Kemunculan wadah untuk menulis di Internet telah menjadi kemerdekaan tersendiri bagi para penulis (baik amatir maupun profesional). Dengan adanya wadah seperti blogger atau pun website resmi (ternama) yang menerima kontributor, tentu sangat membantu para penulis untuk mengutarakan pikiran mereka, juga memungkinkan pemikiran mereka dibaca oleh khalayak yang lebih luas.

Luasnya peredaran tulisan, berbanding lurus dengan luasnya berbagai tanggapan oleh para pembaca. Sering kali ditemui tulisan-tulisan yang terkesan provokatif. Misalnya dari judul; Presiden Pinokio adalah Bonekanya Gepeto, Alien Merusak Bumi Karena Manusia Tidak Lagi Berketuhanan. Bisa juga dari pengolaan fakta yang dicampurkan dengan opini yang tidak sesuai dengan porsinya. Misal; faktanya Ikan berenang di air tetapi ada juga ikan yang bisa terbang, lalu muncul opini ikan sekarang terbang karena masyarakat suatu bangsa seperti ini-seperti itu (diambil berdasarkan fakta namun tidak berhubungan pada premis awal), lalu dimasukan lagi hitungan matematika, rumus kimia, kutipan kitab suci, dan lain sebagainya dengan tujuan memperkuat argumen penulis untuk memengaruhi pembaca. Boom!

Perlu pembaca ketahui bahwa terkadang (mungkin sekarang menjadi sering), penulis melakukan hal itu karena banyak faktor;
1. Penulis mengalami sendiri kejadian itu sehingga penulis meminta dukungan pembaca.
2. Lingkungan penulis seperti itu, penulis merasa iba atau benci sehingga memengaruhi pembaca merasakan hal yang sama.
3. Penulis diminta oleh instansi atau bahkan tolannya untuk menulis seperti itu.
4. Penulis sengaja memutar balikan fakta, membuat image untuk memengaruhi pembaca yang nantinya akan dijadikan sampel dalam pengolaan data untuk tulisan-tulisan selanjutnya.
5. Permintaan pembaca sendiri.
6. Dan masih banyak tujuan si penulis, ditambah dengan adanya fakta yang terkesan dekat dengan segmentasinya, maka pembaca akan lebih tertarik pada bahasan si penulis.

Akan timbul pertanyaan, “kenapa penulis menjebak?” Tunggu dulu! Beberapa penulis melakukan hal itu bisa juga sebagai hiburan, loh. Pembaca yang selektif akan menyadari betapa ‘lucunya’ tulisan-tulisan nyeleneh itu. Alasannya bisa juga karena, pembaca sudah sangat pintar jika harus memahami maksud tulisan yang (judul, kalimat awal, dan akhir tulisan) selaras.

Sebenarnya penulis-penulis menyadari etika menulis, baik media internet apa lagi media cetak. Setiap penulis juga memiliki idealisme masing-masing, seperti juga pembaca yang tentu mempunyai idealisme dalam hidupnya, punya pilihan tentang tulisan apa yang ingin di baca maupun tidak. Lucunya, penulis sekarang ini (terutama penulis di website) memberi judul atau kalimat pembuka yang terkesan pro pada A namun menuntun agar pembaca menjadi pro ke B, tanpa pembaca sadari. Atau begini, penulis menggunakan kalimat sarkas dan satire agar pembaca yang kurang memperhatikan dengan baik akan terhasut menjadi simpati atau justru antipati. Karena sering kali, pembaca akan membagikan (share) tulisan-tulisan yang erat dengan kehidupannya. Di sini, penulis (artikel) berfungsi sebagai media komunikasi antara pembaca dengan domain si pembaca. Pembaca pasti memilih topik yang sesuai dengan kebutuhan/pandangannya, lalu bagaimana nasib penulis-penulis yang memiliki sudut pandang berbeda dan ingin pemikirannya tersampaikan? Iya, beberapa penulis mungkin akan melakukan hal yang contohnya terjabarkan pada paragraf ini.

Advertisement

Tapi bagaimana sebaiknya pembaca mengonsumsi informasi tersebut? Mudah, sederhana, dan menyenangkan. Caranya;
1. Baca apapun yang tampak menarik bagi pembaca.
2. Baca dari awal-pertengahan-hingga akhir (bila perlu diulang).
3. Selalu berpikiran terbuka.
4. Cari, baca tulisan yang membahas hal selaras dari berbagai sumber (lain sumber).
5. Sadar (menjunjung tinggi) dengan idealisme pembaca.

Jadilah pembaca yang perseptif, bukan hanya sentimen. Pembaca sentimen yang memungkinkan terjadinya konflik bagi pihak-pihak bersangkutan. Bila perlu, pantau penulis dengan cara;
1. Jika tulisan itu tidak sesuai oleh fakta yang pembaca alami, silakan abaikan.
2. Jika tulisan itu sedikit atau sebagian menyangkut pengalaman pembaca, silakan klarifikasi.
3. Jika tulisan itu sangat mirip dengan apa yang pembaca alami, silakan apresiasi.

Karena pada dasarnya, manusia (penulis) adalah makhuk sosial yang selalu bertumbuh, belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Sepertinya, tidak ada manusia yang berlomba/bangga menjadi buruk, hanya saja setiap manusia memiliki latar belakang yang memengaruhi tindakan-tindakan yang dilakukannya. Baik atau buruk hanyalah konsep setuju atau tidak setuju. Misalnya; angka 4 merupakan angka buruk di Asia, sedangkan di Italy angka buruk adalah 17, berbeda lagi dengan Barat yang menganggap angka buruk adalah 666. Seperti tanggal jadian kita yang menjadi angka baik untukku. 🙂