Masih ingat gak? Bunyi iklan “….Seindah Warna Aslinya”. Ya, kalo gak salah itu iklan kamera atau fotografi kayaknya. Zaman dulu, bukan sekarang. Nah kalo sekarang gimana? Kalo sekarang udah berubah jadi, “Tak Seindah Warna Aslinya”. Hahhh, kok bisa? Ya iyalah. Jangan negara, orang atawa manusia aja sekarang banyak yang udah berubah, tak seindah warna aslinya. Maksudnya gimana sih?

Pake nanya lagi. Maksudnya, sekarang ini banyak yang fisiknya beda ama batinnya. Yang diomong beda ama yang dilakonin. Alias pura-pura. Kalo bahasa agamanya, munafik. Serem gak sih, kalo hidup dalam kepura-puraan.

Lihat aja bangsa ini, katanya bangsa yang ramah-tamah. Itu dulu. Kalo sekarang cuma slogan doang. Nyatanya, bangsa ini sekarang sudah tidak ramah tamah. TV udah dipake buat berantem. Media sosial dipake buat ngamuk dan menebar kebencian. Termasuk benci ama pemimpin. Benci pada saja yang kita tidak suka. Sungguh, kita sudah tidak ramah tamah lagi. Ada kok bangsa lain yang jauh lebih ramah tamah dari bangsa ini.

Katanya bangsa ini gemar gotong royong. Itu dulu. Sekarang sudah tidak. Gotong-royong tinggal slogan. Gotong-royong udah berubah untuk berjamaah dalam kebobrokan. Korupsi, ngomongin orang, atau menghujat dan membenci secara bareng-bareng. Duh, pucing pucing pucing.

Tak seindah warna aslinya.

Advertisement

Sungguh, kita mungkin sudah tidak seindah warna aslinya. Siapa? Ya kita, bukan elo juga bukan gue. Tapi KITA. Kita sudah terlalu sering berpura-pura. Gak asli lagi, banyak yang direkayasa. Sampe muka ama mimik aja udah bisa direkayasa. Hatinya gak senang, tampangnya dibikin senang. Kantongnya kosong, gayanya banyak duit. Bicaranya banyak, nulis gak pernah. Gak mampu bilangnya mampu. Begitulah namanya pura-pura ….

Tak seindah warna aslinya.

Entah karena gaya hidup yang konsumtif. Atau karena hedonis. Ikut-ikutan. Atau emang ada yang salah pada diri kita. Tak semestinya kita berpura-pura. Biasakan saja apa adanya. Kalaupun diri kita yang harus berpura-pura, tolong jangan ajarkan pada orang lain. Manusia per individu boleh munafik, tapi masyarakat dan bangsa jangan sampe munafik. Ngeri alias seremm bengeudd deh.

Penampilan boleh rapi, tampan, dan menarik. Tapi sayang, hati dan pikirannya tidak rapi. Wajah boleh cantik dan simpatik. Tapi sayang, hatinya tidak cantik. Pantas, kita semakin sulit mengenali diri sendiri. Semuanya jadi semu, kamuflase. Hanya rekayasa. Kita tak lagi seindah warna aslinya. Alias pura-pura.

Emang kenapa, gak boleh apa pura-pura?

Ya gak bolehlah. Asal tahu saja. Kesamaan manusia dengan binatang dalam menyelematkkan diri adalah kemampuannya berpura-pura. Memang penting untuk selamat, tapi kalo keseringan akhirnya kita malah jadi “orang lain”. Sayang kan. Buat apa hidup kalo mau jadi orang lain. Kita unik karena jadi diri kita, apa adanya. Bukan jadi orang lain. Cieee, sok bener banget nih tulisan.

Kita tak perlu berpura-pura karena rasa takut. Gak berpura-pura karena ingin bertahan hidup. Apalagi berpura-pura untuk sebuah pengakuan atau eksistensi. Atau berpura-pura untuk mencapai tujuan agar bisa lebih mudah. Seperti kata filsafat, “simulo ergo sum”, aku berpura-pura, maka aku ada. Banyak orang tak lagi melihat cara hidup yang lain, selain cara hidup yang berpura-pura.

Mengapa kita harus berpura-pura?

Padahal kita tak ingin atau tak mau. Atau karena kepentingan, kita lantas membohongi diri. Berusaha menjadi orang lain walau berlawanan dengan hati nurani. Ketahuilah, berpura-pura menjadi orang baik itu tidak akan pernah membuat kita menjadi benar-benar baik.

Terus jadinya gimana dong?

Emang sih, kita gak perlu jadi orang yang paling benar. Atau pengen jadi yang paling suci. Pengen paling segalanya. Katakan tidak. Kita hanya ingin jadi diri kita sendiri. Agar kita tetap “seindah warna aslinya”. Udah itu saja cukup kok, jadi diri sendiri tanpa perlu berpura-pura. Itu lebih baik ….