Hai Ibu,

Apa kabarmu sekarang? Pasti kau sangat bahagia berada disampingNya bukan?

Masih ingatkah Ibu saat meninggalkan aku gadis kecilmu ini?. Ahh, sungguh kau pasti mengingatnya, seketika itu juga duniaku runtuh bukan. Pasti kau marah kepadaku karena saat itu aku merasa Tuhan tidak mencintaiku lagi, karena Ia telah memanggilmu.

Masih terekam jelas di otak kananku sejak kepergianmu. Gadis kecilmu ini tidak ingin lagi ke sekolah dan setiap malam dia selalu membasahi bantal tidurnya dengan air mata. Kau juga pasti kecewa karena dia menjalani harinya tanpa semangat dan penuh kesedihan seolah-olah dia telah kehilangan semua orang yang mencintainya di bumi ini,

Tapi tolonglah ibu saat itu gadis kecilmu ini belumlah sedewasa sekarang, dia belum mengerti bahwa ada seorang Ayah yang akan selalu ada untuknya dan dua orang kakak yang begitu mencintainya. Kau pasti bosan mendengar doaku setiap malam yang selalu bertanya kepada Tuhan, kenapa Ia harus memanggilmu? Tapi Ibu waktu itu Dia belum memberikan jawaban kepadaku. Jadi jangan salahkan gadis kecilmu ini yang terus-terusan bertanya.

Advertisement

Hingga pada akhirnya gadis kecilmu ini berubah menjadi seorang gadis dewasa dan Tuhan memberikan jawabannya dengan bahasaku. Sungguh Tuhan memberikan jawaban di waktu yang tepat bu.

Kehilanganmu merupakan kesedihan terbesar dalam hidupku bu, Tapi siapakah yang dapat menyelami pekerjaanya?

Karena toh pada akhirnya bukankah dalam setiap pertemuan selalu ada perpisahan, karena toh pada akhirnya bukankah semua manusia akan kembali kepadaNya, karena toh pada akhirnya bukankah setiap orang punya cobaannya masing-masing, yang harus ia lalui dengan takdir yang mengikatnya.

Bukankah waktu yang diberikan Tuhan di dunia ini adalah kesempatan bagi kita untuk terus memberikan yang terbaik untuk orang yang kita cintai dan bukan hanya untuk selalu bertanya mengapa bisa, kenapa harus aku, kenapa harus pergi?."

Ibu sekarang aku percaya untuk semua yang terjadi dalam kehidupan ini ada alasannya.

Ibu inikah rencana Tuhan atas kepergianmu untuk menjadikanku gadis dewasa yang tidak semanja dulu saat kau masih ada, untuk menjadikanku gadis yang kuat dan mungkinkah Tuhan memberikan jawaban atas doaku dalam jangka waktu yang lama hanya untuk menjadikanku pribadi yang tekun dan sabar bu.

Ibu maaf karena kesedihanku terhadap kepergianmu membuatku melupakan Ayah yang juga mencintaiku. Sungguh ibu gadis kecilmu yang kini telah dewasa akan jadi pribadi yang lebih menghargai setiap nafas yang diberikan Tuhan kepadanya.