Siapakah yang pertama kali menyebarkan isu, bahwasanya setiap memulai hubungan, harus laki-laki yang duluan 'gerak'? Memang, pada dasarnya, laki-laki memang lebih berani mengambil keputusan ekstrim daripada wanita. Tapi, bukankah dalam membaca isyarat tubuh, membaca sesuatu yang tersirat, membaca tanda-tanda yang muncul, pihak wanita lebih diberikan kelebihan dalam hal ini? Sedangkan laki-laki, jangankan membaca tanda ataupun sinyal suka dari wanita, kadang membaca sinyal dari hatinya sendiri dia tidak mampu.

Siapa yang pertama kali menyebarkan isu, bahwasanya wanita harus menunggu dalam memulai hubungan? Kita sama-sama manusia yang diberikan sepotong hati oleh Tuhan. Dan kita tidak punya kemampuan khusus untuk mengendalikan hati kita sepenuhnya. Kita tidak bisa memberikan perintah langsung kepada hati kita untuk memilih orang yang kita cintai.

Kadang, hati berkerja dengan sendirinya, memilih siapa yang dikehendakinya untuk dicintainya. Begitu juga dengan wanita, bukankah dia juga kadang dipermainkan oleh hatinya sendiri, membuat dia jatuh cinta pada orang yang tidak diharapkan. Dan, karena wanita di-isukan untuk menunggu dalam memulai hubungan, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu orang yang dicintainya mengungkapkan rasa suka padanya.

Yang bisa dia lakukan hanyalah memberikan sinyal-sinyal yang menurut kaum wanita, itu sudah cukup untuk membuat laki-laki mengerti perasaan dia yang tersembunyi di hatinya. Dan dasar lelaki, tidak semuanya mampu membaca apa yang tersirat, apa yang disinyalkan oleh wanita, sehingga si wanita hanya bisa menerima kenyataan cintanya bertepuk sebelah tangan, tanpa pernah dia coba untuk mengutarakan isi hatinya.

Siapa yang pertama kali menyebarkan isu, bahwa semua laki-laki itu sama? Walaupun mereka punya kesamaan, tapi kita tidak bisa menyamakan mereka semua. Tidak semuanya punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanya lagi dan lagi.

Advertisement

Sebagian, ada yang butuh waktu sebentar saja untuk mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanya. Sebagian lain ada yang butuh waktu lama. Dan ada juga, sebagian lainnya, yang sama sekali tidak punya keberanian mengungkapkan perasaannya, mungkin karena dia merasa wanita yang disukainya jauh diatas bayangannya.

Mungkin juga dia menunggu sinyal-sinyal dari wanita yang disukainya, dan karena dia laki-laki, dia tidak mampu membaca hati wanita, walaupun wanita tersebut telah banyak memberikan sinyal.

Siapa yang menyebarkan isu bahwa wanita tidak boleh ambil langkah duluan? Berapa banyakkah diluar sana, para wanita yang gagal mendapatkan orang yang dia cintai, hanya karena dia tidak berani untuk mengambil langkah duluan? Cinta datang kedalam hati bukan tanpa alasan.

Kalau memang wanita tersebut yakin dengan perasaanya, yakin dengan laki-laki yang dicintainya bisa membuat dia bahagia, bisa membuat dia lebih baik, kenapa kita melarang mereka untuk memperjuangkan cintanya?

Daripada hanya mengirimkan sinyal-sinyal yang tak semua laki-laki bisa membacanya, daripada hanya menunggu dan berharap, dan akhirnya menyalahkan laki-laki karena tidak bisa membaca perasaannya. Bukankah lebih baik kita biarkan mereka memperjuangkan apa yang dia rasa.

Siapa yang menyebarkan isu bahwa laki-laki menganggap wanita yang mengambil langkah duluan adalah wanita gampangan? Tidak, laki-laki adalah seorang pejuang. Dia dituntut untuk memperjuangkan perasaanya. Dan ketika dia melihat sang wanita memperjuangkan perasaanya, menganggap wanita tersebut gampangan adalah hal terakhir yang ada dipikirannya.

Walaupun akhir dari perjuangan wanita itu tidak indah, membenci wanita tersebut adalah hal yang terakhir akan dilakukannya. Laki-laki selalu menghormati mereka yang sedang berjuang.

Siapakah yang menyebarkan isu bahwa laki-laki harus memulai 'chat' duluan? Tidak semua laki-laki punya keberanian untuk terus memulai percakapan. Sebagian dari mereka, ada yang lelah. Lelah, karena pengalaman pahit mereka.

Ketika memulai suatu percakapan dengan wanita yang disukainya, balasan yang diterima tidak seperti yang diharapkan. Ketika 'chat' yang dikirim berakhir dengan tanda 'delivered', bahkan lebih pahit ketika berhenti di tanda 'read' tanpa ada balasan yang datang.

Laki-laki yang terlalu sering terjebak di situasi seperti ini, lebih mengharapakan seseorang yang datang menyapanya. Menanti seorang wanita yang akan menyapanya duluan, menghilangkan duka yang selama ini dirasakan, menghilangkan ketakutan akan tanda 'delivered' dan 'read'.

Siapakah yang berani melarang wanita memperjuangkan cintanya? Jika engkau yakin dengan perasaanmu, engkau yakin laki-laki yang engkau cintai bisa membuatmu lebih baik, jangan biarkan siapapun menghalangi jalanmu. Perjuangkanlah, karena cinta memang pantas untuk diperjuangkan.

Siapakah yang menyalahkan laki-laki akan kebodohannya membaca perasaan wanita. Ini memang sifat laki-laki, dia tidak diberikan kelebihan untuk membaca apa-apa yang tersirat, apa-apa yang di 'sinyal'kan oleh wanita. Kalaupun engkau wanita, takut mengambil langkah duluan, maka berikanlah tanda yang lebih jelas kepada mereka yang engkau harapkan, semoga yang Maha Mencintai menyatukan cinta kita semua.