Ketika banyak orang menghabiskan waktu bersama teman dan sahabat mereka untuk sekadar bertukar tawa atau melihat bintang di angkasa, aku mempertanyakan apakah Tuhan menyimpankan satu untukku di suatu tempat? Ketika depresi ini kembali dan hanya hati yang kubutuhkan untuk sekadar berbagi, adakah insan Tuhan yang mengerti?

Ketika kalian tertawa dengan ringan, di sudut hatiku aku merasa iri.

(http://www.sheknows.com/)

Setiap kali aku selalu bermimpi, menanti tangan Tuhan melalui hambanya untuk memelukku barang sesaat, apakah itu terlalu berlebihan bila ku berharap? Kerapuhan yang kubalut tawa selalu berhasil membuatku terlihat percaya diri. Namun jauh dilubuk hatiku, aku butuh kasih yang teramat lebih dari yang terlihat.

Tangis yang teramat menyakitkan yang kubalut tawa membuatku menjadi pribadi riang dengan sorot hampa. Bahkan aku sudah lupa, kapan terakhir kali aku tertawa dari hati, bukan sekadar menghibur diri.

Setiap harinya hidupku selalu ramai dengan celoteh ramahku. Bahkan tak jarang teman-teman berbagi kisahnya denganku. Namun, tidakkah kalian sadari bahwa tak sepatah katapun dari kisahku yang telah terbagi? Ketika melihat kalian bercengkrama dengan ringan, tersenyum lepas hingga terasa pegal, bahkan menangis haru sambil berpelukan hangat. Tahukah kalian bahwa jauh di dalam hatiku aku sangat iri menyaksikannya. Kapankah aku mendapatkan bahu untuk sekadar bersandar?

Advertisement

Bukankah diam adalah teriakan yang paling keras?

Mereka bukan peduli padaku, namun sekadar ingin mendapat informasi

(ensiklopedia-cewek)

Ketika guratan masa lalu kembali mengoyak pertahananku. Tangis piluku disaksikan oleh cermin yang senantiasa setia menemani hingga aku menyusut air mata. Hingga aku merasa kuat untuk kembali berdiri walau tertatih. Susah memang mengupayakan diri ini untuk terlihat baik-baik saja ketika rindu ini sudah tak terbendung lagi.

Dan setiap kali aku ingin berbagi, aku selalu merasa mereka bukan peduli namun hanya sekadar ingin mendapat informasi. Apakah yang salah dengan diri ini? Atau apa yang salah dengan hidup ini?

Pernah suatu hari aku terpikir untuk mengakhiri semua ini. Namun aku sadar, akhir seperti ini bukanlah yang kuinginkan. Bukannya pergi dengan melepaskan beban, nantinya aku hanya meninggalkan beban pada orang-orang terkasih — ibu dan kakak, sosok supergirl dalam dunia sempitku.

Jika terkadang aku merasa kecil dan putus asa, merekalah yang berhasil menamparku. Membuatku malu karena sejauh ini, jika dibandingkan mereka usahaku untuk bahagia masih seujung kuku. Pernah juga suatu ketika hati ini benar-benar tersayat ketika suara hati pahlawanku berbisik namun aku hanya bisa mendengar tanpa solusi.

Saat-saat ketika aku tertidur dalam peluknya sambil menangis dalam diamlah yang selalu kunanti. Kapankah aku bisa tertidur lelap tanpa cemas memikirkan tanggung jawab yang semakin mencekik ini?

Mencoba terlihat tegar adalah cara terakhir yang kutahu untuk bertahan hidup.

Akankah mereka menjadi insan utusan Tuhan yang dikirim untuk membuatku tegar kembali?

(http://www.rajawow.com/)

Aku selalu berusaha membuka diri. Mencoba menyampaikan apa yang selama ini tak bisa kusampaikan dan mencoba tertawa walau terkadang luka masa lalu masih terasa nyeri. Karena aku sadar, takkan selamanya aku bisa bertahan tanpa bahu pelampiasan. Takkan selamanya aku bisa menangis dalam diam dan menjerit dalam tawa.

Akankah mereka insan utusan Tuhan yang akhirnya dikirimkan untuk membuatku tegar kembali? Akankah mereka akhir penantianku? Banyak sekali tanya yang selalu mengusik pikiranku hingga tak mungkin kutuliskan satu per satu. Tapi satu hal yang kutahu, mereka mampu membuatku lupa akan segala beban yang menghantuiku. Akankah alasan itu cukup untuk membuatku berhenti mencari tahu?

Terkadang apa yang kita cari begitu dekat dengan kita tanpa kita sadari.

Dalam hidup, begitu banyak kejadian yang melatih kita untuk menjadi dewasa. Tumbuh itu pasti, namun menjadi dewasa itu pilihan. Terkadang banyak sekali alasan untuk terpuruk dan larut sampai ke dasar penantian. Bahkan tak jarang manusia hidup untuk mencari kebahagiaan, bukan berbahagia dalam menjalani kehidupan. Satu hal yang harus kita ingat, selalu ada alasan dibalik setiap kejadian. Dan mungkin kejadian ini menakdirkan kamu menjadi alasanku.