Kepada para pembuat kebijakan..

Salam..

Apa kabarnya?

Saya doakan selalu sehat.. Karena membuat kebijakan itu tentu bukan sesuatu yang mudah, apalagi jika kondisi tubuh sedang tidak fit…

Jadi begini Bapak Ibu…

Advertisement

Waktu saya mendengar kalau Sudirman akan bebas dari motor, dengan alasan agar pemotor beralih menggunakan transportasi umum sehingga akan mengurangi kemacetan, saya langsung berpikir keras. Bagaimana caranya saya tetap ngantor tanpa ngurangin budget hidup saya? Apa yang harus saya lakukan?

Bukannya nggak mau menggunakan transportasi umum nih Pak Bu, tapi saya punya pemikiran saya dalam memilih sarana transportasi. Pertama, apakah pemerintah mampu menyediakan transportasi yang aman, nyaman dan terjangkau kalau seandainya saya dan pemotor lain yang numpang cari makan di Jakarta disuruh naik angkutan umum?

Mohon maaf nih Pak Ibu, dari jaman saya masih SMP sampai sekarang saya kerja, yang baru dari wajah transportasi Jakarta cuma Transjakarta. Metromini, kopaja dan kawan-kawan masih gitu aja dari dulu. Bahkan, terakhir kali saya naik angkot, saya menyaksikan tindak premanisme di dalam angkot. Untunglah waktu itu saya masih sempat menyelamatkan diri. Sejak saat itu, saya bertekad nggak mau naik angkutan umum lagi kecuali ada yang MENGGARANSI keamanan dan kenyamanan saya sebagai penumpang.

Kedua, budget transportasi saya sebesar Rp 20.000,- untuk satu minggu. Kalau naik angkutan umum, Rp 20.000,- itu untuk satu hari. Lalu saya harus ngurangin budget makan saya? Harus hemat ketat? Memotong anggaran saya untuk menabung? Atau harus jalan kaki, itung-itung ngurangin kalori? Ah..maaf Pak/Bu kalau saya agak drama..maaf darah muda… Saya yang single aja mikir keras Pak/Bu, bagaimana dengan beberapa ratus atau beberapa ribu (ini saya belum survey sih angka pastinya) pengendara motor yang statusnya kepala keluarga? Budget dari pos mana lagi yang harus mereka potong, jika ternyata ongkos naik angkutan umum lebih mahal dibanding naik motor?

Ketiga, sebenarnya sebagai rakyat jelata level remah2 rempeyek…saya suka mikir sih..apakah proses pembuatan kebijakan itu melalui kajian yang mendalam atau ngga..kalau begini outputnya, kan saya jadi berasumsi kalau kebijakan ini seperti kebijakan yang dibuat dengan tergesa-gesa. Kalau ada yang berpikir gini gimana ya Pak/Bu “motor ga boleh lewat Sudirman, ya udah gw beli mobil aja..lima juta juga udah bisa bawa mobil pulang…” tambah macet gak ya kira-kira :p

Keempat, udah segitu aja Pak/Bu curhat saya, mungkin didengar..mungkin ditanggapi..mungkin dikaji lagi..Ah.. semua itu misteri ilahi…

Salam damai dari saya,

Kelas pekerja yang numpang cari makan di Jakarta