Setelah kepergianmu untuk melanjutkan studi di kota seberang, aku masih sering mengunjungi tempat saat kita selalu menghabiskan waktu berdua dulu. Entah sekedar mampir, duduk lalu pergi, atau sambil mengenang masa yang pernah kita lalui di tempat ini. Sejak kepergianmu, banyak sekali yang berubah dari tempat ini. Ayunan yang menggantung diantara dua pohon beringin itu sekarang diganti dengan kursi-kursi taman. Jika hari mulai malam, tempat ini sangat ramai. Banyak penjual makanan di trotoar seberang jalan. Apalagi jika malam minggu tiba, tempat ini ramai dengan pasangan muda mudi.

Aku selalu menyempatkan datang kemari setiap malam minggu. Mengapa? Karena aku selalu mengingat semua permintaan yang pernah kamu ucapkan padaku.

"Jika kita tidak bisa jalan berdua ketika malam minggu tiba, paling tidak ada salah satu diantara kita untuk ke tempat ini. Untuk menceritakan bagaimana keadaan dan suasana disini." ucapmu dulu.

Tapi kini setiap aku ingin menceritakannya , kamu seolah menghindar. Menjadikan tugas-tugas kuliahmu sebagai alasan kamu tak bisa mendengarkan ceritaku. Bukan hanya itu, kini kamu jarang sekali memberi kabar padaku, jarang sekali membalas chatku. Bagaimana mau membalas? Kalau chatku saja tak pernah kamu baca. Tapi aku percaya, kamu sedang terlalu sibuk dengan tugas kuliahmu. Mahasiswa semester awal pasti mempunyai banyak tugas, sama seperti ku. Sampai kamu tak ingat, kamu mempunyai aku disini.

Aku yang selalu menantikan kabarmu, aku yang selalu menunggu balasan pesan darimu hingga larut malam, sampai aku tertidur dan masih menggenggam ponsel. Dan di pagi hari saat aku terbangun, cepat-cepat ku buka ponsel, takut kalau-kalau kamu menghubungiku tapi tak ada jawaban dariku. Takut kalau kamu marah, seperti yang biasa kamu lakukan. Tapi nihil, tak ada pesan dan chat darimu, apalagi panggilan masuk dari nomormu. Ya tak apalah, bukannya semenjak kamu pergi selalu seperti ini? Lantas untuk apa aku kecewa?

Advertisement

Satu hal yang aku tahu, tidak ada lagi ucapan "Selamat Pagi" untuk hari ini. Aku terus berusaha untuk terbiasa tanpamu, tanpa sapamu, tanpa candamu, juga tanpa perhatianmu. Entah aku yang terlalu egois atau waktu yang telah merebutmu dari pelukku. Sulit sekali untukku mengerti, rindu ini makin membuncah tapi tak ada hati yang mampu menampungnya. Salahku yang menempatkanmu pada petak yang sengaja aku buat di sini (di hati ini). Sehingga saat pemiliknya pergi petak ini tetap ada, hanya saja kosong tak berpenghuni, namun kenanganlah yang selalu memagarinya.

Aku masih meneriakkan namamu disepertiga malamku, berharap kamu juga hatimu akan kembali dalam peluk dan genggamku. Waktu terus berlalu, senja ini pun berganti malam. Tapi aku tetap mematung berharap pada yang tak kunjung datang, terus menanti pada yang tak pernah mengerti. Apa ini adalah caramu untuk menghindariku? Untuk pergi dariku? Bukankah terakhir kita bertemu semua masih terasa hangat? Lantas apa yang mengubahmu hingga sedingin ini? Bukankah kita masih sepasang kekasih? Bukankah diantara kita tak pernah ada yang mengucap kata "putus"?

Ahhhhh aku lelah, sudah berapa kali aku mengatakan ini semua padamu.. Sekali pun kamu tak pernah menjawab. Aku tak menyangka dapat bertemu dengan sosok sepertimu di kota ini. Kamu yang lebih dari sekedar baik, kamu yang lebih dari sekedar dewasa, kamu yang lebih dari sekedar mempesona, tapi kamu juga yang lebih dari seorang pecundang.