Kita tidak pernah tahu apakah ekspektasi dengan realita kehidupan itu akan berjalan bersamaan atau tidak.

Dulu, saya pernah merencanakan sesuatu hal yang cukup berpengaruh bagi kehidupan saya kedepannya. Dulu, saya pernah meyakini sesuatu hal yang nantinya akan menjadi milik saya selamanya. Tapi Alloh sepertinya merasa bahwa itu semua tidak akan terjadi sebagaimana mestinya. Saya pernah mencintai seorang pria dewasa yang mempunyai pengaruh besar pula selama setahun terakhir yang lalu. Saya berharap penuh padanya.

Saya yakin padanya. Hingga saya pernah memutuskan untuk tidak tertarik kepada lelaki mana pun. Saya dan pria itu melewati suatu hubungan yang bisa dikatakan rumit karna memang pada dasarnya bahwa dia tak ingin "memacari" saya dengan seribu alasan yang dia buat. Salah satu alasan yang saya percayai dengan kuat yaitu memang karna dia sedang menyelesaikan study nya di salah satu kampus Diploma 3. Dia adalah mahasiswa tingkat akhir. Saya selalu berusaha mendukungnya untuk segera menyelesaikan skripsi nya. Orang disekitar saya memandang saya bahwa saya terlalu bodoh untuk bertahan selama itu. Begitu terus hingga pada akhirnya saya menyerah.

Saya merasa dia tak pernah lagi membutuhkan saya. Tak pernah lagi menghubungi saya. Hingga suatu ketika saya menghubungi nya memberi tahu secara spontan bahwa ada seseorang lelaki lain yang sedang berusaha mendapatkan hati saya membantu saya keluar dari kegelapan dan kesepian yang sebenarnya. Saya tak peduli dengan pikiran anda semua kalau saya gampang menyerah atau sejenisnya. Saya rasa saya juga ingin merasakan kebahagian yang semestinya bukan kebahagian ilusi yang selalu ada dipikiran saya setahun kemarin. Lelaki itu kini sekarang menjadi pacar saya. Dia yang selalu berusaha membuat hati saya tenang, damai bahkan tertawa. Well, pesan saya dari pengalaman hidup saya yaitu

Kebahagiaan itu kita bentuk. Kebahagiaan itu pilihan. Karena sebagaimana mestinya kebahagiaan itu kita yang tentukan bukan orang lain.