Berulang kali aku terangkan pada sebongkah daging yang bersarang di balik tulang rusukku, berhenti berharap!

Bisakah kau terangkan padanya, agar ia segera menghapus wajahmu yang kadung terukir pada dinding-dindingnya? Agar ia segera melupakan bayang-bayangmu yang sudah terlanjur memenuhi bilik-biliknya? Agar ia segera memusnahkan semua rasa yang tercipta di dalamnya?

Ya, pada hatiku! Aku bukannya tidak pernah melakukan itu. Sudah terlampau sering! Berulang kali aku terangkan pada sebongkah daging yang bersarang di balik tulang rusukku, berhenti berharap!

Namun berulangkali aku temui hasil yang sama. Perasaan itu semakin kuat bersarang, hingga dadaku sesak tak bisa menahan kekuatannya. Lalu, aku harus bagaimana? Jika perasaan itu terus saja mengusikku, akan aku apakan ia?

Berharap kaulah sebaris nama yang disandingkan Tuhan dengan namaku di Lauhul Mahfuz itu

Aku hanya mengeja-ngeja apa Kehendak Tuhan untuk perasaanku yang tak bernama ini. Tahukah, sejak hari pertama pandangan kita berjumpa pada satu garis yang sama, pada hari itu juga aku merasakan getar yang berbeda. Sejak hari itu, aku mulai berikrar pada diriku, agar tak sepatah kalimat pun terlepas dari mulutku saat bersua denganmu.

Aku ingin menjagamu dengan penjagaan yang sudah digariskan Tuhan. Aku sangat berharap, kaulah sebaris nama yang disandingkan Tuhan dengan namaku di Lauhul Mahfuz itu.

Advertisement

Biarlah diamku yang memberi nama pada rasa yang selama ini bersarang dalam dada..

Semoga kau selalu menjadi pribadi yang menenangkan

Saat tawa kita meruang, mataku sibuk menatapmu meremang. Melihat tawa lepas dengan penuh wibawa yang selalu membuatku lega setiap kali melihatnya. Aku mencoba menghela napas panjang, lalu sedetik kemudian bulir-bulir bening itu menetes dari pelupuk mataku, tak tersadarkan dan tak tertahankan.

Semoga kau tetap menjadi pribadi yang menenangkan. Do’a yang selalu aku bisikkan kepada Tuhan. Harapan yang selalu aku tuliskan di akhir perbincangan kita. Lalu kau, mungkin dengan senyum manis yang begitu meneduhkan, “Iya, semoga saja.

Akulah perempuan yang berulang kali membuka-buka histori perbincangan kita di media sosial, hanya untuk menenangkanku saat kau tak pernah lagi menghubungiku. Akulah perempuan yang selalu mencoba mencari-cari alasan untuk selalu mengirimu sebaris pesan singkat untuk mengobati lara saat kau tiada.

Namun saat yang bersamaan, akulah perempuan yang telah menggadaikan malu untuk sekedar menyapamu terlebih dahulu, padahal kodratku sebenarnya adalah menunggu. Sadarkah kau akan semua itu?

Aku lupa, kitalah potret ketidakmungkinan yang sebenarnya

Ada ketidakmungkinan yang menjadi sekat antara aku dan kamu. Namun, bisakah perasaan yang bersarang dalam dadaku ini menghancurkan dimensi yang memisahkan aku dan kamu? Sederhana inginku, agar kau tahu bahwa tindak tandukmu selama ini berhasil menanam benih dan menumbuhsuburkannya di dalam rongga hatiku.

Aku tak berani menyimpulkan bahwa benih itu bernama cinta. Aku tak ingin memberi ruang bagi pengharapan itu dalam hatiku. Biarlah, ketika aku telah melangkah untuk pergi, perasaanku tinggal bersama catatan kecil yang mungkin tak akan pernah kau baca ini.

Karena lidahku terlalu kelu untuk sekedar menyebut namamu, terlebih tubuhku yang tak mampu menahan goncangan hebat saat hatiku dari bilik yang berbeda mengharapkan hatimu, serta saat jantungku mencoba menyamakan irama dengan detak jantungmu namun tak jua bertemu pada nada yang pas, aku ingin menyampaikan ini, bersama goresan-goresan dari tarian jemariku, kepada kamu, aku mencintaimu.

Kusayangkan hatiku tak menjadi tempat ternyamanmu untuk tinggal

Telah lama aku berkutat dan berjuang dengan perasaan yang tak sama dengan rasamu. Mungkin kau akan lebih bahagia jika aku tak memiliki perasaan ini untukmu. Semua terasa begitu berat..

Mungkin hanya aku saja yang merindukan pertemuan yang tak pernah kau harapkan..

Apalah dayaku, kusayangkan hatiku tak menjadi tempat ternyamanu untuk tinggal, kusayangkan ia tak menjadi tujuan utamamu untuk kembali pulang. Namun aku akan terus berjuang dengan diamku ini, dengan perasaan yang tak pernah kau gubris. Aku sangat paham, hati kita berada pada dua kutub yang berlawanan, hingga sangat sulit untuk dipersatukan.