama pula. Tapi kau tau, seandainya kau sadar, suka duka itu lebih banyak duka dalam hubungan kita, entah benar atau tidak, namun itu yang kurasa.

Walau senyum tipis jarang kau buat dibibir ku, namun aku tetap terus berharap kaulah yang terbaik.

Tangisku Lebih Banyak Dari Senyumku, Seandainya Kau Tau.

Aku harap kau sadar bahwa aku lebih sering menangis daripada tersenyum. Bukan berarti aku tak pernah membuatmu menangis, aku pernah. Namun, apakah kau tak mengerti bahwa air mata ini lebih banyak jatuh daripada senyum tipis dibibir ku. Tapi apa kau tau lagi, aku selalu memaafkan.

Kesalahanmu Bukan Masalah Utama, Namun Kamu Yang Tak Pernah Mencoba Untuk Belajar.

Advertisement

Tanganku mungkin sudah tidak cukup untuk menghitung berapa kali kau membuatku tersenyum dan menangis. Namun asal kau tau, apapun yang kau lakukan aku selalu ingat dengan jelas, entah saat kamu membuat kejutan kecil untukku, atau bahkan saat kamu berucap kasar kepadaku. Aku ingat sayang, aku ingat. Namun, bukan itu yang utama. Namun, apa kau tak pernah belajar untuk memperbaiki kesalahanmu? Setidaknya belajar untuk tidak mengulanginya lagi.

Kau Tau Aku Tak Pernah Main-Main. Namun, Mengapa Kamu Tak Pernah Bersikap Serius?

Sejak awal saat pertama kali kamu mengatakan cinta, aku sudah bilangkan, aku tak pernah bermain-main dalam sebuah hubungan. Kamu tau, aku ingin kamu serius. Kamu tau, aku tak hanya menginginkan akhir dengan hubungan pacaran, tapi lebih. Namun menunggu bukan kebiasaanku. Dan hingga sekarang, keseriusan itu tak pernah aku dapatkan darimu. Walau hanya sebatas kamu yang datang kerumahku, bertemu kedua orangtuaku, dan bercakap-cakap layaknya teman-temanku yang datang ke rumah.

Kamu Sering Ucapkan Sayang Dan Cinta. Tapi Kau Tau, Sekarang Rasanya Hambar Untukku.

Kata ‘sayang' dan ‘cinta' sudah seperti makanan keseharianku. Setiap pagi dan sebelum tidur kamu tak pernah absen dalam mengucap kata manis itu. Tapi sayang, kamu tau apa yang kurasa? Dengan hubungan tanpa ujung ini, ucapan manis itu terasa hambar untukku sekarang. Seribu kali kau ucapkan, tak ada lagi gejolak dalam diriku saat mendengarnya.

Melupakan Adalah Hal Tersulit Dalam Hidupku. Saat Mengingatnya, Jantungku Terasa Mau Lepas. Rasanya Amat Sakit. Apa Kau Merasakannya Juga?

Untuk orang sepertiku, hal ini menyakitkan. Sungguh, jika aku bisa, aku ingin menghilangkan ingatanku akan rasa sakit itu. Merasakan amnesia sesaat, dan memandangmu layaknya lelaki terhebat yang akan meminangku esok harinya tanpa tau kau pernah membuat luka. Namun tak bisa. Dan setiap mengingatnya rasanya amat sakit. Pernahkah kau merasakannya juga? Aku harap tidak. Tapi bagaimana denganku?

Sebab ini seperti daun pada pohon, seberapa kali dedaunan itu rontok, pohon itu akan terus menumbuhkan daun yang baru.

Jika aku bisa memilih, tentu saja aku ingin hubungan yang indah bersamamu. Namun, kenyataannya sepertinya amat sulit. Bukankah seharusnya kita saling belajar satu sama lain? Tetapi mengapa kamu tidak bisa? Sungguh, perasaanku terus mengatakan ‘tidak’ akan hubungan kita, karena rasa sakit ini. Namun aku tak ingin berakhir dengan hal macam ini. Lalu pertanyaannya, apa yang harus aku lakukan? Aku harap kita tetap terus berusaha untuk belajar akan sebuah kesalahan. Dan teguh menatap kedepan akan hubungan kita yang sudah amat jauh. 🙂