Beberapa hari lalu, seorang teman mereferensikan salah satu catatan kecilnya di Facebook. Ia mengritisi pemakaian frasa move on di masyarakat lokal. Menurut dia, jika move on yang dimaksud oleh khalayak adalah bukan arti sebenarnya.

Move on banyak diartikan sebagai momen melepaskan diri dari kenangan, atau pindah ke lain hati. Padahal, arti sebenarnya (dalam bahasa Inggris), frasa ini menunjukkan arti:

Move, dalam bahasa Inggris punya banyak arti: geser, pindah, gerak, dan lain sebagainya. Sedangkan On, ini lebih banyak lagi artinya, kata tunjuk tempat, nyala, terpasang, lanjut, dan sebagainya. Move on, ini merupakan phrasal verb (kata kerja frase) yang artinya terus bergerak. ~ Hafsya, 2015

Okelahya, selama kita semua masih menafsirkan arti yang sama, terlepas dari miskonsepsi move on secara etimologi, saya ingin berbagi beberapa hal (yang bagi saya cukup penting) merugikan yang mungkin kamu alami kalau kamu OGAH MOVE ON.

Move on-nya boleh apa aja. Boleh tentang pacar, selingkuhan, gebetan, kegagalan akademik, proyek butut, cita-cita usang, apapun!

Tapi, kamu harus sadar, the longer you hold the grudge the more painful you feel.

Advertisement

YOU HURT YOURSELF. Keputusan buat memendam rasa sakit adlaah keputusan yang tidak bijak Memang, hanya waktu yang bisa menyembuhkan.

Kemungkinan paling baik dari poin yang pertama ini adalah dia juga merasakan hal yang sama. Dia juga memendam rasa sakit. entah sakit yang lebih dalam atau justru sebaliknya. Tapi, apapun itu, kalian sama sekali tidak mendekati solusi apapun. Yang terjadi adalah kesakitan diri sendiri yang memilukan. Perasaan tersiksa yang tak berujung. Yang rasanya selalu meningkat berkali-kali lipat saat mengenang segala tentangnya.

Saat mendengar lagu favorit kalian berdua, atau melewati kafe tempat kalian biasa berkencan, atau melihat fotonya di profil media sosial.

Sayang sekali jika hal baik yang berseliweran di sekitar kita harus nampak samar-samar dan berlalu begitu saja. Hanya karena ogah move on?

YOU MISSED THE GOOD CHANCE(S). Tentu saja tidak ada parameter khusus untuk menentukan berapa lama waktu ideal untuk segera move on. Rasanya hal ini sangat tergantung dengan banyak variabel. Banyak kemungkinan, dan banyak situasi lingkungan. Belum lagi faktor psikis. Pasti akan sangat panjang membahas poin nomor dua ini,

Tapi ada satu hal yang pasti, waktu tidak bisa terulang. Sebagaimana semua hal yang telah terjadi yang membuat kamu susah move on. Begitu juga kesempatan. Hal-hal baik di dunia ini jarang sekali terjadi dua atau tiga kali berturut-turut. Saat kesempatan baik itu datang, ia akan segera hilang.

Sekarang, coba ingat-ingat ada berapa cowok/cewek yang modusin kamu selama ini? atau berapa tawaran interview yang masuk ke email kamu? Atau undangan traveling dari alumni SMA yang kamu tolak? Sayang banget!

Apa yang paling buruk dan seorang loser? Adalah mereka kehilangan kendali atas diri mereka sendiri.

YOU LOST YOUR CONTROL. Seharusnya sih, poin ketiga ini jadi poin pembuka atau penutup, tapi entahlah, saya rasa ini sebaiknya saya jadikan sebagai Si Penengah. Karena posisinya strategis, dan hampir bisa menjelaskan dan memperkuat semua poin, baik sebelum atau sesudahnya.

Susah move on sama saja dengan menyerah. Alih-alih melewati semuanya dengan baik, mereka akan dengan rela terseret arus kesedihan. Membiarkan dirinya dikendalikan oleh apa yang mereka benci. Apa yang membuat mereka sakit. Apa yang membuat hidup mereka berantakan.

Apakah itu semua bukan sebuah kerugian? Kehialangan kendali atas diri sendiri? Apalagi yang lebih menyedihkan dari hal itu?

Akhirnya, kamu sadar setelah membaca tulisan ini, sudah berapa lama kamu menjadi objek bully yang memalukan.

YOU LET YOURSELF BULLIED. People are cruel. Our society is even more! Setelah kalian menyakiti diri sendiri, kehilangan jutaan kesempatan baik, dan mejadi yang paling lemah karena telah kehilangan kontrol diri. Apa yang bsia kamu lakukan? Terdiam. Lalu mendengar komentar orang-orang.

Memang, tidak semua orang yang berkomentar punya maksud buruk. Banyak juga yang tujuannya adalah menasihati, memberi semangat, dan mengingatkan. Sayangnya, lebih banyak lagi yang menjadikan ke-susah-move-on-an kamu sebagai objek dagelan.

Saat komentar-komentar itu semua hilir-mudik di telinga. Saat kamu yang awalnya merasa itu semua biasa, lalu perasaan kamu berubah menjadi lebih sensisitif dan menanggapai omongan itu dengan dramatis, kemudian kamu mulai menerima semua komentar mereka, dan kamu kembali jengah dengan segala pengulangan-pengulangan yang terjadi, akhirnya, kamu sadar setelah membaca tulisan ini, sudah berapa lama kamu menjadi objek bully yang memalukan.

Buat apa memupuk kebencian dan menunggu buahnya yang pahit menjadi menu utama setiap hari?

YOU HATE HER/HIM EVEN MORE. Ternyata efek susah move on bisa lebih dahsyat. Awalnya kamu akan dengan senang hati menghapus kontaknya dari ponsel kamu. Kemudian memblok semua akun sosial media mereka. Lalu kamu mulai menghindari acara-acara yang memungkinkan kalian bertemu. Atau memaksa tidak melihatnya saat harus berpapasan. Puncaknya, kamu akan mengaku dengan tegas tidak pernah mendengar atau mengenalnya sama sekali.

Apa itu bukan benci? Apa itu hal yang menyenangkan untuk dilakukan?