Ini adalah kalimat sederhana yang nempel banget di otak saya. Sebuah kutipan sambil-lalu yang diucapkan Ust. Subhan Bawazier pada kajian beliau beberapa minggu lalu. Yang luar biasa adalah efeknya yang tidak biasa. Saya merasa tersandung kemudian terenyuh dengan betapa benar dan simpelnya kalimat ini. Kala saya tidak salah ingat, begini bunyi kutipan beliau saat itu

Akhlak manusia yang paling baik adalah mereka yang paling cepat beristighfar

Jika selama ini kita menganggap mereka yang memiliki aklak baik adalah mereka yang senantiasa berperilaku ramah, murah senyum, gemar membantu, toleransi dan tenggangrasa, dan sebagai-bagainya, kita tidak sepenuhnya salah. Semua itu adalah indikasi akhlak yang baik.

Namun, menjadi sadar atas kesalahan dan segera memohon ampun kepadaNya adalah bentuk akhlak paling baik yang mendasar.

Secara harfiah, istighfar diartikan sebagai "saya memohon ampun" (mohon koreksi jika salah). Sebuah ungkapan yang menunjukkan penghambaan paling benar atas keesaan Tuhan. Kita, dalam hidup yang tidak pernah berhenti ini, akan selalu menghadapi dan dihadapi dengan banyak ketidaknyamanan, banyak kesalahan. Baik yang berasal dari diri sendiri atau orang lain. Sengaja atau tidak. Dari jutaan kekeliruan yang bersuar dalam hidup ini, untuk menjadi sadar atas hal itu adalah hal langka. Apalagi menjadi sadar lalu segera beristighfar. Rasanya alasan dangkal ini cukup untuk menjelaskan mengapa beristighfar adalah akhlak yang baik.

Senantiasa mengingat dan memohon ampun kepada-Nya adalah bentuk kerendahan hati yang paripurna.

Apa ada manusia yang mengaku dirinya suci dari dosa? Atau sama sekali jauh dari perbuatan tercela dengan kebaikan tanpa cela? Saya harap tidak ada manusia yang merasa demikian. Karena esensi dari menjadi seorang makhluk, dalam hal ini manusia, adalah untuk menghamba kepada Sang Pencipta. Memberikan diri dan jiwa seutuhnya patuh dalam ajaran dan ketentuanNya. Hakikat seorang manusia juga adalah berbuat dosa. Untuk itu, untuk senantiasa mengingat dan memohon ampun kepadaNya adalah bentuk kerndahan hati yang paripurna. Wujud penghambaan yang melapangkan hati.

Ibarat pelindung, Istighfar mampu menjaga kita dari hal-hal buruk.

Advertisement

Saya yakin, hal yang paling baik untuk melindungi kita dari perbuatan buruk adalah kesadaran diri yang luhur. Tentu saja kita smeua dianugerahi oleh nafsu dan keinginan, tapi di atas itu, kita juga diberkahi dengan akal pikiran, logika, dan sanubari yang semuanya terbungkus dalam ajaran agama yang kita anut. Dari situ, kita bisa merefkelsikan apapun yang sudah, sedang, dan akan kita lakukan. Sebagai wujud dari kontrol diri, kalimat Astaghfirullah merupakan pengejawantahan pengendalian diri yang mampu melindungi. Yang mampu membuat kita senantiasa terjaga. Yang mampu menjadikan kita lebih manusiawi.

Benar bahwa akhlak yang baik hanya mampu dilihat oleh mereka yang berada di sekitar kita. Tapi kitalah yang punya kuasa untuk membentuknya dari dalam diri.

Keliru jika kita menilai diri kita sendiri sudah punya akhlak yang baik. Karena sejatinya, orang lainlah yang paling benar dan ideal untuk menjustifikasi baik buruk perangai kita sehari-hari. Namun, di luar fakta itu, kita punya kendali penuh untuk membentuk apa yang orang lain lihat dari diri kita. Bukan sekadar membuat impresi, melainkan menyatakan karakteristik dan persona yang memang adalah diri kita yang sebenarnya. Itulah sumber akhlak. Entah yang baik atau buruk. Keduanya merupakan produk dari apa yang kita lakukan berulang-ulang. Maka, perbanyaklah beristighfar. Percayalah, ini sangat membantu.