Perbedaan jadi tidak berarti, karena hati telah memilih. Di mataku kita berdua satu, apapun yang mengganggu, cinta takkan salah.

Begitulah penggalan lagu yang dinyanyikan Gita Gutawa berjudul Cinta Takkan Salah.

“Perbedaan itu mempersatukan” adalah kata-kata yang banyak diucapkan dan banyak disetujui. Akan tetapi, bagaimana dengan kenyataan bahwa perbedaan itu akhirnya menjadi ancaman terbentuknya sebuah jarak yang memisahkan?

Kenyataannya, banyak pasangan yang dipersatukan karena memiliki banyak kesamaan, misalnya selera musik yang sama, makanan kesukaan yang sama, umur yang sama, serta budaya yang sama. Kesamaan-kesamaan ini menjadi pendukung juga dalam keharmonisan sebuah hubungan.

Bagi banyak orang, perbedaan menjadi semacam power yang mampu menyeimbangi dua insan dalam menjalin hubungan. Memang dalam menjalin hubungan, akan selalu ada persamaan dan perbedaan yang mewarnai, namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah perbedaan yang dominan atau kesamaan yang dominan?

Advertisement

Pernyataan bahwa "perbedaan itu akan membentuk keseimbangan" hampir-hampir menjadi kalah, ketika melihat kenyataan, misalnya ada pasangan yang memutuskan hubungan mereka dengan alasan beda prinsip, beda agama, beda umur, dan beda budaya.

Apabila "perbedaan itu mempersatukan" adalah benar, maka mungkin saja saat ini tidak akan terjadi perpisahan-perpisahan akibat banyaknya perbedaan. Perpisahan adalah hasil dari ketidakmampuan mengatasi perbedaan, sehingga pada akhirnya yang beda akan dibiarkan berjalan masing-masing. Keseimbangan tidak terjadi ketika perbedaan itu dipersatukan; keseimbangan hanya akan berjalan jika "yang beda" itu berada di lintasannya masing-masing.

Perbedaan tidak membentuk keseimbangan; perbedaan itu membentuk keragaman. Keragaman bisa diterima hanya jika hati mau memilih untuk menerimanya. Pada akhirnya, perbedaan memang tidak selamanya mampu mempersatukan.