Siapa yang tak ingin biduk rumah tangganya awet hingga akhir masa? Tentu, semua pasangan di seluruh dunia yang dibius oleh api asmara akan berjanji sehidup semati, menjaga rumah tangganya hingga akhir dunia. Namun apa mau di kata, itu hanya sebatas janji manusia yang di tengah jalan bisa saja teringkari. Buktinya, setiap kali kamu mendatangi pengadilan agama, berapa banyak pasangan yang setiap harinya melayangkan gugatan cerai ke pasangannya.

Itulah mengapa pernikahan sering kali diibaratkan dengan bahtera rumah tangga. Kata ‘bahtera’ sering digunakan untuk menggambarkan perjalanan panjang mengarungi lautan bebas dengan menggunakan sebuah kapal. Jika hanya ombak kecil yang menerjang, maka kapal akan tenang dan terus melaju.

Sebaliknya, jika di depanmu terdapat badai, maka sudah pasti kapal akan terhempas, bahkan pecah menjadi kepingan yang tak mungkin bagi siapapun untuk memperbaikinya. Sama seperti itulah menjalani rumah tangga.

Jika itu yang terjadi pada orang tuamu, maka tak sepatutnya kamu menyalahkan orang tua atas keputusan yang telah diambilnya. Tentunya, mereka sebelumnya telah memikirkan konsekuensi panjang terkait dengan hal tersebut.

Sangat wajar jika hal itu akan membuat sang anak depresi untuk sesaat, namun tidak untuk selamanya mendendam kepada mereka yang telah membuatmu terlahir ke dunia. Karena apapun yang terjadi, kasih sayangnya tidak akan berkurang sedikitpun kepadamu.

Advertisement

Ingatlah, semakin sayang Tuhan dengan hambanya, maka Dia akan memberikan ujian hidup yang berat. Anggaplah ujian tersebut sebagai suatu hal yang harus kamu hadapi untuk kenaikan kelas ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan berbagai macam ujian tersebut, hal itu juga akan menempamu menjadi sosok yang kuat dan tangguh.

Memang, terkadang rasa kecewa itu akan muncul. Namun, hal-hal inilah yang akan menghibur diri atas masalah-masalah yang ada di pikiranmu.

Sesekali wajar jika meneteskan air mata, itu adalah bentuk pelampiasan atas kekecewaanmu yang membuat bebanmu semakin lepas.

Air mata adalah bentuk paling jujur dari manusia ketika mengekspresikan emosinya. Bagi sebagian orang, menangis dianggap sebagai ketidakmampuan seseorang dalam melampiaskan emosinya. Ya, itu memang benar. Dalam beberapa kasus, kamu tak harus melampiaskan kekecewaanmu kepada orang yang bersangkutan secra langsung.

Karena, sebagai anak kamu tak sampai hati memaki kedua orang tuamu atas keputusan yang telah diambilnya. Menangisi hal yang telah terjadi merupakan hal yang sia-sia. Namun, jika itu sesekali dan itu membuatmu merasa meringankan kekecewaanmu, lakukanlah. Asalkan, setelah itu berjanjilah bahwa hal ini akan menempamu menjadi sosok yang lebih kuat dan berjiwa besar.

Ingatlah, proses recovery dan kekecewaan dalam hidup adalah masa-masa paling sulit yang harus kamu lewati, tetapi itu adalah bagian dari hidup.

Pahitnya keputusan itu cepat atau lambat akan terlewati. Percaya atau tidak, hal itu akan menempamu menjadi seseorang yang mandiri dan bijak.

Siapa yang tak ingin melihat keluarganya utuh dan harmonis? Tentu, semua orang mengidam-idamkan hal itu. Namun, tak selamanya kehidupan dapat sesuai dengan keinginan kita. Meski keputusan berpisah kedua orang tuamu sempat membuat terpukul, namun itu akan membuatmu menjadi lebih bersikap dewasa dalam menghargai keputusan yang telah dibuat oleh mereka.

Melalui pahit itulah, kamu akan ditempa menjadi sosok yang lebih bijak dalam menghadapi masalah-masalah. Bahkan secara perlahan, kamu akan berubah menjadi pribadi yang mandiri dan tidak lagi bergantung pada kedua orang tuamu (untuk hal-hal kecil yang dapat kamu selesaikan sendir).

