Namaku Adel. Aku hanya seorang wanita biasa. Bukan seperti R.A Kartini, ataupun Dewi Sartika. Hanya sekedar wanita yang kini duduk di bangku perkuliahan. Namun aku bukan wanita yang aktif. Bisa dibilang aku hanya mahasiswa kupu-kupu, yang setiap harinya hanya kuliah-pulang. Aku juga tidak termasuk kedalam runtutan anak hits kampus yang hedonis. Aku hanya wanita pendiam yang berusaha untuk lulus kuliah tepat waktu. Aku juga tidak tertarik dengan organisasi atau instansi intra kampus apapun. Namun, teman-temanku berbeda, mereka anak-anak yang aktif. Beberapa dari mereka mengajakku untuk ikut bersama mereka. Namun, aku memilih untuk menyendiri di taman kampus sembari menuangkan pikiranku kedalam sebuah tulisan. Ya, aku suka menulis. Dibanding harus berbicara, pikiran dalam benakku akan terasa lebih indah jika kutuang dalam rangkaian kata. Ya itulah aku. Adelia Senja Diningrat. Hari itu, aku sedang menjalankan rutinitasku. Sendirian, di taman kampus, dengan laptop yang siap kuisi dengan rangkaian kata. Tiba-tiba seorang lelaki duduk disebelahku. Ia menggenggam handphone dengan earphone yang tersambung ke telinganya. Wajahnya tenang menikmati alunan suara yang keluar dari alat canggih itu. Seketika wajahnya menoleh dan matanya bertemu mataku. Sebuah senyum terbit dari bibirnya. Wajahnya bersinar terkena pantulan sinar mentari yang terik. Tanpa sadar, aku membalas senyumannya. Lalu, ia beranjak dari tempatnya dan pergi bagai daun diterpa angin. Saat itu aku menyadari, bahwa aku jatuh cinta. Mungkin ini konyol. Cinta pada pandangan pertama? Hhh, sesuatu yang omong kosong. Aku bukan wanita yang mudah jatuh cinta. Aku bahkan tidak mengenal yang namanya pacaran. Namun tiba-tiba saja aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Kurasa itu sesuatu yang salah. Tapi apalagi namanya ketika hati berbunga dalam sekejap karena matanya yang menusuk pandanganku? Semenjak hari itu, aku sering duduk di tempat yang sama. Namun tak pernah kutemui lagi sosoknya. Aku hanya bisa pasrah. Toh jika ia jodohku, kami pasti akan dipertemukan kembali. Hingga suatu hari, aku sedang tergesa-gesa untuk mengikuti kelas susulan yang sudah mulai sejak 15 menit yang lalu. Ketika aku memasuki kelas, pandanganku terhenti pada mata yang membuat tubuh ini membeku. Jantungku berirama tak beraturan. Dia. Ya dia. Lelaki waktu itu. Lelaki yang telah membuatku jatuh cinta. Ternyata kami berada di satu jurusan. Dan aku belum pernah melihatnya sama sekali. Wajar saja, aku tidak begitu peduli dengan orang lain disekitarku. Kecuali jika mereka menangkap perhatianku. Seperti lelaki yang satu ini. Aku melanjutkan langkahku menuju satu satunya kursi yang tersisa. Tepat di belakangnya. *** " Adel.." Suaranya membuat langkahku terhenti. Ya itu suaranya. Suara Langit Prasetyo. Kami sudah saling kenal. Semenjak kelas susulan itu, ia menoleh kebelakang dan mengajakku berkenalan. Aku terbang dalam duniaku. Apakah mimpi bisa jadi seindah ini? Pikirku dalam hati. Saat itu juga ia mengajakku untuk bertukar nomor telepon. Dan pada malam harinya, ia menghubungiku. Kami berbicara tentang banyak hal saat itu. Seakan akan dunia berpihak padaku dan mengabulkan semua keinginanku. Setelah beberapa bulan, kami semakin dekat. Dan saat itu juga mulai banyak yang terbongkar tentang dirinya. Ternyata ia termasuk kedalam nama mahasiswa yang populer di kampus. Ia terkenal hingga ke fakultas lain. Dengan kata lain, ia juga menjadi incaran para wanita. Seketika itu aku sadar. Aku merasa bodoh. Siapa diri ini? Bisa dekat dengan laki-laki tenar seperti Langit. Bahkan aku sendiri tidak tahu kalau dia adalah anak yang terkenal. Aku mulai membatasi perasaanku. Aku mulai menjauh sedikit demi sedikit. Aku hanya takut terluka. Aku menaruh harapan padanya. Sedangkan aku tak pernah tahu siapa yang ada di hatinya. Saat ini tulisanku penuh dengan nama Langit dan perasaanku yang berantakan. Mungkin Langit mulai sadar