Pertemuan ternyata bukan hal yang akan membuat kita ada, tapi hanya menjadi seperti fatamorgana dari semua perjalanan. Bahkan, kita tak pernah tahu rasa. Tentang kita berdua yang nyatanya sama-sama menyembunyikan rasa yang ada. Kita menjadi sebuah kepura-puraan yang kuat dibalik persembunyian, padahal kita memiliki rasa. Rasa yang harusnya menjadi kesepakatan kita berdua. Namun, kembali lagi pada keadaan yang membuat kita bertahan menyembunyikan segala rasa.

Terkadang aku ingin berbisik bahwa, "aku ingin bersamamu. Melanjutkan sebuah kesepakatan itu, walaupun tak pernah terjanjikan."

Kita telah bersepakat bahwa jarak dan waktu adalah cara kita untuk benar-benar menemukan kesungguhan rasa, benar-benar memastikan bahwa apakah kita sebuah takdir, dan apakah benar kita akan menjanjikan sebuah kesepakatan yang abadi, tidak hanya disini, namun disana, ditempat keabadian yang telah tersedia.

Terkadang ingin menangis, bahwa kenyataannya kau tak pernah ingin menunggu bersamaku, kemudian memilih untuk melangkah. Namun, kita telah bersepakat bahwa jika kita menjadi sebuah takdir, maka kita akan bertemu.

Kita menyadarinya, bahwa Tuhan tahu yang terbaik untuk jalan kita. Hanya saja aku sedikit belum bisa menerima, tentang kita yang tak tahu rasa. Ah, hanya takdir belum menerima kita. Kita berpura-pura untuk saling tak tahu-menahu. Lalu kita bersepakat untuk lalui semua jalan tanpa saling mengenal. Untuk menemukan sebuah kesungguhan, dan takdir kita.

Advertisement

Hidup dan berjalanlah dengan baik. Lupakan rasa yang pernah sama-sama kita sembunyikan, yang akan tetap tersembunyi dan tersimpan. kita simpan saja.