Kepada hati yang selalu sabar berkali kali. Terima kasih, hingga kini kau tetap tabah menjalani hari. Meski selalu ada yang datang dan pergi. Terima kasih, hingga kini kau tetap setia menanti. Dalam taat, serta tunduk pada Ilahi.

Sebab, telah aku nobatkan kepada hati. Bahwa yang datang kemarin, tentu hanya ilusi. Sedang yang datang hari ini, bukanlah yang hakiki. Tetapi nanti, yang datang bersama cinta sejati itulah yang abadi.

Bukan dia yang salah. Sebab tak mau kalah, datang tergesa lalu menyerah. Namun hatilah yang berkali-kali mengalah. Kepada nafsu dan seonggok amarah. Hingga lelah untuk menanggapi cinta yang tak berkah.

Lagi-lagi bukan dia yang salah. Sebab terburu membawa nafsu atas nama cinta yang indah. Padahal waktu belum seutuhnya milik bersama hingga timbullah resah. Namun hatilah yang tak lagi mudah menerima cinta yang murah.

Maka lebih indah, bila hati tersimpan pada tempat yang lebih aman. Hingga ada yang berjanji menjaga hati, pada pemilik persembunyian. Hingga ada yang datang dan tak akan pernah pergi sampai maut memisahkan.

Advertisement

Aku tahu, terkadang kau juga ingin diperhatikan. Kau juga berharap ada yang mengingatkan setiap makan. Kau juga ingin dihubungi berjam-jam. Kau juga.. Kau juga.. Ah sudahlah, akan sampai kapan? Bukankah keberkahan hanay didapat oleh cinta yang berlandaskan iman?

Kepada hati yang kali ini tetap bersembunyi. Tetaplah begini. Jangan lelah menanti. Jangan gerah bersilek hingga terlihat rapi. Untuk dia yang berjanji menjagamu hingga akhir nanti. Untuk dia yang memiliki cinta berlandaskan cinta IllahiRabbi.

“Kepada hati yang bersembunyi, bersabarlah menanti” – dfh