Semua orang pasti menginginkan dan merasakan kebebasan yang sesungguhnya.

Semua orang pasti pernah merasa berpura-pura baik-baik saja di antara kecamuk hati.

Lalu kamu berusaha Berbicara pada Hati, apa yang sedang hatimu rasakan. Tapi satu hal yang harus kamu pahami, Hatimu tidak bisa membedakan baik atau tidaknya rasa yang sedang ia miliki. Maka dari itu kamu perlu menggunakan pikiranmu untuk menuntunnya. Sayangnya ketika hatimu tergila-gila pada cinta, Pikiranmu seolah tak didengarkannya.

Pada suatu ketika, kamu memilih membangun tembok tinggi untuk menutupi hatimu kembali. Menjauh dari semua hal yang menyesaki. Bagimu kala itu adalah Kekecewaan yang teramat sukar untuk terobati. Mungkin benar kata sebagian dari mereka bahwa berharap selain pada Tuhanmu, kamu sedang menggali kuburan untuk hatimu. Ah, kamu baru menyadari kebodohanmu setelah kehilangan.

Kamu berdiam diri dalam ruang kosong, karena kamu ingin berbicara pada hati. Tentang ia yang begitu mudah percaya. Tentang ia yang basah oleh air mata. Tentang ia yang berusaha menyimpulkan senyum ‘Aku baik-baik saja’. Tentang ia yang terluka kembali pada perasaan yang sama.

Advertisement

Maka kamu duduk bersimpuh di atas sajadahmu, bukan karena kamu ingin mempertanyakan tentang takdir Tuhanmu, tapi karena kamu tahu bahwa hanya Tuhanmu yang paling mengerti makna senyummu seharian tadi.

Pada akhirnya airmata yang sedari tadi berbalut senyum, tertumpahkan juga. Kamu menangis terisak-isak, kesakitan yang sedari tadi kamu redam terluahkan semua.
Ah, bukankah hidup itu selalu seperti itu? Kita sudah merasa berbahagia, karena cinta pada manusia. Lalu ketika cinta itu binasa, kita mencari-cari alasan atas luka tersebut. Yang sejatinya, kita tak pernah tahu, bahwa bukan kita saja yang dianugerahi luka di hati.

Dan lagi-lagi kamu merasa semakin kerdil, sebab sejauh apapun kamu berlari menjauhi segala penyebab dari luka tersebut. Bukankah kamu sendiri tahu bahwa luka di hati adalah tanda bahwa kamu sedang belajar? Belajar bagaimana mengobatinya. Belajar membujuknya untuk tak lagi sakit. Belajar untuk membuatnya semakin tangguh dan tabah ketika ia kembali jatuh lagi (nanti mungkin saja). Setidaknya kamu sudah tahu bagaimana untuk lepas dari segala belenggu yang kamu ciptakan sendiri.

Kamu sadar bahwa setiap hati memiliki cara sendiri untuk bangkit.

Wahai hati, masihkah kamu enggan untuk merelakan? Bukankah kamu sudah sangat memahami bahwa apa-apa yang bukan milikmu tidak seharusnya di simpan lama-lama? Ya, mungkin jika saya menyuruhmu untuk ikhlas bukan berarti karena saya ingin bebas. Tapi karena dengan ikhlaslah kamu merasa benar-benar bebas.

Wahai hati, kamu hanya perlu berdiri lagi.

Karena seseorang yang begitu dalam terluka, adalah orang yang bisa mencintai begitu dalam. Karena luka yang dalam pasti disebabkan oleh cinta yang begitu besar. Berbanggalah hati yang mencintai dengan tulus, suatu hari nanti pasti kamu dapati pemilik yang sejati menghargai segala ketulusanmu.