Saf. Sore ini hujan. Aku mulai merasa bosan melihatnya.

Hujan yang datang di hari-hariku, hanya mengundang kenangan saat-saat ku bersamamu. Sering kali kita menghabiskan waktu dijalanan, hanya untuk dikejar-kejar hujan. Tak bertujuan dan tak jelas arah.

Tapi aku menikmati semua itu, menikmati saat-saat bersamamu, menikmati senyummu, menikmati tawa lepasmu, kadang juga menikmati kekonyolan-kekonyolanmu -tepatnya, kekonyolan kita.

Aku sadar, waktu yang ku habiskan untuk mengenalmu belum banyak. Tapi aku pun menyadari, hari-hari yang kulalui bersamamu telah mengendapkan kenangan-kenangan di hatiku. Hingga rasa sayangku pada mu masih tersisa sampai saat ini, sampai aku sadar betul kalau ternyata aku benar-benar menyayangimu.

Saf. Meskipun teka-teki kehidupan kita akhirnya membuat kita harus melewati jalan yang berbeda, tapi aku tetap berharap padamu, tolong sisakan sedikit rasa sayangmu untukku. Agar, suatu saat jika kita bertemu lagi, aku masih merasa bahwa aku memilikimu, walau yang ku miliki hanya sedikit rasa sayangmu untukku.

Advertisement

Itu sudah terlalu cukup bagiku. Aku sudah merasa legowo jika tak jadi menikahimu. Tapi entah kenapa, aku mulai merasa takut untuk kehilanganmu. Takut kehilangan rasa sayangmu. Takut tak lagi melihat senyummu. Takut tak bisa merasakan canda-tawamu. Takut tak punya kesempatan lagi untuk mendengar ceritamu, mendengar tangisanmu, dan aku paling takut jika kehilangan cintamu yang belum sempurna untukku.  Sampai-sampai, aku selalu menyempatkan untuk menyebut namamu di setiap do'a selamat pagiku, berharap akan keselamatanmu.

Aku tahu ini salah. Semakin sering ku menyebutmu dalam doaku, maka akan semakin sulit usahaku untuk melepasmu. Tapi, aku tak ingin kenanganku bersamamu memudar, apalagi menghilang. Saf. Saf. Walaupun peluang kita untuk bisa hidup bersama hanya sedikit, tapi aku akan selalu berdo'a, semoga, kelak Tuhan akan mempertemukan kita di kehidupan yang ke-dua.

Tolong izinkan bayang-bayangmu menemani jalan hidupku, menjadi penyemangat disetiap langkahku, serta pelengkap dalam setiap do'a-do'aku. Aku masih menaruh harapan pada ketetapan waktu. Aku yakin suatu saat "waktu" akan mempertemukan kita dalam ikatan yang berbeda, sebuah ikatan yang lebih indah dari sekedar ikatan pernikahan. Yaitu sebuah ikatan yang akan menggambarkan tentang kesejatian cinta, cinta yang abadi, cinta yang tak hanya dibatasi dengan ikatan pernikahan duniawi, tapi sebuah ikatan cinta yang suci, abadi, sejati, hingga di kehidupan yang ke-dua nanti

Ku tunggu kau, di kehidupan ke dua.

Surat Ku, Untuk Safitri