Aku masih ingat pertemuan pertama kita, kamu menggandeng tangan ibumu, bersembunyi di balik daster sambil menunjuk-nunjuk ke arahku. Rambutmu yang basah tersisir rapi, gigi serimu lucu seperti kelinci, dan ada butiran nasi yang menempel di dekat mulutmu. Lalu kamu tersenyum sambil melambaikan tangan mengikuti apa yang dilakukan oleh ibumu, manis sekali. Lambaian selamat datang, karena hari itu aku resmi menjadi tetangga juga teman baikmu.

Adalah masa kecil yang indah karena memiliki seorang teman sepertimu.

Kami suka memanjat pohon jambu air milik tetangga sebelah, duduk-duduk santai di batang pohonnya sambil menikmati buah kecil berwarna merah yang menyegarkan tenggorokan, kemudian melemparkan bijinya kemana saja. Setelah puas menikmati jambu air, kamu akan melompat turun lalu menyuruhku menjadi kiper.

Ya, kamu senang sekali bermain bola. Kamu akan menendang bola dengan arah yang asal-asalan, pipi chubby dan perut buncitmu bergerak mengikuti irama berlarimu, lucu sekali.

Adalah kenyamanan luar biasa karena bisa berada di dekatmu.

Kami perlahan tumbuh. Tinggiku sekarang melebihi tinggimu, tapi sebagai laki-laki kamu tak pernah merasa malu untuk terus berada di sisiku. “Suatu saat nanti aku akan melebihi tinggimu, kok” katamu sambil menggandengku sedari kami keluar dari gerbang sekolah.

Ya, ada banyak sekali percakapan yang terjadi ketika kami pulang sekolah bersama. Dengan seragam putih-biru yang sudah dikeluarkan ujung bajunya, kami membicarakan apa-apa saja yang terjadi di sekolah.

Advertisement

Terkadang kami membicarakan masa depan, kamu yang ingin menjadi arsitek dan aku yang ingin menjadi guru. Kamu yang berjanji akan membangunkan sebuah rumah pohon untukku, suatu hari nanti, dan aku yang berjanji untuk tidak akan pernah menjauh sedikitpun dari sisimu.

Adalah kesalahan karena melihatmu tumbuh dan berkembang.

Kamu beranjak dewasa, tinggimu sudah jauh melebihi tinggiku. Perut buncitmu semakin mengecil, pipimu sudah tidak se-chubby dulu, digantikan dengan garis wajahmu yang terlihat semakin tegas. Kamu masih menggandengku sepulang sekolah, berjalan sambil berbincang-bincang.

Aku tidak tahu sejak kapan aku merasa berbeda saat digandeng olehmu. Ada jantung yang berdegup hebat, dan panas menjalar ke seluruh tubuh saat itu. Aku mendongak untuk melihatmu, dan entah mengapa aku tersipu. Sedangkan kamu, masih seperti kamu yang dulu, menggandengku dengan erat, tersenyum sambil terus berceloteh sambil sesekali menoleh ke arahku, memastikan apakah aku masih mendengarkan pembicaraanmu atau tidak.

Maaf, sejujurnya aku tidak terlalu memperhatikanmu, aku terlalu sibuk mengurusi degupan jantungku dan kupu-kupu yang mengelitik perutku.

Tuhan, inikah cinta? Tapi, mengapa harus dia?

Adalah kesedihan yang mendalam melihatmu pergi meninggalkanku.

Selepas SMA, kamu memutuskan untuk melanjutkan belajar ke luar pulau. Mungkin aku adalah orang ketiga yang paling sedih mendengar keputusanmu setelah kedua orangtuamu, tapi aku adalah sahabatmu, yang bisa kulakukan hanya mendukungmu.

Hari-hariku kini tak seindah dulu. Aku merasa kosong, sepi. Tidak ada lagi celoteh-coloteh khasmu yang menghiasi hariku. Setiap hari aku selalu menabung rindu, untukmu. Karena percakapan-percakapan kita di pesan singkat tidak seasyik percakapan kita yang nyata, dulu.

Maaf karena sudah melanggar janjiku, aku tidak bisa untuk selalu ada di sisimu, tapi ketahuilah, aku sangat ingin melakukannya.

Adalah kerinduan yang terbayarkan ketika akhirnya aku bisa melihatmu lagi.

Sudah enam bulan sejak kepergianmu. Hari ini kamu berjanji kamu akan datang, dan kamu menepatinya. Aku sudah sejak satu jam yang lalu menunggumu, sambil sesekali melihat cermin, memastikan kalau wajahku sudah cukup sempurna untuk bertemu denganmu.

Degupan jantung dan kupu-kupu yang menggelitik perutku datang lagi setelah aku melihatmu melambaikan tangan tak jauh dari tempatku berdiri di sini.

Kamu berlari ke arahku, kemudian memelukku. “Aku merindukanmu,” katamu. Ada semacam jeda yang panjang sampai akhirnya aku berkata aku juga merindukanmu. “Ya, aku merindukanmu lebih dari kamu merindukanku.” lirihku dalam hati, dan entah mengapa aku tidak ingin melepaskan pelukanmu.

Aku merindukanmu, sangat merindukanmu, bisakah aku sedikit lebih lama merasakan kamu memelukku? Aku sungguh-sungguh merindukanmu.

Kalau bisa, aku tidak akan pernah melepas pelukan itu. Pelukan pertama juga ironisnya terakhir yang kudapat darimu. Pelukan yang membuatku memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu, terhadapmu.

Adalah suatu hal yang salah ketika aku memutuskan untuk mengungkapkan semuanya, padamu.

Entah karena kerasukan setan macam apa, tapi aku memutuskan untuk melakukannya. Karena aku tak sanggup jauh-jauh darimu, dan aku tidak boleh melanggar janjiku, untuk selalu berada di sisimu.

Sayangnya, aku lupa untuk memikirkan risiko terburuk, seharusnya aku memikirkannya bahkan sebelum aku mulai merasakan degupan jantung dan kupu-kupu yang menggelitik perutku.

Adalah penyesalan yang tersisa dari semua itu.

Seharusnya aku tidak melakukannya. Seharusnya aku bisa untuk sedikit lebih bersabar lagi. Lebih-lebih, seharusnya aku sadar diri. Ah, mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku tidak bisa membaca isi hatinya? Mengapa aku begitu percaya diri? Lihatlah, yang tersisa sekarang hanyalah penyesalan. Janjimu untuk membuatkan rumah pohon untukku, akhirnya hanya menjadi bualan.

Memang, dulu kami dekat, teramat dekat. Tapi kami tidak pernah mempunyai hubungan yang lebih selain teman baik. Akulah yang jahat, karena menyalahartikan setiap kebaikanmu sebagai sesuatu yang istimewa.

Akulah yang terlalu banyak berharap hingga akhirnya aku merasa dihempaskan olehmu. Akulah yang mati-matian memastikan rasa yang pada akhirnya aku tahu kamu mati rasa. Akulah yang salah.