Manusia, adalah homo socius yang membutuhkan sesamanya untuk bertahan hidup, adalah homo ludens yang senang bermain dan memainkan sesuatu yang dia anggap ‘sangat menyenangkan’.

Jadi aku mau ngomong apa?

Ya mungkin tidak akan melenceng dari kedua istilah di atas.

Ok, jadi ketika kita berbicara tentang manusia, kita juga akan berbicara mengenai rasa cinta, kasih, benci, dan pertentangan

Manusia adalah sosok yang tidak bisa hidup tanpa cinta dan kasih sayang. Kepada alam, hewan, tumbuhan, dan sesamanya.

Advertisement

Namun secara sengaja atau tidak, rasa cinta dan kasih terkadang bisa menimbulkan rasa benci dan pertentangan.

Mari ingat-ingat kembali, sudah berapa kasus perang yang dimulai karena kecintaan manusia kepada Negara, harta, atau keluarganya? Jika semua kasus di dunia digabungkan mungkin tidak akan pernah terhitung berapa jumlah pastinya!

(skip dulu nih)

Ayo kita bicarakan masalah-masalah remaja, yang sangat dekat dan kadang terlupakan. Tau apa itu pacaran, friendzone, HTS, brotherzone, dsj? Hubungan-hubungan itu adalah salah satu ekspresi kecintaan manusia terhadap sesamanya, terutama kepada sesama yang berlawanan jenis_laki-laki dan perempuan.

Pernah dengar istilah putus, break, udahan, dsj? Istilah-istilah ini menunjukan sebuah keadaan dimana hubungan dua manusia menjadi renggang karena permasalahan yang berakar dari rasa ‘cinta’ pada lawan jenis. Ya patah hati lah nama lainnya.

Patah hati biasanya akan menimbulkan benci dan pertentangan, terutama diantara dua pelaku utamanya. Tapi pertanyaannya siapa yang salah? Si A atau Si B? Si cewek atau si cowok?

Eitttssss, kalem. Sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan salah satu pihak telah dengan sengaja mempermainkan pihak yang lain. Untuk jika permainan itu tidak pernah merugikan salah satu pihak, nah kalau ada yang rugi? Masalah bisa berujung lebih rumit.

Ada 3 kasus yang sudah saya rangkum, coba perhatikan baik-baik.

Kasus pertama, Januari 2014. Si A jatuh cinta dan meminta Si B untuk menjadi kekasihnya, disisi lain ternyata Si A punya pacar bernama Si C (dan Si B juga tahu kenyataan tersebut). Karena merasa tertantang untuk bermain api, Si B yang juga sahabat Si C menerima ajakan Si A untuk pacaran. Selang beberapa lama, Si B mulai jenuh dan memilih memutuskan Si A dengan ucapan “Ah sebenernya aku cuma main-main”, Si A dengan nada menyesal menjawab “Kenapa kamu jahat dan mainin perasaan aku?”.

Kasus kedua, Januari 2015. Si B jatuh cinta dan menjalin sebuah hubungan tanpa status dengan Si D. Setelah sekian lama bersama dan menjalin hubungan seperti sepasang kekasih, tiba-tiba Si D memutuskan hubungan tersebut secara sepihak, lantas dengan bangga membicarakan Si B di depan teman-temannya “Ah aku cuma main-main kok sama Si B, dianya aja yang kelewat baper”.

Kasus ketiga, Januari 2016. Si D jatuh cinta dan terjebak dalam brotherzone dengan Si E. Sebagai seorang yang lebih tua, dia sangat melindungi Si E dan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan wanita tersebut. Ketika muncul satu kesempatan, Si D kemudian memberanikan diri untuk meminta Si E menjadi pacarnya. Dengan wajah lugu Si E menolak, kemudian ada orang yang melaporkan Si E pada Si D, katanya wanita lugu itu justru hanya memanfaatkannya untuk mendekati salah satu sahabatnya. “Tega!” keluh Si D dengan sedih.

Jadi, menurut kalian sebenernya siapa sebenernya lagi main-main? Si A, B, C, D, atau E?

Kalau menurutku, mereka semua juga sedang main-main. Jadi tidak ada pemeran yang lebih benar atau lebih salah, karena semuanya memang salah.

Kan sudah kubilang, manusia memang sosok homo ludens (pemain amatir yang senang bermain-main di pentas kehidupan).

Jangan sebut Si A sebagai korban dan Si B sebagai player, karena nyatanya Si A juga menjadi player atas kasusnya dengan Si C.

Jangan juga sebut Si B sebagai korban dan Si D sebagai player, karena nyatanya Si B dengan tega juga menjadi player atas cinta segitiganya dengan Si A dan Si B.

Jagan juga sebut Si D sebagai korban dan Si E sebagai player, karena nyatanya Si D juga menjadi player atas kasusnya dengan Si B.

Jadi intinya? Semua manusia adalah player atas kasusnya dengan banyak orang yang berbeda

….manusia adalah pemain yang ulung, dan untung Tuhan menciptakan roda kehidupan yang dinamis sehingga manusia bisa merasakan bagaimana rasanya berperan sebagai player dan sebagai korban.

Jadi jangan terlalu sedih kalau hubunganmu saat ini berakhir menjadi semacam ‘permainan’. Jangan dulu menyalahkan oranglain, lihat dulu situasinya.

Kamu yang sudah tega memainkan hatinya?

Dia yang sudah tega memainkan hatimu? atau

Ternyata kalian memang sedang sama-sama bermain dan menikmati situasi itu?

Kalaupun sedang jadi korban permainan, ingat lagi saja “mungkin kita secara tidak sengaja telah memainkan hati orang dan sekarang sedang diajari hal yang sama” atau “mungkin saat ini sedang diuji sebagai korban dan suatu saat nanti mendapat keberuntungan untuk memainkan hati orang”. Yang paling menyenangkan adalah posisi ketiga, ketika kamu secara tega sudah dianggap sebagai mainan, maka kamu juga berhak bahagia dan menganggap orang itu juga mainan, bermain bersama jauh lebih menyenangkan bukan 🙁 (padahal pembelaan biar gak terlalu sakit hati).

….intinya, manusia memang homo socius yang ludens, jadi jangan terlalu percaya dan terbawa suasana jika berhubungan dengan siapapun.

Apalagi untuk para cewek, inget nih. Seorang player receh pernah bilang “Di dunia ini cuma ada dua jenis cowok, kalo gak brengsek ya dia homo”.

Kalimatnya receh kan? Maklum kata-kata manusia.

Pokoknya banyak berdoa aja, agar tidak dijadikan korban dan tidak pernah berniat menjadi player. Karena keduanya sama-sama receh, kuy ah belajar cerdas.

Untuk yang kepalang jadi korban, silahkan bersedih sewajarnya, jangan terlalu larut dalam suasana (nanti gering alias sakit). Sayangi tubuh kita, masa jatuh sakit cuma gara-gara cowok/cewek receh? Gak level!

Tapi kalau sudah kepalang jadi player, silahkan bahagia sewajarnya, jjangan terlalu larut dalam suasana (kan kita gak tau kapan giliran kita buat jadi korban, dan hirup mah muteur). Sayangi hati kita, masa mau merendahkan martabat dan menjadi bertahan jadi manusia receh? Gak level!