Hey, kalian yang selalu mempertanyakan keputusanku untuk hidup sendiri tanpa pacar. Kalian yang sekali-dua kali mengajakku pacaran, juga kalian yang sering menertawaiku karena aku jomblo…

Kalian bilang, betapa menyedihkannya hidupku. Betapa aku pasti kesepian. Kalian bilang, aku gagal move on dan tak jarang juga bilang aku ini gagal laku. Dan beberapa dari kalian yang 'kemarin' sempat mengajakku untuk pacaran dan juga mengajakku untuk 'kembali'. Kalian yang kemudian terbelalak ketika kubilang aku sedang menepi dari segala sesuatu tentang pacaran. Bahwa aku sedang ingin sendiri.

Beberapa dari kalian, masih juga ngotot mengajakku pacaran. Kalian bilang, tidak akan mengajakku melakukan hal yang salah selama kita pacaran. Kalian bilang, akan menjadi pacar terbaik. Kalian bilang akan membuatku bahagia. Aku tahu semua reaksi kalian itu hanyalah karena kalian tidak mengerti pada prinsip yang telah kupilih. Hanya karena kalian merasa aneh dengan pilihanku atau dengan jalan hidup yang sedang kucecapi. Jalan hidup yang kata kalian salah, menyedihkan, dan aneh.

Baiklah. Mari kujelaskan agar kalian mengerti!

Aku bukannya tak pernah pacaran. Dulu aku bahkan pernah pacaran dengan seseorang yang kucintai sepenuh hati.

Kalian yang mengenalku lama, pasti tahu kisah ini. Dan kau yang di sana, pasti tahu kalau ini tentang kita. Pada zaman dulu (duluuuu sekali), aku memang pernah mencintai seseorang sepenuh hatiku. Memberikan semua yang dimiliki hatiku dan pada titik ini bersyukur tak pernah memberikan ragaku.

Advertisement

Dia, seseorang yang menemani masa remaja dan masa bertumbuhku. Dia yang bertemu denganku, jatuh cinta denganku, menjadi pacarku selama empat tahun, mencecap banyak rasa bersama, melalui banyak perjuangan hidup bersama, kemudian dia jatuh cinta lagi dengan perempuan lain. Dia meninggalkan aku yang berusaha tetap berdiri tegak dan perlahan melupakannya, berhasil, dan sekarang semuanya tinggal sejarah.

Kalian tahu, dulu aku sombong sekali dengan berpikir kekuatan cinta kami mampu mengalahkan segalanya. Bahkan kupikir juga mampu merubah takdir. Dia teramat mencintaiku (katanya) dan aku sangat mencintainya. Kami sudah melalui banyak kisah bersama. Kami tak selalu bahagia tapi kami bertahan. Aku yakin kami pasti berjodoh. Tapi kemudian Tuhan menamparku dengan sebuah kejadian yang tak bisa kuhindari.

DIA JATUH CINTA LAGI!

Klise, kan? Sedehana? Simple? Dia bilang, dia tak pernah berpikir pada suatu titik dia akan jatuh cinta lagi dengan gadis lain dan mengkhianatiku. Aku pun tak pernah menduga dia akan mengkhianatiku.Tapi dia melakukannya. Dia bilang, dia tak pernah menduga pada suatu ketika dia akan meninggalkanku untuk gadis lain. Dan aku tak pernah berharap dia akan pergi begitu saja.

Pada akhirnya, kami saling melepaskan semua ikatan dan memilih menapaki jalan yang berbeda. Sekarang, ketika aku memilih sendiri dulu tanpa pacaran, itu sungguh tak berarti aku masih mencintainya. Dia dan semua sejarahnya sudah kutinggalkan jauh di belakangku. Sekarang aku bahagia menjalani hidupku tanpa dia. Aku sudah move on. Hanya saja, aku tak pernah berpikir bahwa move on-ku harus dibuktikan dengan punya pacar baru.

Aku justru belajar banyak dari kisah itu. Aku belajar bahwa pacaran memang selalu menjanjikan banyak hal. Tapi pacaran tak pernah mampu menjaminkan apapun. Semua kisah pacaran mungkin dimulai dengan kebahagiaan yang nyaris sama. Tapi tidak semua pacaran diakhiri dengan kalimat manis seperti dalam dongeng Cinderella, "Mereka pun menikah dan hidup bahagia selamanya." Pada akhirnya, kita harus menerima bahwa pacaran bukanlah tentang jodoh.

"Jodoh adalah tentang takdir. Dan keduanya bukanlah menu makan malam yang hidangannya bisa kita pilih sendiri."

Jadi, teruntuk kalian yang selalu merasa perlu mengajariku tentang pacaran, ketahuilah bahwa di balik diam dan kesendirianku, aku jauh lebih berpengalaman dari yang kalian pikir. Bahkan mungkin jauh lebih berpengalaman dari kalian.

Aku jauh lebih berbahagia seperti ini.

Kalian tahu kenapa jomblo selalu di-bully? Karena orang-orang tahu kalau para jomblo itu tak akan marah. Kenapa orang-orang tahu para jomblo itu tak akan marah? Karena orang-orang tahu jika para jomblo selalu bahagia.

Ya! Jomblo selalu bahagia dan begitu pun denganku.

