Tentu saja saya tidak tahu sejak kapan paradigma aneh ini mulai mewabah di bumi. Bisa jadi hal ini telah ada sesaat setelah Adam dihempaskan dari surga. Karena mendustai perintah Tuhannya.

Saat di mana para makhluk Tuhan yang diberinama Setan itu kemudian bersumpah. Akan selalu dnegan hati riang menggoda anak-cucu Adam. Bagaimanapun caranya, dari manapun arahnya, sampaikapanpun masanya. Mereka, Setan dan keluarga besarnya, telah mengikrarkan janji laknat itu.

Kita, anak dan cucu Adam, lalu harus dengan hati lapang menerima tantangan dari musuh bebuyutan kita itu. Mereka yang dengan lihai mengelabui kita, memberikan pemahaman yang keliru, menyatakan kenikmatan dunia yang tiada habis, serta menjadikan kita sebagai media paling asyik untuk kian dekat dengan musyrik.

Itu semua bisa jadi yang melatari mengapa kini banyak sekali yang lebih menganggap hebat orang-orang ahli maksiat dibanding mereka yang menjadi taat.

Kita tidak bisa menyalahkan perkembangan zaman yang semakin praktis dan hedonis atas masalah ini.

Karena sesungguhnya ini adalah urusan personal. Karena menyangkut apa yang kita yakini, apa yang kita anut. Begitu juga dengan memberikan pendapat. Yang beranggapan bahwa yang maksiat lebih hebat daripada yang taat juga pada dasarnya tidak bisa disalahkan.

Advertisement

Mungkin, yang paling bisa dikambinghitamkan adalah cara berpikir dan preferensi hidup manusia yang semakin materialistis. Kita semua, baik beranggapan maksiat itu hebat atau sebaliknya, telah terparangkap dengan gaya hidup yang media oriented.

Popularitas, komunitas, dan materi seperti menjadi sumber kebahagiaan paling mutlak di dunia. Itu yang menambah kesan bahwa yang maksiat lebih hebat daripada yang taat.

Padahal, faktanya, maksiat lebih mahal daripada taat. Itu yang bikin dia hebat?

Mahal dalam arti sebenarnya dan arti yang lebih luas lagi. Sebelum jauh membahas mana yang lebih hebat. Ada baiknya kita menyamakan persepsi terlebih dulu. Yang saya maksud dengan maksiat di sini adalah kegiatan yang mubazir dan miskin manfaat. Sebut saja, mabuk, seks pra-nikah, pacaran, berjudi, termasuk di dalamnya mengumbar kemolekan tubuh. Kalau ada yang tidak setuju dengan definisi itu, silakan abaikan artikel ini 🙂

Versi KBBI, maksiat adalah:

maksiat/mak·si·at/ n perbuatan yg melanggar perintah Allah; perbuatan dosa (tercela, buruk, dsb)

Dari situ, saya rasa kita bisa sepakat, dari sudut pandang agama atau keyakinan apapun, kalau maksiat adalah hal yang tercela, bukan?

Dari beberapa contoh kemaksiatan yang saya misalkan di atas. semuanya juga punya potensi buruk yang dahsyat. Pertama, hal-hal itu menuntut kita untuk senantiasa membeli sesuatu yang jauh dari manfaat. Menambah kental gaya hidup konsumtif dan hedonistis. Belum lagi efek jangka panjangnya. Waaah, bisa dibuat berseri nih artikel ini 🙂

Lalu, kalau sudah tahu tercela, costing money, dan punya efek panjang yang merugikan. Masih bisa dilliang hebat? Masih wajar dielu-elukan?

Atau karena yang taat adalah yang minoritas?

Rasanya tidak juga. Saya yakin mereka yang memilih untuk lebih taat menjalankan ajaran agama, secara kuantitas masih tergolong masif kok.

Supaya adil, kita cek arti "taat" versi KBBI dulu yuk!

taat/ta·at/ a 1 senantiasa tunduk (kpd Tuhan, pemerintah, dsb); patuh: Nabi Muhammad saw. menyeru manusia supaya mengenal Allah dan — kepada-Nya; 2 tidak berlaku curang; setia: ia adalah seorang istri yg –; 3 saleh; kuat beribadah:

Nah, yang saya maksdu di sini adalah definisi yang pertama. Taat dalam konteks berkeyakinan. Kalau yang taat dikira kurang hebat karena dianggap minoritas, rasanya kok ironi, ya? Pertama, kita hidup di negara yang digadang-gadang punya penganut agama Islam paling besar di dunia. Kedua, berarti, yang beranggapan maksiat lebih hebat daripada taat adalah mereka yang sebenarnya punya potensi untuk taat juga? Gitu? Tapi merekalebih milih untuk berkutat dengan maksiat?

Ah gimana sih? Jadi semacam pepatah:

Menepuk air di dulang terpecik muka sendiri

GItu?

Yang penting sekarang sih. Pede aja walau dibilang cupu atau nggak gaul atau syar'i banget!

Kalau perkaranya cuma "hebat" atau "nggak hebat" sih, nggak perlu lah yaaa dipikirin sampe sebegitunya. Toh, masing-masing dari kita punya parameter kebahagiaan batin yang berbeda.

(masih) Menurut saya, yang paling logis dilakukan adlaah saling bertoleransi. Saling bersabar dengan apapun gaya hidup yang dipilih. Buat yang memang doyan maksiat, nggakpapa kok. Buat yang taat, terus berdoa biar tetap istiqamah.

Menghargai satu sama lain dengan menunjukkan sikap terbuka. Menjauhi potensi kebencian dan tetap menjunjung tinggi azas kesamarataan. Rasanya itu jauh lebih penting dibanding memusingkan diri cari tahu mana yang lebih hebat 🙂