Semua berawal ketika kita saling sapa di media sosial. Kamu laki-laki baru yang menyapaku setelah berbulan-bulan aku terpuruk dalam masa laluku. Semua terasa singkat, seiring berjalannya waktu kita merasa nyaman satu sama lain. Kamu mengatakan bahwa kamu menyayangiku, mati-matian aku menolak rasa yang yang muncul karna kehadiranmu.

Aku takut sakit, aku tak siap untuk jatuh cinta lagi. Tapi apalah, hati ini memang tak bisa diajak kerja sama. Aku juga menyayangimu, aku sudah terlanjur terbiasa denganmu. Aku menjalani hari-hari baru ini denganmu, aku tak tau kita ini apa, apa hubunganku denganmu, aku tak tau. Yang aku tau, aku terlalu menyayangimu.

Semua berlalu begitu cepat, hobbymu yang membuat kita jarang untuk saling bertukar kabar lagi, kamu terlalu sibuk dengan profesimu hingga kamu lupa kalau ada aku disini, aku yang selalu menunggumu. Dan ini yang membuat kita sering bertengkar. Aku hanya ingin sesibuk apapun kamu setidaknya beri kabar untukku, tapi hanya meminta kabarpun aku tak bisa, aku salah. Bukan hakku untuk melarangmu, aku hanya takut jika kamu lupa denganku, aku takut kamu berpaling, tapi apalah aku.

Dan sampai akhirnya aku memilih pergi, aku kira kau akan menahanku, aku kira dengan rasa cintamu kamu tidak rela aku pergi. Ternyata aku salah, kamu lebih memilih aku pergi dan dengan mudahnya kamu bilang ini yang terbaik, kalau ini yang terbaik kenapa aku menangis? Sekarang semuanya sudah berbeda. Kamu bukan punyaku lagi, kabarmu bukan milikku lagi, cintamu juga bukan milikku lagi. Sekarang kau punya perempuan lain yang 'mungkin' lebih mengertimu daripada aku. Aku tidak baik-baik saja disini, aku menangisi dirimu yang memilih aku pergi. Tapi sekarang, memang aku harus pergi.