Banyak dari kegalauan orang pacaran yang tidak pernah lagi kurasakan. Aku tidak perlu galau karena hujan turun di malam Minggu. Aku tidak perlu galau karena pacarku terlambat datang atau bahkan menghilang tanpa kabar. Aku tak perlu galau karena si pacar terlambat membalas pesan-pesanku atau tak pernah membalasnya sama sekali. Aku tak perlu galau memikirkan apakah dia baik-baik saja dan juga tak perlu cemas memikirkan apakah dia akan berselingkuh di sana.

Ya! Aku bahagia, sangat bahagia. Sesekali mungkin aku meringis di depan kalian karena aku jomblo dan berkata menyedihkan seakan aku benar-benar butuh pacar. Tapi itu hanya bercanda. Aku melakukan itu untuk membuat kalian bahagia. Yang sebenarnya adalah aku bahagia. Apa yang harus kucemaskan? Takut seperti ini seumur hidupku? Takut tidak menikah selamanya? No! Suatu saat, aku pasti bertemu dengan dia yang ditakdirkan untukku. Pasti! Karena Allah telah berjanji dan aku percaya pada-Nya.

Sejujurnya, aku takut dengan kisah orang pacaran yang kerap kutemui di sekelilingku.

Jujur saja, aku sangat takut dengan kisah orang pacaran yang kerap kutemui di sekelilingku. Aku takut menjadi seperti kebanyakan perempuan yang dicampakkan begitu saja setelah mereka kehilangan segalanya. Aku memang pernah ditinggalkan, tapi aku tidak kehilangan segalanya saat itu. Aku juga takut membuat keluarga yang begitu menyayangiku kecewa dan akhirnya menjauhkan hubungan kami yang hangat. Aku tidak bisa hidup tanpa keluargaku. Aku tidak bisa melanjutkan hidup tanpa kasih sayang mereka.

Ketahuilah kalian bahwa aku ini lemah. Aku tahu diriku tak akan cukup kuat untuk semua itu. Jadi, aku memilih untuk menyingkir dulu. Bagaimana pun, aku tak mau bermain-main dengan hatiku. Aku tak mau mengambil resiko dengan hidupku yang hanya sekali. Anggaplah saja semua ini kelemahanku, kelemahan yang akhirnya melindungiku.

Pacaran? Sejujurnya aku sudah terlalu tua untuk itu.

Hey, aku sudah 25 tahun! Apa yang akan kulakukan dengan pacaran?

Bertemu seseorang yang mengagumkan – jatuh cinta – jadian – menjalani hubungan yang penuh drama – kencan setiap weekend – hadiah bunga, coklat, boneka dan buku – menyadari bahwa kami tidak cocok – berantem – putus – patah hati – mencari lagi – pacaran lagi? Ayolah! Aku sudah terlalu tua untuk itu. Aku sudah tidak cocok lagi untuk berperan sebagai Princess yang dicintai seorang Pangeran Berkuda Putih, pada sebuah panggung hubungan yang penuh drama.

Lagipula, bukankah hubungan yang berhasil tidak sekedar membawa seorang gadis menjadi Princess? Hubungan yang berhasil adalah hubungan yang membawa seorang wanita menjadi seorang Ibu. Karena itulah, aku tak mau menggunakan waktuku untuk berpura-pura menjadi Princess. Bagiku akan lebih baik jika aku menggunakan waktuku untuk banyak belajar, banyak membaca, dan banyak memantaskan diri untuk menjadi lebih baik. Mempersiapkan diriku untuk bocah-bocah kecil yang kelak akan menjadikan hatiku sebagai sekolah pertama mereka.

Dan berbicara tentang umur, sejujurnya aku juga takut patah hati di usiaku sekarang. Patah hati di usia seperempat abad tentulah tak akan sesederhana patah hati di usia remaja. Semuanya akan menjadi lebih sulit. Jika hatiku sebuah rumah, aku tidak mau orang-orang yang katanya ingin membeli bisa seenaknya saja datang untuk melihat semua ruangannya. Mungkin menginap sebentar dan kemudian pergi.

Aku ingin seseorang yang datang hanyalah dia yang membawa surat kuasa untuk menempatinya. Dia yang akan tinggal di sana selamanya dan tak akan pergi lagi. Jadi untuk kalian, sudahkah bisa mengerti bahwa beginilah caraku menjaga hati dan diriku? Memahami caraku memantaskan diri untuk dia yang kelak akan ditakdirkan?

Jujur saja, hatiku kadang tidak sekuat prinsipku. Ada masa-masa di mana aku harus terus menarik napas dalam hanya agar bisa tetap berdiri waras di atas pilihan ini. Ada masa-masa di mana aku ingin sedikit melonggarkan hatiku dan memberinya celah untuk mundur dari pilihan ini. Tapi aku masih bertahan hingga detik ini, masih memasrahkan semuanya hingga Tuhan membawa jalan lain. Mungkin menjawab doa-doaku.

Jadi untuk kalian (spesial untuk kalian yang terus ngotot mengajakku pacaran), bisakah mulai memahami ini dan membantuku menjaga hati? Oh, iya. Sebenarnya di dalam hati ini, aku punya seseorang yang hanya kubagi berdua dengan Tuhan. Dan kupastikan dia bukanlah salah satu di antara kalian yang kemarin mengajakku pacaran.

Terima kasih.