Ta'aruf sepertinya masih dianggap tabu di kalangan masyarakat kita. Tak heran jika budaya pacaran masih dikonsumsi oleh generasi mudanya. Beberapa dari kisah klasik itu ada yang kandas di tengah jalan dan akhirnya mengakibatkan patah hati sampai pada tahap gantung diri (hihi). Ada yang terpaksa menikah karena landing duluan, yang akhirnya pernikahan dini jadi solusi. Hanya beberapa kisah saja yang akhirnya sampai ke jenjang pernikahan setelah cukup lama memadu kasih, akhirnya habis madu tinggal empedu. Segala yang klise pada saat pacaran menjadi cobaan setelah menikah. Tak ayal, yang membuat mereka bertahan hanyalah untuk masa depan si kecil, sementara rumah-rumah mereka gersang dengan kasih sayang. Romantisme dan cinta dibiarkan membeku di freezer, tak pernah lagi menjadi kebutuhan pokok mereka. Buruk sangka disertai perasaan hampa dan tanpa pengertian dibiarkan tumbuh merambat di dinding-dinding rumah mereka. 

Kembali ke awal, tujuan utama kita menikah adalah memperoleh keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Semua itu tentu tidak mudah diraih sebab perhentiannya adalah surga. Harapan kita setelah menikah dapat memperoleh perasaan tenang dan berkecukupan, karena hanya dengan menikahlah separuh agama kita jadi sempurna. Saya bilang "Menikah susah, pacaran apalagi". Kenapa menikah susah? Karena menikah di imbali pahala yang besar dari yang Maha Kuasa. Menikah menjadikan halal segala yang haram setelahnya. Bahkan bercanda dengan pasangan yang sah juga di ganjar pahala.

Namun, tahukan kita bahwa mendayungi prahara rumah tangga bukanlah masalah sederhana? Bercandapun akan menjadi hal yang berat jika kita di lempar masalah. Ibaratnya sebuah kapal di lautan akan mudah dibolak-balik ombak dan badai jika tak mahir nahkodanya. Sebaliknya, kegiatan pacaran mejadikan pelakunya sebagai pendosa dan sia-sia.

Banyak contoh nyata berkeliaran di sekeliling kita, juga berserakan di beranda-beranda sosial media. Mulai dari yang kadarnya ringan sampai zina paling berat. Sebagai manusia yang diberi akal pikiran kita tentu mampu mengukur badan. Jika belum sanggup menikah maka menjomblo adalah solusinya, atau berpuasa seperti yang diajarkan Rasulullah. Cara lainnya fokus pada keluarga dan kegiatan-kegiatan positif di luar. Orang tua dan saudara kita juga punya hak yang sama dengan kita. Ambillah waktu paling banyak dengan mereka karena akan ada masanya waktu membawa kita pada tempat dan suasana berbeda.

Jangan mengalirkan dosa kita pada orangtua karena kealpaan mereka. Nah, jika ta'aruf tidak diperkenalkan oleh orangtua kita karena keterbatasan mereka, kita bisa memulai dari diri kita. Bagaimana kita bisa menikah jika belum mengenal tiap inci watak dan perilakunya? Hey… bumi Allah itu luas, kita bisa berjodoh dengan siapa saja. Dan Allah hanya akan memberi sejauh mana keyakinan kita. Percaya deh Allahlah yang berkuasa membolak-balikan jagad raya, apalagi urusan secuil perasaan. Dan janji Allah setiap yang baik di peruntukan bagi yang baik pula, begitu sebaliknya.

Advertisement

Yang penting mulai segalanya dengan niat yang tulus karena Allah, ikhtiar dan terus bedoa. Jika dikatakan bahwa paras penghuni surga sangat rupawan maka tak perlu sekiranya memilih karena rupa, harta, dan tahta. Perlu diingat bahwa kesempurnaan takkan pernah jadi milik kita, karena yang maha sempurna itu hanya Dzat Pencipta. Memilih karena agama tentu menjadikan kita selamat dunia dan akhirat-Nya. Jadi, ta'arufan atau pacaran, semoga pintar memilih. Allahul Mustaan.