Yaaa, boleh dibilang, opini saya kali ini terjentik dari rilisnya profil saya di Feature Friday edisi Minggu kedua Juli 2015. Tentu saja saya sangat senang! Bahkan sesaat setelah menerima surel permohonan wawancara dari Redaksi Hipwee, saya yang kala itu tengah dalam perjalanan liputan seperti dirundung dua belas kali THR dalam sebulan!

Alhamdulillah.

Terimakasih, Hipwee!

Terimakasih, Chiki! 🙂

Kemudian saya ingat, beberapa waktu lalu, sepertinya sudah cukup lama, saya pernah mencuit kalimat yang serupa dengan judul artikel ini:

Advertisement

Bersyukur itu ibarat oksigen. Kita akan mati tanpanya

Atau sesuatu yang mirip dengan itu. Entahlah. Saya tidak ingat betul.

Yang pasti, dari situ, saya ingat. Saya mencuit kalimat itu setelah menyelesaikan sebuah buku. Saya yakin, agama apapun di dunia ini, bahkan mereka yang memutuskan untuk menjadi Ateis, pasti paham dan pernah bersyukur. Tidak peduli kepada Tuhan mana yang mereka panjatkan rasa syukur itu.

Tanpa mengenyampingkan kehadiran-Nya, bersyukur adalah bentuk apresiasi kepada diri sendiri yang paling murni.

Dalam situasi apapun, waktu dan kondisi apapun, siapapun, bisa dan boleh bersyukur. Coba kita pikirkan sedikit lebih dalam. Apa yang kita dapat dari bersyukur? Mungkin bagi kaum yang menghamba pada Logika (seutuhnya), mereka akan gagal menemukan manfaat dari bersyukur.

Kita hanya, sederhananya, berterimakasih. Mengembangkan senyum. Melangkahkan kaki lebih ringan. Bernapas lebih dalam. Dan kembali menghadapi hidup dengan gagah serta optimistis.

Ya, bersyukur itu adalah bukti apresiasi terhadap diri sendiri yang paling murni. Tuhan telah begitu bijaksana memberikan kita semua pengetahuan ddan pemahaman tentang bersyukur.

Tuhan begitu jujur mencintai hamba-Nya. Bukti cinta yang terlalu rumit hingga kita gagal bahkan abai mensyukurinya.

Untuk cinta yang tak pernah terlihat,

Di atas itu, cinta punya wujud yang lebih luhur. Sebuah bukti kasih yang selalu mengalir dan benar-benar tanpa henti. Yang satu ini, berasal dari Sang Maha Tinggi.

IA yang memiliki kuasa di atas kuasa. Dan mampu melakukan apa saja.

Untuk cinta yang tak pernah terlihat,

Kami seringkali lupa jika kamu tidak muncul dengan paksa. Seperti saat kami jauh, kamu hadir dalam bentuk lain. Rindu. Seperti saat kami tersesat, kamu hadir dalam bentuk lain. Gundah.

Walau juga sering, kamu muncul dengan aba-aba. Seperti saat perayaan hari raya. Kamu datang dengan senyuman kerelaan. Seperti saat nikmat menyapa. Kamu ada dengan lantunan ayat-ayat syukur.

Begitu juga waktu kami merasa tak punya cinta. Kamu yang memang sedari awal memutuskan untuk tidak terlihat, ternyata senantiasa ada. Seperti saat sakit dan kehilangan menerpa, kamu berubah wujud. Menjadi pengingat dan pemberi memori. Saat dosa menerjang, kamu nampak walau dengan semu. Menjadi penjaga hati melalui intuisi.

Bagaimana mungkin kita akan mati jika tidak bersyukur?

Bagaimana mungkin ada orang yang berani-beraninya berpikir demikian? Apa tidak cukup semua nikmat yang kita rasakan sejak pertama kali dibuahi di rahim Ibu sampai detik ini?

Tentu saja tidak akan ada kehidupan tanpa adanya rasa syukur. Memangnya kalian pikir darimana asalnya cinta? Dari rasa syukur.

Saya juga curiga, kalau-kalau rasa syukur jugalah yang membuat bumi ini bisa berputar dengan seimbang. Dengan ideal memetakan keadaan yang sangat proporsional. Menentukan siapa yang layak menyandang senyum dan siapa yang belum.

Rasa syukur itu universal.

Jadi, setuju dong kalau bersyukur itu sama dengan oksigen?

Memang kita bisa hidup tanpa bernapas? Memang kita bisa bernapas tanpa oksigen?

Tentu saja saya tidak bermaksud untuk bilang kalau Tuhan memberikan kita oksigen untuk bernapas hanya karena kita bersyukur. Tidak sama sekali. IA terlalu luhur dan kaya untuk itu. Bahkan tanpa satu orangpun di dunia ini yang memanjatkan syukur kepadaNya, kita masih tidak ada apa-apanya, dan IA tetap segalanya.

Yang saya ingin sampaikan adalah kita, sebagai manusia, akan tercekik, hidup tanpa nyawa, dalam gundah dan benci, serta kegalauan tak bertepi saat menjajal hidup tanpa rasa syukur.

Dengan pongah menganggap semua kenikmatan adalah hak dan milik kita semata. Lalu abai dengan kehadiran Yang Maha Kaya, buta akan lingkungan sekitar. Bukan kah itu mengerikan? Bukankah itu (juga) mematikan?