Halo, apa kabar kamu?

Tak terasa kita kembali memasuki akhir pekan. Itu artinya, saat inilah kamu bisa sejenak melepas kepenatan.

Sudahkah luka gores di siku kananmu membaik? Semoga dengan segala kesibukan yang sedang kamu jalani saat ini, tak membuatmu jatuh sakit dan terbaring di atas tempat tidur dengan sorot mata lemah. Sedang apa dirimu saat kutuliskan surat terbuka ini?

Mungkin lagi-lagi kamu sedang duduk serius menghadap layar laptop, menekuni makalah di program word yang kamu buka, atau memelototi rangkaian data di excel? Atau jangan-jangan kamu sedang membaca tumpukan skripsi kakak tingkat yang telah lama lulus, kemudian beralih ke arah buku referensi lain yang tebalnya mengalahkan bantal. Sesekali kamu mendesah pelan dan melirik buku berjudul panduan skripsi metode kualitatif itu.

Apapun, sungguh aku menyukai pemandangan itu, Sayang. Jika saja aku di sampingmu, aku pasti tersenyum penuh kebanggaan melihat keseriusan yang meninggalkan kesan cakep di wajahmu. Kamu memang selalu lebih menggoda ketika berkencan dengan kesibukan. Apalagi diterpa oleh cahaya matahari yang menembus kaca besar perpustakaan kampus kita. Sungguh pemandangan yang tak pernah alpa membuatku berdebar kencang.

Advertisement

Sebagian besar keyakinanku mengiyakan jika kamu memang sedang sibuk dengan tugas kuliah, maupun persiapan tugas akhir yang sering menjadi momok banyak mahasiswa semester akhir itu. Namun sepertinya kamu telah siap dengan segala tantangan ya? Sehingga kamu nampak tenang dan kalem.

Hari-hari memang berjalan begitu cepat. Siapa sangka jika kamu akan segera menjalani satu tahap luar biasa lagi sebentar lagi? Hanya tinggal beberapa langkah, kamu akan mengenakan toga dan menjadi seorang sarjana.

Maka saat itu, aku akan menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang tersenyum penuh haru, bahkan mungkin menangis ketika melihat gelarmu diresmikan oleh rektor kampus kita. Akan lebih bahagia lagi jika aku lihat kamu dikalungi oleh tanda kehormatan sebagai lulusan terbaik tahun itu. Oh Sayang, betapa tak sabarnya wajah cakepmu itu menanti tahun kelulusan meski kamu baru menginjak semester 6. Sungguh, aku pun tak sabar menanti hari itu tiba.

Namun taukah kau, bagian hati yang lain, memang hanya sepersekian persen dari itu, tertunduk sedih. Aku tahu, tak seharusnya aku bersedih dengan kelulusanmu. Hanya saja, aku tak pernah berpikir bagaimana nanti ketika kamu tak lagi menjadi bagian dari kampus kita.

Bagaimana jika kamu telah berada di lingkaran luar kampus kita? Lantas, aku tak bisa lagi bertemu denganmu barang sehari saja. Aku tak lagi melihatmu memarkirkan motor di area parkiran fakultas kita yang rindang oleh pohon. Melihat tubuh jangkungmu dan bahu kokoh yang penuh keyakinan dan kepercayaan diri, entah dalam balutan kemeja merah maroon, biru dongker, abu-abu, hitam, kemeja kotak-kotak atau kemeja apapun.

Sungguh, Sayang. Aku akan sangat merindukan siluet tubuhmu yang menyenangkan. Menanti saat-saat kita berada dalam lantai dan jam yang sama, menunggu kelas dibuka oleh dosen masing-masing. Aku akan merindukan segala detail itu. Bagaimana kamu melangkah penuh rasa aman dan percaya diri meskipun sudah lewat pukul 7.

Kau tahu, Sayang? Kau adalah laki-laki paling tenang dan kalem yang pernah aku temui jika berhubungan dengan kelas di pagi hari. Kau tak pernah barang sedikit saja terlihat panik di koridor karena sudah terlambat masuk kelas. Kau berjalan begitu flamboyan. Entah aku yang tidak melihat lebih jauh ke dalam sorot matamu atau memang kamu selalu nampak tenang. Tapi di balik semua itu, aku bahagia karena kamu tidak ingin berusaha terlambat untuk tugas akhirmu nanti.

Kau tahu, betapa senangnya hatiku ketika melihatmu menggenggam buku panduan skripsi itu? Lantas mengetahui targetmu untuk lulus pada bulan ketiga di tahun depan. Sungguh, aku bahagia, namun aku tak tahu air mata apa yang menetes dari kedua mataku kemarin itu melambangkan perasaan apa.

Mungkin sedih. Ketika melihatmu begitu fokus duduk di hadapan laptop pagi itu, memelototi program word, di bawah sinar matahari yang menembus lewat kaca besar perpustakaan, di sanalah hatiku bergetar. Jantungku berdebar kencang. Aku tahu, kau harus melewati masa itu. Begitu juga denganku yang harus melepasmu.

Ini bukan soal ditinggalkan atau meninggalkan. Ini adalah soal menyongsong hari bahagia. Bagaimanalah mungkin kita akan bersama jika kamu tak kunjung mengerjakan tugas akhir? Bagaimana bisa aku menyambutmu di depan pintu rumah, dengan perasaan bahagia karena kau akan menemui ayah dan bunda sebelum aku melihatmu menyandang gelar sarjana? Ini sudah takdir. Begitu kan, Sayang?

Maka kini aku katakan padamu, aku akan terus mendukungmu. Lewat untaian doa yang tak pernah alpa kurapal di teriknya siang dan heningnya malam. Sayang, semoga kamu cepat lulus, ya. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan.

Salamku,

yang selalu mendoakanmu agar segera menyandang gelar sarjana