Konon katanya, pendidikan adalah hal penting dalam hidup ini, semakin tinggi pendidikan semakin banyak pula wawasan serta pemahaman yang kita miliki tentang dunia ini. Hal tersebut memang benar adanya. Namun jika kita tinjau lebih dalam lagi, bermodal pendidikan saja tidak cukup dalam kegiatan mengurus anak.

Dalam sebuah keluarga, semakin tinggi pendidikan orang tua maka (katanya) akan mampu mendidik anaknya dengan baik dan benar. Namun jika ditelusuri lebih dalam lagi pendidikan tinggi yang dimiliki oleh orang tua belum mampu menjamin seorang anak memiliki masa depan yang cerah.

Terdapat beberapa faktor lain yang juga mempengaruhi masa depan seorang anak. Faktor-faktor tersebut bisa datang dari luar maupun dari dalam anak itu sendiri. Lingkungan disebut-sebut menjadi faktor yang penting bagi tumbuh kembang seorang anak. Lingkungan yang positif akan memberikan dampak positif juga kepada sang anak. Sebaliknya jika lingkungan yang negatif cenderung akan membawa sang anak terjerumus pada hal yang negatif pula.

Pendidikan memang perlu, tapi keharmonisan rumah tangga juga penting.

Kita boleh saja mengenyam pendidikan setinggi – tingginya untuk mendapatkan sebuah kedudukan, namun dalam hal berkeluarga apalagi mengurus anak tidak bisa hanya mengandalkan pendidikan akademik saja. Keluarga merupakan lingkungan terdekat dari si anak. Segala sesuatu yang dialaminya pertama kali pasti berada di dalam lingkungan keluarga. Hubungan yang harmonis serta terbuka antara ayah, ibu, dan anak menjadi prioritas di sini.

Advertisement

Tidak afdol rasanya jika orang tua memiliki pendidikan yang tinggi namun dalam kesehariannya selalu ada pertengkaran dan suasana yang tidak nyaman dalam keluarga tersebut. Maka dari itu untuk terciptanya keluarga yang harmonis, orang tua juga harus memiliki kecerdasan emosional yang baik. Kecerdasan emosial yang dimaksud adalah menciptakan suatu hubungan yang baik antara orang tua dengan anak. Hubungan tersebut dapat tercipta apabila dalam sebuah keluarga terdapat aturan dan juga pembagian peran yang jelas.

Dalam sebuah keluarga perlu adanya aturan keluarga (family rules) yang menentukan cara seseorang berinteraksi satu sama lain dalam keluarga. Aturan tersebut bisa dalam bentuk yang konkrit/lisan atau bisa juga abstrak sebagai kesepakatan yang tidak terkatakan tetapi dijalakan dalam keluarga. Aturan tersebut dapat ditanamkan kepada anak sejak kecil, agar dalam perkembangan si anak mampu mengimplementasikan aturan tersebut sehingga akan tercipta suasana yang harmonis dalam suatu keluarga.

Jangan terlalu ambisius, sang anak juga punya impian.

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi orang sukses di masa depan, namun bukan berarti orang tua boleh memaksakan anaknya menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Sering kita lihat orang tua mendidik dan mengarahkan anaknya menjadi apa yang mereka (orang tua) mau, bukan menjadi apa yang anak mereka mau. Bukan bermaksud menggurui, tapi tindakan seperti itu jelas salah.

Jika seorang anak mempunyai impian, ada baiknya orang tua mendengarkan dan membimbing sang anak bukan malah memaksakan kehendak sendiri. Percayalah, anak juga ingin hidup bahagia, mereka juga ingin pendapatnya dihargai, bukan dipatahkan semangatnya melalui penolakan atas dasar keinginan orang tua. Sederhananya, apakah kalian (para orang tua) ingin melihat anak kalian hidup dalam kebahagiaan semu hanya demi memenuhi hasrat ambisius kalian? Jika tidak, berhenti menjadi orang tua ambisius dari sekarang.

Saat menjadi ibu ubahlah mindsetmu.

Saat kau masih menjadi seorang gadis kau bisa saja ingin mencari karir yang sesuai dengan keinginanmu, kau masih bebas untuk memilih pekerjaan yang sekiranya cocok dengan minatmu. Namun saat kau sudah berkeluarga, tolong ubah sedikit mindsetmu. Bukan bermaksud menggurui, tapi menurut saya pribadi tidak baik rasanya jika hanya memikirkan karir dan materi semata sementara kau memiliki anak yang harus kau rawat.

Saat kau berstatus sebagai seorang ibu hendaknya curahkanlah perhatianmu ke anakmu. Ikhlaskan pendapatanmu dan biarkan suamimu melaksanakan kewajibannya untuk mencari nafkah.

Sekali lagi saya tekankan bahwa saya tidak melarang kalian calon – calon ibu untuk bekerja, kalian boleh bekerja tapi jangan lupakan kewajiban kalian untuk mengasuh anak. Kecuali kalian ingin menyumbangkan anak kalian kepada pembantu rumah kalian ya sah – sah saja kalau dia dirawat oleh pembantu.

*****

Well, mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan terkait dengan masalah rumah tangga dan keluarga. Jujur saja ini adalah tulisan terberat yang pernah saya tulis, selain karena belum menikah, saya juga dipaksa untuk berimajinasi tinggi dalam menulis tulisan ini.

Yah, intinya hidup ini harus seimbang, kalian bisa saja menjadi orang hebat dalam dunia pendidikan, tapi kalian belum tentu bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak – anak kalian.

Semua kembali ke mental. Jangan buru – buru ingin berkeluarga hanya karena banyak pertanyaan “kapan?" yang menerpa kalian. Karena menikah bukan tentang seberapa bagus foto preweddingnya tapi seberapa kuat keharmonisan keluarga itu tetap terjaga.