Usai menyelesaikan kewajiban sebagai seorang mahasiswa, sudah tentu aku dan kamu diharuskan menjadi insan yang mandiri. Tidak pantas lagi kalau kita masih merengek-rengek meminta dana dari orang tua untuk pergi bermain, belanja di mall, makan di kafe bersama pacar atau teman, sekedar nonton bioskop, atau rutinitas bermalam minggu. Apalagi kalau keinginan bersanding di pelaminan sudah mantap dibayangkan.

Begitu kiranya aku dan kamu berusaha memantaskan diri. Ribuan aplikasi lamaran disebar. Ratusan tatap muka dalam wawancara pun sudah dijajali. Hingga kabar baik menemui kita, aku dan kamu pun diharuskan berkalang jarak kerja yang terbilang jauh. Bagaimana tidak? Aku tetap di pulau ini, sedangkan kamu harus menyeberang bermil-mil jaraknya demi cita-cita.

Jarak adalah konsekuensi kedewasaan kita menempuh masa depan. Tapi aku bangga karena kita berkomitmen menjaga cinta tetap utuh.

Kalau boleh memilih, tentu saja aku dan kamu ingin tetap berada di kota yang sama. Aku dan kamu akan bekerja pada bidang yang dicita-citakan dari satu area yang tak terpaut jarak berarti. Namun, ada realita yang harus dihargai. Ada campur tangan Tuhan yang perlu kita ikuti untuk meraih cita-cita, yang sesungguhnya lebih baik dibandingkan yang kita mau.

Namun, aku dan kamu tak sedih menghadapi jarak ini. Komitmen kita untuk menjaga kisah ini telah disepakati jauh-jauh hari. Bahkan sejak jarak ini belum terbentang jelas di depan mata. Karenanya, aku bangga memiliki kamu. Kamu rela menyempatkan waktu sejenak untuk menelepon atau bertukar kabar lewat pesan teks. Kadang-kadang, pak pos mampir ke teras rumah demi menghantarkan kejutan sederhana darimu.

Jangan dikira kalau kisah ini adem dan ayem di tengah halauan jarak ini. Yang bersama saja mungkin berkonflik, pun kita yang terpisah ribuan kilo meter.

Jarak memang berhasil membuat aku dan kamu kuat satu sama lain. Orang yang melihatnya, acapkali mengira kisah kita ini mulus-mulus saja. Ibarat jalanan beraspal, perjalanan ini ada di jalan tol. Jangankan lubang menganga, kerikil pun tak berani menghalangi laju. Sah-sah saja sih, mereka berpendapat seperti itu. Kita bisa menjadikan itu doa dan mengamininya.

Advertisement

Tapi kalau mereka tahu yang sesungguhnya, aku hanya dapat terbahak saja. Kita pun pernah berkonflik, persis sama seperti pasangan-pasangan lain yang menjalin kemantapan hubungan. Jikalau mereka yang tak terpaut jarak bermil-mil dapat terjangkiti konflik, pun dengan aku dan kamu.

Tapi sekali lagi, aku bersyukur. Aku punya kamu yang berkepala dingin. Segala masalah kita pecahkan bersama. Tak akan ada lagi murka yang terlampau berlarut-larut. Kita semakin dikuatkan dan mengenal lebih dalam satu sama lain. Aku jadi kalau aku lahir berarti untukmu. Pun kamu bagiku.

Aku dan kamu tetap optimis dan bersyukur menghadapi jarak ini. Anggap saja, bahwa mendekatkan jarak itu belum tentu membalikkan iman kita menjadi lebih baik.

Tak akan pernah ada penyesalan untuk jarak yang kini sudah terjadi. Toh, Tuhan telah menciptakan apa yang disebut umatnya doa. Lewat doa inilah, umat-umat-Nya menunjukkan bukti nyata cinta dan kasih yang paling sahih. Seseorang boleh saja mengirimkan kado mewah berupa mobil mewah atau perhiasan permata yang mahal harganya. Tapi tidak ada yang bisa menghalangi besarnya kekuatan doa.

Tidak perlu khawatir soal jarak. Dekat itu baik. Tapi belum tentu dekat selalu lebih baik karena tidak menjadi jaminan hubungan yang langgeng atau menjadikan iman kita lebih sempurna. Justru dalam jauh, akan ada banyak pertemuan dengan Tuhan ketika aku dan kamu sedang rindu. Ketika aku dan kamu saling berharap demi kesehatan, keselamatan, dan kelancaran masing-masing.

Terima kasih Tuhan, doa ini jadi bukti cintaku padanya di tengah jarak yang luar biasa.