Kamu mungkin sudah lupa hari-hari penting yang pernah kita lalui. Jalan-jalan yang pernah kita tempuh. Atau semua kenangan yang pernah membuat kita merasa benar-benar utuh. Namun, bagiku semua tetap saja sama. Semua kehilangan masih saja menjadi hal yang aku miliki. Hal-hal yang tak pernah bisa lepas, meski bagimu semuanya mungkin sudah kandas. Hari-hari itu masih saja berulang di kepalaku. Di tanggal-tanggal yang sama, di suasana pagi , senja dan malam yang sama, di setiap embusan udara yang tak mampu membuat rindu reda.

Kamu barangkali merasa semuanya sudah biasa saja. Semua kisah yang pernah kita lalui seolah usai sudah segalanya. Namun bagiku, tak ada yang benar-benar selesai. Perasaan padamu tak pernah benar-benar usai. Kau membenam di dadaku. Menjadi hal-hal yang tetap hidup bersama langkah-langkahku. Terbawa ke mana saja kaki berjalan. Menetap di mana arah mataku menatap. Segala tentangmu masih menjadi hal-hal yang tak mampu ditukar dengan kisah lain hidupku.

Berkali-kali aku menguatkan diri sendiri. Mencoba melakukan apa saja yang kau lakukan untuk membunuh perasaan kita. Menenangkan hati dengan mendatangi tempat-tempat baru. Namun, hari-hari yang pernah singgah, menyisakan ingatan-ingatan yang menjagamu dengan betah. Sekuat aku menghancurkan rindu, selalu lebih kuat ia menghantam pertahananku. Kian membenamkan hingga tenggelam tak terhindarkan. 

Katanya, hidup adalah pilihan. Tapi kenapa aku tidak bisa memilih untuk tetap membuatmu bersama denganku? Kenapa justru langkah-langkah membawamu pergi ? Bahkan saat hari-hari yang pernah terjadi masih teringat jelas di kepalaku. Membekas dan tak pernah bersedia disebut masa lalu. Hari-hari yang berjalan mengiringi ke mana saja aku berlari. Yang mengingatkan bahwa pada tanggal-tanggal tertentu kita selalu melakukan ritual untuk menenangkan rindu .