Kisah cinta yang tragis dan perjuangan pelarian yang dramatis keduanya mewarnai lima cerita kaum buangan di Digul. Disunting oleh Pram dan ditulis langsung oleh para tahanan Digulis dan eks-Digulis. Berbagai cerita nyata ini mengisahkan suka duka mereka sebagai tahanan politik pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang membuang mereka ke tanah Digul, Papua. Mereka dianggap terlibat dan bersimpati pada tragedi pemberontakan tahun 1926-1927 yang banyak terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Boven Digul yang kemudian disebut sebagai Tanah Merah adalah tempat dimana para kaum buangan membuat perkampungan baru. Memang sebenarnya tempat ini tidak cocok untuk dijadikan pemukiman karena terdapat banyak ancaman hewan buas atau penduduk setempat asli yang kurang bersahabat. Penyakit malaria yang ganas dan mematikan, menghantui setiap orang pada kedekatan ajal. Jika kencing sudah hitam, ini pertanda bahwa kematian akan segera datang.

Jauh di dalam hutan belantara, terdapat penduduk asli yang masih kolot disebut kaya-kaya. Kaya-kaya ini ada dua: kaya-kaya buas dan kaya-kaya biasa. Kaya-kaya buas suka membunuh, tidak jarang pula makan daging manusia. Mereka bisa menipu orang untuk merampas barang yang mereka inginkan, kemudian orang itu dibunuh. Namun, kayakaya yang satu lagi berbeda. Mereka ini adalah kaya-kaya yang baik, bisa bertukar makanan dan barang-barang yang diperlukan.

Menarik memang, kisah pertemuan antara orang buangan dengan kaya-kaya ibarat kita memasuki dunia purbakala. Bahkan, karena ketertarikan kaya-kaya pada kedatangan orang-orang buangan, tidak sedikit kaya-kaya yang dijadikan istri, ada yang ikut bekerja ke Tanah Merah, bahkan ada pula yang ikut ke kembali ke tanah Jawa.


“Cerita dari Digul” mengisahkan lima cerita: “Rustam Digulist (D.E Manu Turoe), “Darah dan Air Mata di Boven Digul” (Oen Bo Tik), “Pandu Anak Buangan” (Abdoe ‘lXarim M.s), “Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul” (Wiranta), dan “Minggat dari Digul” (Pengarang Tanpa Nama), semuanya ditulis oleh para digulist dan eks-Digulis secara langsung.


Advertisement

Kelima cerita mewarnai kehidupan di kampung buangan tanah merah. Daerah ini seakan menjadi saksi bisu perjuangan para penghuni di dalamnya. Bahkan, mungkin juga perjuangan jihad mereka dalam pelarian dan pertahanan hidup.

Tak heran jika pada tahun 1931, Dr. Sutomo pernah mengatakan bahwa terbuang ke Digul karena suatu pendirian jauh lebih utama daripada naik haji yang hanya karena ikut-ikutan.

Tidak hanya kisah cinta Rustam dan Cindai saja, kisah Pandu Anak Buangan misalnya juga menyajikan cerita cinta Pandu yang amat menyedihkan. Pandu yang berkali-kali terkhianati cintanya oleh banyak wanita, kini sudah tidak percaya lagi pada perempuan. Bahkan, kepada Istri dan anaknya (yang baru dinikahinya dari wanita kaya-kaya), Pandu abaikan mereka hingga mati karena pulang membawa kesedihan ke tengah hutan belantara.

Atau cerita perjuangan, antara hidup dan mati, bahkan buron dari dua cerita terakhir merupakan perjuangan yang sangat menggugah imajinasi kita saat membacanya. Dengan bahasa yang menunjukan bahwa penulisnya adalah orang yang sedang belajar dan berusaha menggunakannya bahasa melayu.

Kita bisa belajar mengenai kesetiaan cinta, kesetiaan sahabat, sekaligus kesengsaraaan dan perjuangan para kaum buangan yang ditangkap dan diasingkan di tanah Digul. Unik, menarik, membawa kita pada sentuhan-sentuhan emosi masa lalu.