Ambigu. Kata orang sekarang, maknanya gak jelas atau bermakna ganda. Apa yang dituju dan apa yang dijalanin malah beda. Orang bahasa bilangnya taksa, alias bias.

Ambigu itu identik juga dengan ragu-ragu. Bingung. Sehingga gak bisa ditebak arahnya mau kemana. Katanya kabinet mau di-reshuffle, tapi tidak jelas juntrungannya. Katanya PSSI sarang korupsi, sampai dibuat tim transisi namun orangnya pada mundur. Jadi, mau gimana sih? Ambigu banget. Bukannya semakin jelas, malah semakin buram.

Kita sendiri juga suka ambigu. Kita sadar, katanya hukum alam. Ada siang ada malam. Ada suka ada duka. Ada benci ada cinta. Ada sedih ada gembira. Ada basah ada kering. Tapi giliran kita lagi sedih, lagi duka malah mengeluh. SeolahTuhan gak berpihak pada kita. Giliran lagi senang, gembira sampai lupa saat lagi sedih. Aneh.

Giliran hidup lagi terpuruk, kita sering mencari “kambing hitam”, siapa penyebabnya. Kalau perlu, orang lain yang disalahkan. Dianalisis sampai dalam, intinya cuma nyari siapa yang salah. Hebatnya, kita sendiri juga sadar. Keadaan terpuruk seperti apapun, kalo kita gak bangkit, gak move on maka kita juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Iya kan? Coba deh renungin kalimat itu.

Lha, terus emang kalo gue ambigu kenapa?

Advertisement

Ya gak kenapa-kenapa. Namanya juga ambigu. Sesuatu yang gak jelas, ragu-ragu. Orang lain aja pada ambigu, kenapa kita gak? Iya gak.

Coba lihat, berapa banyak orang bilang cinta pada pacarnya, pada pasangannya, pada anaknya? Tapi sayang perilakunya tidak cinta. Terlalu mudah menyakiti, terlalu mudah menyesali. Ya, orang ambigu emang suka gitu. Lain di mulut, lain di hati, dan lain pula di perbuatan.

Sebut saja orang tua yang menelantarkan anaknya. Katanya “cinta” pada anak. Tapi ditelantarin, semena-mena pada anak. Lalu berdalih, itu cara kita mendidik anak. Cinta pada anak, tapi perbuatannya tidak cinta. Ambigu banget.

Jadi, apakah orang tua benar-benar cinta pada anaknya? Ahhh sudahlah, cinta memang ambigu.

Ada lagi yang bilang cinta, tapi bentar-bentar berantem, bentar-bentar menyakiti. Sampai ada polisi muda yang “menembak kepala sendiri” alias bunuh diri akibat bertengkar dengan pacarnya. Sekali lagi, cinta itu ambigu.

Kemarin, hari ini, hingga esok. Di televisi, semakin banyak “tokoh” yang katanya akademisi, praktisi, atau politisi. Tapi justru sibuk menjelek-jelekkan orang lain, mengumbar aib orang yang bukan kelompoknya. Bikin opini publik yang membingungkan, bikin gaduh. Masalahnya jadi makin ambigu.

Lagi-lagi kita juga begitu. Suka minta tolong dan menuntut rasa nyaman di saat tersakiti. Tapi di lain waktu, kita malah menyakiti orang lain. Berapa banyak, orang yang hari ini tertawa lepas di siang hari, tapi menangis di malam hari. Ramai dari pagi sampai sore, tapi kesepian di malam hari. Dan bilang suka padahal tidak suka. Sungguh, ambigu itu ada di dekat kita.

Seperti kata anak muda. Waktu pacaran bilang,

Mungkin gue memang dipertemukan untuk masa depan.

Entah karena apa, begitu putus bilang lagi,

Gue udah berusaha, tapi emang gak jodoh mau diapain.

Itu anak muda, baru pacaran saja ambigunya sudah gak kepalang.

Jadi, bagaimana harusnya biar gak ambigu?

Ya, kita perlu hati-hati saja. Ambigu tidak boleh berkepanjangan. Sudah sukses, punya pekerjaan, punya kendaraan, uang cukup. Sayang kalau ditanya tentang hidup, jawabnya tidak bahagia. Itu namanya ambigu juga. Emang bahagia itu apa sih? Ya jawaban itu yang bikin ambigu.

Sadar atau tidak sadar, kita butuh untuk menghindar dari sikap ambigu. Agar hidup sekitar kita tidak lebih buruk dari yang sekarang. Maka, kembalilah pada sikap konsisten dimana pun kita berada. Jangan sampai warna "putih" dibilang "hitam", atau sebaliknya. Karena hidup sama sekali tidak pernah ambigu.

Menjauhlah dari sikap ambigu. Agar kita tidak membenarkan kata-kata,

Kenapa kita hidup kalau pada akhirnya mati?

Kenapa kita ada padahal akhirnya juga akan binasa?

Pertanyaan itu, sungguh terlalu ambigu…