Semua ini, semata-mata kamu lakukan hanya ingin membuktikan bahwa anak dari seorang keluarga yang terpecah juga dapat mengatasi keterpurukannya, dan bukannya malah minta dikasihani atas sesuatu hal yang telah terjadi. Tentunya, ini untuk membuktikan bahwa kami bukanlah sebuah produk gagal. Melainkan, kami adalah seorang anak yang mempunyai masa depan cerah, biarpun berasal dari keluarga yang tak lagi utuh.

Di masa depan, kamu akan berjanji memiliki rumah tangga yang bahagia. Karena, kamu sudah merasakan sakitnya sebuah perpisahan dalam keluarga.

Kamu telah merasakan kekecewaan yang teramat sangat atas jalan perpisahan yang di ambil oleh kedua orang tuamu. Namun, di balik itu semua kamu akan mempunyai tekad untuk 'membalasnya' ketika kamu berumah tangga kelak.

Kamu akan berjanji, kelak apapun yang terjadi ketika berumah tangga, tidak akan secara mudah mengucapkan kata perpisahan. Kamu akan berusaha menjadi teman, yang berbagi semua luka, duka, dan semuanya yang menyangkut permasalahan hidup dengan pasanganmu kelak.

Hidup berumah tangga memang wajar jika sesekali terdapat pertengkaran, namun itu hanya untuk beberapa hari. Tidak untuk berpisah selamanya. Meredam ego dengan mengalah adalah hal yang paling benar untuk saat-saat seperti itu. Tanpa memandang siapa yang salah, minta maaflah terlebih dahulu ke pasanganmu.

Melihat Kekecewaanmu sebagai seorang anak, kelak kamu juga harus bertekad untuk memprioritaskan buah hatimu di atas kepentingan pribadimu.

Memang, perceraian dalam sebuah keluarga bukan akhir dari segalanya. Namun, segalanya akan bermula dari sini. Terlebih, jika masa-masa kelam pertengkaran orang tua dilakukan di depan sang anak. Apa yang kamu pikirkan terkait dengan hal ini? Jelas, ini akan mempengaruhi psikologis sang anak dan berpengaruh besar menjadi trauma yang berkepanjangan.

Mulai dari sini, sang anak akan berubah menjadi pendiam,pemurung, berperilaku kasar, brutal, atau hal-hal lainnya yang dapat mengubah perilakunya. Karena kamu sudah terlepas dari jerat depresi atas jalan perpisahan yang diambil oleh kedua orang tuamu, maka di masa depan kamu juga tak ingin hal-hal seperti itu terjadi pada buah perkawinanmu kelak. Untuk itu, kamu juga akan berjanji untuk mendahulukan segala prioritas sang buah hati di atas kepentingan pribadimu.

Meskipun keluarga terpecah, bukan berarti kamu kurang perhatian. Sebaliknya, justru kamu akan banyak dihujani kasih sayang.

Banyak orang bilang, bahwa anak dari keluarga broken home akan kurang diperhatikan. Itulah sebabnya, mereka sering kali jadi anak liar yang cenderung memiliki sifat berandal. Ya, itu hanya sebatas anggapan orang yang mengira-ngira. Meskipun itu mungkin saja terjadi, namun banyak pula anak dari keluarga broken home yang menjadi pribadi mandiri, kuat, dan tangguh.

Jika itu pemikiranmu, maka itu salah! Justru, mereka semakin banyak diberikan perhatian yang ekstra. Bagaimana tidak, selepas orang tua berpisah, kami mendapatkan keluarga baru.Meskipun keluarga baru kami tidak memiliki hubungan darah, kami justru memiliki hubungan kekeluargaan yang erat, bahkan persaudaraan kami jauh melebihi keluarga sedarah yang pernah ada.

Jika banyak orang berpikiran saudara tiri sering kali berperilaku kejam, maka pikiranmu lah yang sudah dikontruksi oleh cerita-cerita FTV yang tidak masuk akal. Dari jaman Cinderella hingga upik abu, semuanya sama, cerita-cerita fiksi tersebut hanya dibuat agar lebih menarik ketika terdapat peran protagonis dan antagonis. Hanya itu, tidak ada lebih.

Melalui semua ini, telah kita dapatkan satu pelajaran terpenting dari kehidupan yang kita jalani selama ini. Bukan sesuatu yang kita inginkan, dan bukan sesuatu yang gampang untuk diterima. Kita hanya terpaksa tunduk pada suatu kuasa yang disebut dengan takdir.

Namun satu hal yang pasti, tidak ada penyesalan sedikitpun kita terlahir di dunia. Terlepas dari kita dilahirkan oleh siapa, dan dari keluarga mana, kita harus tetap bersyukur akan hal itu. Karena, selalu ada alasan untuk segala sesuatunya.