kalau aku menjauh. Ia pun kini tidak pernah menghubungiku. Dan hari ini ia menyebut namaku. Aku menoleh kearah suara yang memanggilku. Sesak rasanya melihat wajah seseorang yang ku rindu. Aku benar-benar merindukannya. "Hai apa kabar?" Ku paksakan untuk tersenyum didepannya. "Ada yang perlu kita bicarakan" wajahnya seketika menampakkan keseriusan. Ia menarik tanganku. Mengajakku ke tempat dimana kami pertama kali bertemu. Aku masih ingat bagaimana matahari membuat wajahnya bersinar. Bagaimana senyumnya membuatku jatuh cinta. "Aku tidak mengerti apa yang membuat kamu menjauh, bisa kamu ceritakan?" Pertanyaan itu membuat mataku berlinang. Tidakkah ia sadar? Aku menunggunya selama ini. "Aku hanya menjaga jarak. Aku tidak ingin masuk terlalu jauh dalam fantasiku. Tidakkah kamu mengerti? Diluar sana banyak wanita sempurna yang menginginkanmu" "Jadi kamu menyerah?" "Haruskah aku yang berjuang? Sendirian?" Wajahnya mulai tak enak dipandang. Dalam detik berikutnya ia sudah berlalu. Menghilang dari pandanganku. Hatiku serasa remuk. Dadaku sesak. Pikiranku kacau dalam seketika. Aku berusaha menahan air mata yang siap jatuh. Kurelakan dirimu hilang dan pergi Langit. Karena aku tahu, Langit begitu tinggi untuk di gapai. *** Beberapa bulan berlalu. Pikiranku masih berada pada Langit. Namun ia sama sekali tidak pernah menghubungiku. Seperti biasa, aku menutup kuping dari orang sekitar. Aku tidak pernah tahu bagaimana Langit sekarang, atau dengan siapa dia sekarang. Begitukah? Dia benar-benar ingin hanya aku yang berjuang? Jangan harap. Meskipun aku tahu ini menyiksa diriku sendiri. Namun, hingga kapanpun tidak akan kubiarkan diriku berjuang untuk orang yang tidak pernah memperjuangkanku. Aku berusaha menutup hati hingga ada seseorang yang berani mengetuknya. Hari ini, aku berada di satu kelas yang sama dengan Langit. Kelas sore yang melelahkan. Dan ketika aku memasuki kelas, aku tidak menemukan sosoknya. Aku berusaha fokus terhadap apa yang diterangkan dosen. Beberapa menit kemudian, seorang pria dengan topi yang menutupi mukanya masuk kedalam kelas. Aku tidak pernah melihat ia sebelumnya, dan aku mengabaikannya. Ia berjalan menyusuri barisan bangku yang aku duduki. Sesampainya di bangku ku, ia menaruh secarik kertas kecil lalu duduk di belakangku. Aku terheran. Apa ini? Siapa dia? Kubuka perlahan kertas itu. "Apa kabar? Aku sungguh merindukanmu" Tubuhku kaku membacanya. Apakah dia Langit? Aku tak berani menolah ke belakang. Pikiranku tidak menemukan titik fokus. Semuanya berhamburan dalam otakku. Seusai kuliah, aku berlari keluar kelas. Menuju taman yang biasa aku kunjungi. Dan ada langkah lain dibelakangku. Hentakannya mengikuti kemana kaki ini melangkah. Dan berhenti di tempat yang sama. "Ini aku Langit.." Lidahku kelu tak mampu berkata-kata. "Selama ini aku tak berani menghubungimu. Aku rasa aku tak pantas untukmu. Kamu bagai berlian yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang tertentu. Dan bukan aku. Namun, ini menyiksaku. Aku tidak bisa memungkiri kalau hati ini memilihmu. Aku bukannya ingin melihatmu berjuang sendirian. Aku hanya ingin tahu apakah kamu menganggapku seperti itu juga?" "Apa menurutmu aku bodoh? Mana mungkin anak setenar dirimu tidak ku anggap seperti itu? Justru aku yang tersiksa karena ku pikir selama ini hanya aku yang berjuang" "Baiklah ini hanya salah paham. Berbaliklah" aku berbalik sesuai permintaannya. Ia mendekat padaku. Memeluk tubuhku. Air mataku tak tertahankan. Mereka akhirnya tertumpahkan begitu saja. "Maafkan aku Adel. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Izinkan aku berjuang bersamamu" Senyum diwajahku merekah. Jantung ini kembali tak beraturan. Kali ini, dunia kembali berpihak padaku. Dan langit senja sore itu menjadi saksi berpihaknya dunia kepada kami yang ingin saling memperjuangkan. "Langit.." "Ya?" "Bisakah aku mempercayaimu?" "Buka hatimu.. Aku akan masuk dan terkunci didalamnya"