Aku ingat, aku pertama kali tertarik padamu saat aku kelas dua SMA. Tiba-tiba di usiaku yang masih remaja, kulabuhkan rinduku padamu, seorang lelaki setingkat di atasku. Aku mengagumimu dalam diam. Memperhatikanmu dari jauh. Tidak berani mengungkapkan perasaan yang sebenarnya kepadamu, yang telah berhasil mendebarkan hatiku. Perasaan itu masih kujaga hingga saat ini, setelah empat tahun berlalu.

Entah dari mana keberanian itu. Pada akhirnya, aku berani menghubungimu. Entah bisikan setan dari mana lagi, aku bahkan berani mengajakmu bertemu. Hanya sekedar makan siang bersama, menjengukmu kala sakit, atau memberikan sesuatu di hari ulang tahunmu. Perlahan tapi pasti, kamu dan aku saling mengenal dan memahami. Hingga perasaan yang tak diinginkan itu tumbuh semakin tinggi.

Aku menyesal telah jujur terhadapmu. Ini membuat hubunganku denganmu menjadi rumit. Aku menjadi wanita pencemburu. Aku benci perempuan-perempuan itu begitu dekat denganmu. Aku kesal mereka bisa membuatmu tersenyum. Tidak! Aku menginginkan posisi itu, menjadi wanita terbaik untukmu. Tapi kamu tidak pernah membutuhkanku. Tidak seperti halnya diriku yang membutuhkanmu.

Aku tahu kamu tak lagi sendiri. Ada dia yang menjadi dinding kokoh di antara kamu dan aku. Berbahagialah dengan siapa pun yang saat ini bersamamu. Berjanjilah bahwa kamu akan selalu tersenyum. Tetapi jika kamu merasa sedih, maka aku akan selalu ada. Masih di sini, kembali menyayangimu dalam diam. Berharap kamu memahami apa sesungguhnya yang kurasakan. Berdoa kepada Tuhan agar menyatukan kita dalam ikatan yang direstui-Nya.

Kepadamu, lelaki pertama yang membuatku menangis…

Advertisement

Aku tahu bahwa aku telah lancang menulis semua ini. Aku memahami bahwa kamu telah berbahagia dengan entah siapa pun itu. Tetapi, dosakah aku tetap mencintaimu seperti dulu saat pertama kali aku mengagumimu? Kepadamu lelaki pertama yang membuatku menangis, maafkan aku yang tidak bisa membunuh segala kerinduan ini. Aku harap engkau mengerti, betapa perasaan itu enggan untuk pergi.

Dia semakin tumbuh, semakin nelangsa karena Tuhan belum menghalalkan perasaan itu bersemi. Kepadamu, lelaki pertama yang membuatku menangis, aku berjanji tidak akan membuatmu bersedih lagi. Aku akan belajar menjadi seseorang yang kamu inginkan. Jadi, dengarkan aku! Kepadamu, lelaki pertama yang membuatku menangis, izinkan aku menjadi wanita terbaikmu.